SEMARANG (Jatengdaily.com) — Upaya memperkuat moralitas generasi muda kembali menjadi perhatian serius kalangan pendidikan dan keagamaan.
Isu tersebut mengemuka dalam pelantikan Pengurus Pimpinan Wilayah (PW) Perhimpunan Remaja Masjid (Prima) Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jawa Tengah masa khidmat 2025–2029 yang berlangsung di Wisma Perdamaian Semarang, Jumat (5/12/2025).
Tidak hanya rangkaian pelantikan, kegiatan ini juga dirangkai dengan seminar nasional bertema “Revitalisasi Moralitas dalam Dunia Pendidikan: Akar Masalah dan Strategi.” Seminar tersebut menghadirkan tiga narasumber dari berbagai bidang, yaitu Senator DPD RI Jawa Tengah Dr. H. Abdul Kholik, SH., M.Si., Ketua DMI Jawa Tengah Prof. Dr. KH Ahmad Rofiq, MA., serta Ketua Dewan Pendidikan Jawa Tengah Prof. Dr. Rustono, M.Hum.
Peran Masjid sebagai Pusat Pembinaan Moral
Senator DPD RI Abdul Kholik menegaskan bahwa keberadaan Prima DMI sangat penting dalam menghidupkan kembali fungsi masjid sebagai pusat pendidikan karakter, ruang dakwah, sekaligus wadah pemberdayaan remaja.
“Saya berharap Prima DMI dapat memaksimalkan peran masjid sebagai ruang pembinaan moral. DPD siap berkolaborasi untuk memperkuat fungsi pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan,” ujarnya.
Ia menilai penguatan moralitas tidak bisa hanya dibebankan pada sekolah formal. Remaja perlu memiliki ruang belajar alternatif di luar jam sekolah, seperti pesantren liburan, kelas karakter, atau kegiatan edukatif berbasis masjid lainnya.
Abdul Kholik juga menyoroti perlunya sistem pendidikan yang lebih mendukung pembentukan karakter. Ia bahkan mendukung wacana penerapan kembali sekolah enam hari di Jawa Tengah. Menurutnya, konsep sekolah lima hari lebih menyerupai pola kerja ketimbang pendidikan, sehingga proses pembelajaran menjadi terlalu padat.
“Dalam sistem enam hari, siswa memiliki waktu lebih panjang untuk menyerap pelajaran dan tetap punya ruang untuk belajar moral, karakter, dan agama di luar sekolah,” jelasnya.
Ia juga mendorong Pemprov Jateng menggandeng berbagai organisasi keagamaan lintas iman untuk memperkuat program pembinaan karakter bagi siswa.
Remaja Masjid sebagai Motor Revitalisasi Akhlak
Ketua DMI Jawa Tengah, Prof. KH Ahmad Rofiq, menambahkan bahwa remaja masjid harus menjadi garda terdepan dalam gerakan revitalisasi moralitas, baik di sekolah maupun lingkungan masyarakat.
Menurutnya, masjid tidak boleh hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat pembinaan akhlak dan peradaban.
“Celoteh anak-anak di masjid adalah tanda kehidupan. Jika remaja tidak lagi hadir di masjid, kita kehilangan satu generasi,” tegasnya.
Prof Rofiq menilai pembinaan moral tidak cukup hanya mengandalkan keluarga atau sekolah. Lingkungan sosial dan ruang digital juga harus ikut mengambil peran, agar remaja tidak salah arah dalam proses tumbuh kembang mereka.
Ia turut menyoroti berbagai kasus penyimpangan moral yang mencuat di dunia pendidikan, termasuk kasus di Demak yang menimpa seorang guru bergaji rendah namun masih dibebani permintaan kompensasi tinggi oleh oknum tertentu. Ia berharap pemerintah, terutama Kementerian Agama, segera melakukan langkah konkret melalui MoU untuk memperkuat perlindungan bagi guru dan lembaga pendidikan keagamaan.
DMI juga mengajak media berperan aktif dalam menyosialisasikan program pembinaan remaja, sekaligus mendorong masjid membuka ruang ramah anak—termasuk penyediaan fasilitas seperti wifi yang tetap diawasi.
Menutup paparannya, Prof Rofiq menyambut baik wacana sekolah enam hari sebagai langkah memperkuat pembinaan karakter.
“Budaya kerja tidak bisa disamakan dengan budaya sekolah. Pendidikan itu harus bertahap, tidak dipaksakan. Dengan enam hari sekolah, pembinaan karakter bisa lebih optimal,” ujarnya. St


