28 Tim PKK Adu Kreasi Pangan Lokal di Demak, Tak Sekadar Enak tapi Harus Bergizi

Bupati Demak dr. Hj. Eisti’anah, S.E. didampingi Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Demak H. Agus Herawan. Foto: Sari Jati.

DEMAK (Jatengdaily.com)– Bahan pangan lokal di Demak ternyata bisa disulap menjadi beragam menu menarik tanpa harus mengandalkan beras sebagai bahan utama. Sebanyak 28 tim TP PKK desa menunjukkan kreativitasnya dalam Lomba Kreasi Olahan Pangan Lokal Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman (B2SA) tingkat Kabupaten Demak 2026.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Demak Agus Herawan mengatakan, lomba tersebut tidak sekadar menjadi ajang untuk melihat siapa yang paling kreatif mengolah makanan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi sarana untuk mengajak masyarakat memperluas pilihan pangan sekaligus memanfaatkan bahan-bahan lokal yang tersedia di lingkungan sekitar.

“Kegiatan lomba ini bukan sekadar ajang untuk berkompetisi dan menunjukkan kreativitas dalam mengolah bahan pangan. Lebih dari itu, ini merupakan salah satu upaya untuk mendorong keanekaragaman konsumsi pangan masyarakat dan meningkatkan pemanfaatan pangan lokal,” ujar Agus.

Menurutnya, Demak memiliki potensi pangan yang cukup beragam, mulai dari sumber karbohidrat, protein hewani dan nabati, sayuran, buah-buahan hingga berbagai komoditas lainnya. Potensi tersebut perlu diolah menjadi makanan yang bukan hanya menarik dari sisi tampilan dan rasa, tetapi juga bergizi, aman, terjangkau, dan mudah dibuat keluarga.

Lomba yang digelar pada Kamis (17/9/2026) itu diikuti 14 TP PKK kecamatan. Masing-masing kecamatan mengirimkan dua TP PKK desa binaan sehingga total terdapat 28 tim yang berkompetisi.

Agus menilai jumlah peserta tersebut menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat dalam mengembangkan pangan lokal.

Dorongan diversifikasi pangan tersebut sejalan dengan kebijakan Bupati Demak dr. Hj. Eisti’anah, S.E. Ia mengajak masyarakat melihat sumber pangan secara lebih luas dan tidak menjadikan beras sebagai satu-satunya pilihan untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat.

“Ini sebagai upaya agar bahan pangan tidak hanya beras saja, tetapi ada berbagai bahan baku lainnya yang ada di sekitar kita,” kata Eisti’anah saat menghadiri kegiatan tersebut.

Bupati juga menyoroti potensi sorgum yang mulai dikembangkan di Demak. Menurutnya, komoditas tersebut tidak harus berhenti sebagai bahan pangan yang dikonsumsi langsung, tetapi dapat diolah menjadi tepung dan kemudian dikembangkan menjadi berbagai produk makanan.

“Produk-produk dari sorgum bukan hanya dikonsumsi langsung, tetapi diupayakan menjadi tepung yang bisa diolah menjadi berbagai jenis makanan. Pemasarannya tidak hanya di Demak, tetapi bisa sampai ke luar daerah,” ujarnya.

Bagi Pemkab Demak, pengembangan pangan lokal tidak hanya berkaitan dengan menu makanan keluarga. Jika diolah dan dikemas dengan baik, komoditas lokal juga berpeluang membuka pasar baru dan meningkatkan nilai ekonomi hasil pertanian.

Agus menambahkan, penerapan pola makan B2SA juga diharapkan memberi dampak lebih luas bagi keluarga. Menu yang beragam dan bergizi dinilai dapat mendukung tumbuh kembang anak, meningkatkan kesehatan keluarga, sekaligus menjadi bagian dari upaya pencegahan stunting.

“Dengan demikian, kegiatan ini dapat memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas konsumsi pangan masyarakat, mendukung tumbuh kembang anak, meningkatkan kesehatan keluarga, serta turut mendukung upaya pencegahan stunting dan peningkatan kualitas sumber daya manusia di Kabupaten Demak,” tandas Agus. rie-she

Share This Article
error: Content is protected !!
Exit mobile version