Workshop Batik Ceria di Totebagku: Mengukir Warna, Menanam Budaya Sejak Dini di Desa Pungsari

Mahasiswa KKN- Undip gelar Workshop Batik Ceria di Totebagku. Foto: dok

SRAGEN (Jatengdaily.com)- Taman Batik Gading Desa Pungsari, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen tampak semarak oleh tawa riang dan semangat kreativitas puluhan anak-anak sekolah dasar yang mengikuti kegiatan Workshop Batik Ceria di Totebagku.

Kegiatan ini diinisiasi oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) 94 Universitas Diponegoro Semarang Tahun Akademik 2024/2025, sebagai salah satu program sosial kemasyarakatan yang menyasar generasi muda dalam pelestarian budaya batik khas Desa Pungsari.

Workshop ini menjadi bagian dari tema besar “Pelestarian Budaya Batik Berbasis Edukasi, Digitalisasi, dan Kesehatan Lingkungan” yang diusung oleh Kelompok 1 KKN-T 94 Undip.

Program ini berangkat dari kekhawatiran atas makin pudarnya minat generasi muda terhadap batik, padahal Desa Pungsari sendiri merupakan salah satu sentra industri batik terpenting di wilayah Kabupaten Sragen.

Di tengah tantangan modernisasi dan arus budaya luar, mahasiswa KKN mencoba menjawab tantangan ini dengan pendekatan edukatif yang atraktif dan kontekstual bagi anak-anak desa.

Berbeda dari metode penyuluhan konvensional, Workshop Batik Ceria di Totebagku menghadirkan suasana yang santai dan menyenangkan. Anak-anak diberikan totebag polos, cat tekstil, dan kuas, lalu dipandu untuk menggambar serta mewarnai batik. Proses ini tidak hanya mengasah imajinasi dan motorik halus anak-anak, tetapi juga menjadi media pembelajaran visual tentang filosofi dan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam batik.

“Kami ingin anak-anak menyentuh batik, mencintai batik, dan menyadari bahwa batik bukan hanya milik masa lalu, tetapi milik mereka juga. Oleh karena itu, kami memilih metode yang menyenangkan, tidak kaku, dan bisa dinikmati anak-anak dengan sepenuh hati,” papar Yehezkiel Lucky Ririhena, Mahasiswa Prodi Administrasi Publik FISIP Undip sekaligus koordinator program.

Dalam kegiatan ini, anak-anak dikenalkan pada motif batik lokal serta filosofi yang menyertainya. Mereka juga diajak berdiskusi tentang siapa saja yang membuat batik di desanya dan mengapa penting untuk menjaga tradisi ini tetap hidup.

Kegiatan yang digelar selama satu hari penuh ini disusun secara sistematis oleh tim KKN Undip. Divisi acara merancang jalannya kegiatan melalui format permainan dengan membagi peserta menjadi beberapa kelompok dan didampingi oleh kakak panitia sebagai penanggung jawab, adanya edukasi interaktif, dan praktik langsung membatik di totebag. Divisi perlengkapan memastikan alat dan bahan tersedia lengkap, sedangkan divisi konsumsi menyediakan makanan ringan dan minuman untuk peserta. Sementara itu, divisi humas turut aktif membangun komunikasi dengan pihak pkk dan perangkat desa, sekaligus mendokumentasikan jalannya kegiatan.

“Antusiasme anak-anak sungguh luar biasa. Bahkan beberapa anak sampai membawa pulang totebag-nya dengan bangga dan berjanji akan memakainya ke sekolah. Ini menunjukkan bahwa kegiatan seperti ini memiliki dampak emosional yang kuat bagi mereka,” ungkap Vania Talitha, mahasiswa Prodi Manajemen FEB Undip yang bertugas sebagai penyusun rundown acara.

Kegiatan ini juga mendapat dukungan penuh dari warga Desa Pungsari. “Kami mengapresiasi inisiatif mahasiswa KKN yang mampu menggabungkan pelestarian budaya dengan metode edukasi kreatif. Harapannya kegiatan ini bisa menjadi inspirasi bagi program-program pembinaan generasi muda kedepan,” tutur salah satu orang tua dari peserta workshop yang turut hadir dalam kegiatan.

Setelah sukses menyelenggarakan Workshop Batik Ceria di Totebagku, Tim KKN-T 94 Universitas Diponegoro Kelompok 1 Desa Pungsari kembali menghadirkan momen spesial
dengan menggelar kegiatan Awarding Day yang berlangsung meriah dan penuh antusiasme pada Minggu pagi, 13 Juli 2025, di Balai Desa Pungsari.

Acara ini diselenggarakan sebagai bentuk apresiasi kepada para pesertaworkshop, khususnya anak-anak sekolah dasar yang telah menampilkan karya terbaik mereka dalam kegiatan membatik di atas totebag. Setelah melalui proses penilaian oleh panitia yang terdiri dari mahasiswa dan perwakilan masyarakat, diumumkan tiga peserta terbaik dengan kreativitas dan ekspresi visual paling menonjol.

Di tengah riuh tepuk tangan para peserta, diumumkan bahwa Kenzo berhasil meraih Juara 1 dengan motif batik kontemporer bertema alam, seperti motif batik Kawung atau batik Mega Mendung yang digambarnya dengan komposisi warna berani dan harmonis. Yesi meraih Juara 2 dengan karya yang mengangkat motif bunga sebagai simbol kebebasan dan harapan, sementara Andara menempati Juara 3 dengan motif “Kembang Surya” atau “Bunga Matahari Ceria”, yang mengandung pesan tentang harapan, kebahagiaan, dan hubungan harmonis dengan alam.

“Senang banget, aku gak nyangka bisa menang. Tadi aku gambar matahari yang bersinar cerah di atas pegunungan atau awan,” ujar Kenzo sambil tersenyum malu-malu saat menerima hadiah berupa perlengkapan sekolah, dan sertifikat dari panitia.

Kegiatan awarding ini menjadi penutup manis dari rangkaian program edukatif “Workshop Batik Ceria di Totebagku” sekaligus menjadi penguat komitmen mahasiswa KKN untuk terus mendorong pelestarian budaya batik di Desa Pungsari. Melalui metode edukasi berbasis pengalaman dan pendekatan yang ramah anak, tim KKN berhasil menjembatani antara tradisi dan generasi.

“Kami percaya bahwa pelestarian budaya tidak akan berhasil tanpa keterlibatan generasi muda. Maka, tugas kita adalah menciptakan ruang-ruang kreatif yang membuat anak-anak merasa bahwa budaya adalah milik mereka, bukan sekadar warisan,” ungkap Aidi Sulthan Nazira, Ketua Kelompok 1 KKN-T 94 Undip.

Dengan berakhirnya kegiatan ini, Tim KKN-T 94 Undip berharap nilai-nilai yang telah ditanamkan dapat tumbuh dalam benak anak-anak Desa Pungsari. Sebab dari tangan-tangan kecil mereka yang hari ini menghiasi totebag dengan warna-warna ceria akan lahir pembatik- pembatik masa depan yang menjaga nyala budaya tetap terang. she

Share This Article
Exit mobile version