
SEMARANG (Jatengdaily.com) — Suasana penuh kehormatan dan kehangatan menyelimuti Pondok Pesantren Life Skill Daarun Najaah pada Sabtu (15/11/2025). Pada hari itu, ratusan jamaah, ulama, umara, alumni, dan masyarakat sekitar berkumpul dalam Puncak Haul dan Haflah ke-13, menandai berakhirnya rangkaian kegiatan yang sejak awal bulan digelar dengan penuh semangat dan kebersamaan.
Sejak pagi, area pondok telah dipadati para tamu yang datang dari berbagai daerah. Wajah-wajah hangat menyapa satu sama lain, sementara para santri tampak sibuk menyambut dan mengarahkan tamu dengan penuh sopan. Nuansa religius serta semangat kekeluargaan membuat acara puncak Haul dan Haflah terasa istimewa, tak sekadar agenda tahunan, melainkan ruang memperkuat hubungan batin antara pesantren dan masyarakat.
Pembukaan Penuh Khidmat
Acara dimulai dengan pembacaan Surah Al-Fatihah oleh MC, dilanjutkan lantunan ayat suci Al-Qur’an dan pembacaan shalawat thariqah oleh Kyai Muhammad Munawwir, S.Ag. Merdu dan lembutnya bacaan tersebut seolah mengalir memenuhi ruangan, menghadirkan suasana tenang dan menyentuh hati.
Setelah itu, seluruh hadirin berdiri bersama menyanyikan Indonesia Raya, Ya Lal Wathan, dan Mars Pondok—sebuah simbol harmoni antara cinta tanah air, kecintaan kepada tradisi, dan kebanggaan terhadap lembaga pendidikan yang telah melahirkan banyak generasi.
Apresiasi untuk Para Juara
Sebagai bagian dari acara, panitia memberikan penghargaan kepada para pemenang perlombaan yang sebelumnya diselenggarakan dalam rangka Haul dan Haflah. Sorak bahagia dan tepuk tangan terdengar ketika para santri dan peserta lain maju menerima hadiah. Momen sederhana namun sarat makna—menjadi penyemangat bagi mereka untuk terus mengembangkan potensi diri.
Sambutan Pengasuh: Merawat Warisan Guru dan Orang Tua
Pengasuh Pesantren, Prof. Dr. KH. Ahmad Izzuddin, M.Ag., mengawali sesi sambutan. Dengan suara teduh, beliau menyampaikan terima kasih atas kehadiran para ulama, tokoh masyarakat, pejabat, alumni, dan seluruh warga sekitar.
Beliau menjelaskan bahwa rangkaian Haul dan Haflah ini merupakan bagian dari penghormatan kepada para orang tua dan guru yang telah menjadi pilar perjalanan hidup beliau:
-
KH. Maksum Rosyidi (haul ke-14)
-
Ny. Hj. Siti Masriah Hambali (haul ke-18)
-
KH. Sirodj Chudlori (haul ke-7)
-
Ny. Hj. Zahratul Mufidah (haul ke-5)
Dengan penuh harap, beliau mengajak seluruh hadirin mendoakan agar para pendahulu mendapat tempat terbaik di sisi Allah, sekaligus memohon keberkahan untuk keluarga beliau, para santri, dan semua yang hadir agar dimudahkan dalam meneladani perjuangan orang tua, memakmurkan ibadah, dan meraih husnul khatimah.
Haul sebagai Wujud Birrul Walidain
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Sekretaris MUI Jawa Tengah, Dr. KH. Agus Fathudin Yusuf, yang memberikan apresiasi tinggi kepada penyelenggara. Beliau menegaskan bahwa Haul yang digagas KH. Ahmad Izzuddin merupakan cerminan nyata birrul walidain—bakti tulus seorang anak kepada orang tuanya. Menurutnya, menjaga warisan spiritual seperti ini adalah bagian dari upaya merawat tradisi dan adab yang telah diajarkan para ulama.
Mauidzah Hasanah: Syukur yang Menghidupkan
Memasuki acara inti, Habib Umar Al-Muthohar menyampaikan mauidzah hasanah. Dengan gaya khasnya yang lembut dan menyentuh, ia mengajak jamaah memahami makna syukur yang sesungguhnya.
“Syukur kepada Allah dilakukan dengan menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sedangkan syukur kepada orang tua diwujudkan dengan berbakti dan mendoakan keduanya,” tutur Habib Umar.
Beliau juga menegaskan bahwa Haul ini bukan sekadar seremonial, melainkan wujud syukur KH. Ahmad Izzuddin atas kasih sayang dan didikan kedua orang tuanya.
Penutup yang Penuh Doa
Acara puncak Haul dan Haflah ditutup dengan doa bersama yang dipimpin sejumlah kiai dan masyayikh, di antaranya KH. Ahmad Hadlor Ihsan, KH. Said Al Masyhad, KH. Haris Fithon, dan KH. Syaiful Muhtadien. Doa-doa itu mengalun khusyuk, memenuhi ruangan dengan harapan dan keberkahan.
Momentum Memperkuat Nilai dan Tradisi
Puncak Haul dan Haflah ke-13 ini bukan sekadar penutup rangkaian kegiatan—ia menjadi pengingat tentang pentingnya ilmu, ketakwaan, dan pengabdian kepada orang tua serta masyarakat. Warisan nilai-nilai itu terus dijaga dan diwariskan oleh Pondok Pesantren Life Skill Daarun Najaah, membentuk generasi muda yang berakhlak, berilmu, dan siap berkontribusi bagi umat. Sunarto