Merawat Warisan Wali, PPMA se-Indonesia Hadiri Haul Agung Sultan Fattah di Demak

Bupati Demak dr Hj Eisti'anah saat menyampaikan sambutan selamat datang kepada PPMA se-Indonesia yang jadir dalam rangka Haul Agung Sultan Fattah Sayyidin Panotogomo. Foto : sari jati

DEMAK (Jatengdaily.com)— Haul Agung Kanjeng Sultan Raden Fattah Al Akbar Sayyidin Panotogomo ke-523 Tahun 1447 H/2025 dirangkai silaturahmi Perhimpunan Pemangku Makam Aulia (PPMA) se-Indonesia, Rabu (03/12/2025). Acara yang berlangsung di Pendapa Satya Bhakti Praja Kabupaten Demak itu mengangkat tema “Merawat Nurani Dengan Menjaga Tradisi dan Menapak Jejak Para Wali.”

Ketua Takmir Masjid Agung Demak, Dr KH Nur Fawzi menuturkan, Haul Sultan Fattah memiliki nilai sejarah yang wajib dijaga. Menurutnya, haul ini selayaknya diperingati oleh tiga kalangan. “Yakni keturunan langsung Sultan Fattah, para raja berikutnya termasuk Bupati Demak, dan masyarakat yang merasakan dampak perjuangan beliau dalam syiar Islam,” jelasnya.

Terlebih walau garis keturunan langsung semakin sulit dilacak sejak masa perpindahan kekuasaan ke Kerajaan Pajang, semangat menjaga jejak para wali tetap harus dijunjung.

Haul tahun ini menghadirkan 21 rangkaian kegiatan sejak 23 November hingga 3 Desember 2025. Salah satu yang paling menyita perhatian adalah Pawai Panjang Jimat yang diikuti 225 peserta khitan tabarukhan, seluruhnya dibiayai oleh Pemerintah Kabupaten Demak.

Setelah itu dilaksanakan pula prosesi ganti slambu makam Sultan Fattah dan raja-raja Demak. Sedangkan puncak acara diisi Pengajian Akbar di Alun-alun Demak. Untuk tahun 2026, panitia berencana menambahkan agenda Festival Santri sebagai penyemarak Haul Agung.

Ketua PPMA Indonesia, Drs KH M Zaenuri MSi, memberikan apresiasi kepada seluruh panitia dan Pemkab Demak atas kelancaran pelaksanaan haul. Ia menilai antusiasme masyarakat menunjukkan bahwa Sultan Fattah meninggalkan warisan besar yang terus dijaga hingga kini.

“Ada dua jenis warisan para aulia yang harus dirawat. Warisan kasat mata seperti Masjid Agung Demak dan makam Sultan Fattah, serta warisan tak kasat mata berupa nilai budaya dan sistem sosial yang menjadi pijakan dakwah Islam penuh toleransi,” paparnya.

PPMA, lanjut Zaenuri, berkomitmen menjadi pelestari dan pengembang situs serta tradisi warisan para wali. Ia mendorong sinergi kuat antara penjaga makam, pemda, dan Balai Pelestarian Cagar Budaya agar pelestarian cagar sejarah dilakukan sesuai regulasi.

“Tujuannya jelas, masyarakat dan para peziarah bisa merasakan manfaat dan keberkahan,” ungkapnya. Saat ini, PPMA mencatat ada 333 makam aulia di seluruh Indonesia yang perlu terus dijaga.

Bupati Demak, dr Hj Eisti’anah SE, menyampaikan rasa bangga atas kehadiran PPMA dari berbagai daerah ke Kota Wali. Menurutnya, haul ini menjadi momentum memperkuat tanggung jawab generasi masa kini dalam meneruskan jejak Sultan Fattah sebagai raja Islam pertama di Pulau Jawa.

“Tidak hanya kejayaan daerah, tapi juga kesejahteraan masyarakat yang harus diwujudkan. Ini bentuk menjaga amanah sejarah,” ujarnya.

Bupati juga berharap pertemuan ini membawa keberkahan bagi seluruh masyarakat Indonesia. “Semoga kegiatan ini menjadi ladang berkah, memperkuat semangat ngalap berkah serta melestarikan warisan leluhur. Kami mohon maaf bila dalam penyambutan masih ada kekurangan,” tutupnya. Rie-she

Share This Article
Exit mobile version