
SEMARANG (Jatengdaily.com) — Puluhan mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Semarang mendatangi Mapolda Jawa Tengah, Rabu 19 November 2025, menuntut kejelasan atas kematian salah satu dosen mereka, D atau akrab disapa Levi (35).
Dengan mengenakan almamater biru dongker dan mengangkat poster besar bertuliskan “Justice for Levi”, mereka berjalan perlahan dari halaman depan Mapolda menuju Gedung Borobudur, tempat audiensi digelar.
Di ruang audiensi, suasana hening menyelimuti ketika foto mendiang Levi dipajang di meja hadapan jajaran pejabat Polda Jateng. Para mahasiswa duduk berhadapan langsung dengan pihak kepolisian, mencoba menahan emosi sembari menyampaikan satu per satu kegelisahan mereka.
Perwakilan mahasiswa, Antonius Fransiscus Polu, membuka pembahasan dengan menyoroti sejumlah kejanggalan terkait kematian Levi di sebuah hotel atau kos-hotel (kostel) di kawasan Gajahmungkur, Kota Semarang. Saat ditemukan, Levi diduga berada dalam satu kamar dengan seorang pria yang merupakan saksi kunci, AKBP B.
“Ada kejanggalan kematiannya. Kami dengar Bu Levi punya riwayat penyakit, tapi di TKP beliau ditemukan dalam posisi tanpa busana. Hubungan antara Bu Levi dan saksi kunci ini juga kami belum tahu,” ujar Fransiscus.
Ia melanjutkan, selama ini Levi hanya diketahui memiliki riwayat darah tinggi. Namun informasi yang diterima mahasiswa justru semakin membingungkan. “Terkait dugaan aktivitas berlebih yang menyebabkan jantungnya pecah, itu juga tidak dijelaskan. Yang bikin janggal, posisinya tergeletak di lantai dan bugil. Jadi kami benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi,” katanya.
Para mahasiswa juga mempertanyakan jeda waktu antara saat saksi mengetahui Levi tergeletak hingga laporan disampaikan ke Babinsa. Selain itu, mereka menyoroti informasi bahwa Levi dan saksi kunci tercantum dalam Kartu Keluarga yang sama.
“Jeda waktunya lama. Lalu soal KK juga satu alamat. Kita sampai sekarang nggak tahu hubungannya apa,” tambah Fransiscus.
Bagi mahasiswa, Levi dikenal sebagai dosen ramah yang jarang menunjukkan masalah pribadi. Karena itu, kabar kematiannya yang dinilai tak wajar membuat mereka terguncang. Mereka menuntut Polda Jateng membuka proses penyidikan secara transparan dan tuntas.
“Tuntutan kami lebih ke transparansi kronologi. Teman-teman Untag masih minim fakta. Kalau tidak ada kejelasan, kami siap melakukan aksi lanjutan,” tegasnya.
Audiensi itu dihadiri Kabid Humas Polda Jateng Kombes Artanto, Dirreskrimum Polda Jateng, serta Kabid Propam Kombes Saiful Anwar. Artanto menegaskan penyelidikan masih berlangsung dan membutuhkan waktu.
“Kita masih proses pendalaman, dan itu butuh waktu. Semua langkah penyelidikan dilakukan sesuai aturan. Tidak bisa ujug-ujug,” kata Artanto di hadapan mahasiswa.
Ia memastikan penyidik melibatkan berbagai pihak untuk menelusuri penyebab kematian Levi.
“Kita tunggu hasil autopsi, pemeriksaan forensik HP, hingga pendapat ahli pidana dan sosiologi. Semua berproses. Teman-teman mahasiswa silakan pantau dan beri masukan,” ujarnya. St