TBM Jingga Keblukan Masuk Daftar Penerima Bantuan Seribu Buku dari Perpusnas

3 Min Read
Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Jingga yang berdiri pada 1 Agustus 2024 lalu, kini masuk dalam daftar antrean calon penerima bantuan seribu judul buku dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas).Foto:dok

TEMANGGUNG (Jatengdaily.com) – Harapan baru bagi geliat literasi di Desa Keblukan, Kecamatan Kaloran, Temanggung, semakin nyata.

Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Jingga yang berdiri pada 1 Agustus 2024 lalu, kini masuk dalam daftar antrean calon penerima bantuan seribu judul buku dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas).

Selain itu, TBM ini juga telah mengantongi sertifikat resmi dari Perpusnas, sebuah pengakuan atas kiprahnya dalam menumbuhkan budaya membaca di pelosok desa.

Kabar gembira ini disampaikan Kepala TBM Jingga, Wiwik Hartati, saat menerima kunjungan kerja Camat Kaloran, Juli Riastiana Trisnamurti, S.Sos., MM., di sekretariat TBM, Selasa (23/9).

Kehadiran camat tersebut sekaligus menjadi bukti dukungan pemerintah kecamatan terhadap gerakan literasi yang digerakkan warga.

“Kami sangat mengapresiasi dan akan mendukung penuh semua program kegiatan TBM Jingga Desa Keblukan ini,” tegas Juli Riastiana.

Ia berharap keberadaan TBM dapat menjadi pusat pembelajaran yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Menurutnya, pemerintah kecamatan juga siap berkolaborasi dengan perpustakaan desa agar literasi semakin berkembang di wilayah Kaloran.

Sambutan positif juga datang dari Kepala Desa Keblukan, Cholik Pujianto. Ia mengaku bangga dan berterima kasih kepada para pengurus TBM Jingga yang sejak setahun terakhir aktif menggerakkan budaya baca di desanya.

“Pemerintah desa akan mendukung keberlangsungan TBM, baik secara moral maupun spiritual, karena literasi adalah jalan untuk memajukan masyarakat,” ujarnya.

TBM Jingga sendiri digerakkan oleh sejumlah relawan literasi. Selain Wiwik Hartati sebagai kepala perpustakaan, ada Gita Safira yang mengurus pelayanan, Elyawati di bidang humas, serta Sarto Slamet Raharjo yang bertanggung jawab pada sarana perpustakaan.

Bagi Wiwik, mendirikan TBM bukan sekadar menghadirkan rak buku di tengah desa. Lebih dari itu, ia ingin menjadikan TBM sebagai pusat belajar masyarakat yang menyediakan bacaan sesuai minat, kebutuhan, sekaligus tantangan zaman.

“Saya tergerak mendirikan TBM di desa kami demi memajukan masyarakat melalui kegemaran membaca dan menulis,” ungkap Wiwik, yang juga dikenal aktif di berbagai komunitas literasi di Temanggung.

Dengan dukungan pemerintah dan masyarakat, TBM Jingga diharapkan terus tumbuh menjadi ruang belajar bersama. Di tempat sederhana itu, asa untuk mencetak generasi desa yang gemar membaca dan menulis perlahan mulai terbangun. St

Share This Article
Exit mobile version