42 Mahasiswa USM Ikuti KKN Tematik VII di Kelurahan Gedawang

Penerjunan mahasiswa KKN yang dilakukan di Kelurahan Gedawang, pada 6 Oktober 2026 itu dihadiri Lurah Gedawang Sri Suwanti, S.STP., yang mewakili Plt. Camat Banyumanik, Wakil Rektor I USM Prof. Dr. Ir. Haslina, M.Si, Kepala LPPM USM Prof. Dr. Ir. Mudjiastuti Handajani, MT, serta Dosen Pendamping Lapangan Fitria Maya Lestari, S.T., M.T. Foto: Dok

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Sebanyak 42 mahasiswa Universitas Semarang (USM) menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik VII di Kelurahan Gedawang, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang.

Mereka akan melaksanakan program kerja yang fokus pada mitigasi bencana dan penguatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) melalui digitalisasi hingga Desember 2026.

Penerjunan mahasiswa KKN yang dilakukan di Kelurahan Gedawang, pada 6 Oktober 2026 itu dihadiri Lurah Gedawang Sri Suwanti, S.STP., yang mewakili Plt. Camat Banyumanik, Wakil Rektor I USM Prof. Dr. Ir. Haslina, M.Si, Kepala LPPM USM Prof. Dr. Ir. Mudjiastuti Handajani, MT, serta Dosen Pendamping Lapangan Fitria Maya Lestari, S.T., M.T.

Dalam sambutannya, Prof. Nana mengatakan, KKN merupakan salah satu bentuk pengamalan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui penerapan ilmu dan teknologi, pemberdayaan masyarakat, serta pembentukan karakter mahasiswa.

Menurutnya, KKN Tematik VII di Gedawang menjadi sarana bagi mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah sekaligus berkontribusi terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat, khususnya terkait mitigasi bencana dan penguatan UMKM.

Sebanyak 42 mahasiswa diserahkan kepada pemerintah Kecamatan Banyumanik dan Kelurahan Gedawang untuk menjalankan program selama dua bulan. Dia berharap, jajaran pemerintahan setempat dapat membantu membimbing dan mengawasi mahasiswa selama menjalankan kegiatan di masyarakat,” katanya.

”Kami berpesan kepada mahasiswa agar menjadikan KKN sebagai sarana untuk menempa jiwa kepemimpinan, kemampuan bekerja dalam tim dan berorganisasi, serta membangun kemampuan sebagai pemecah masalah atau problem solver di tengah masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala LPPM USM Prof. Mudjiastuti Handajani mengatakan, KKN Tematik VII diikuti 42 mahasiswa dan dipusatkan di satu kelurahan, yakni Gedawang.

Pemilihan Gedawang, kata dia, dilakukan setelah USM memetakan kebutuhan sejumlah kelurahan di Kota Semarang. Dari pemetaan tersebut, Gedawang dinilai memiliki kebutuhan yang cukup kuat dalam aspek mitigasi bencana dan pengembangan ekonomi masyarakat.

”Kami memilih Gedawang karena memang di Gedawang itu rawan untuk kebencanaan. Pada musim kemarau ada beberapa kebakaran, sedangkan pada musim hujan tanahnya longsor,” ujarnya.

Selain persoalan kebencanaan, Gedawang memiliki cukup banyak pelaku UMKM. Namun, sebagian pelaku usaha masih menjalankan kegiatan usahanya secara tradisional dan belum memanfaatkan teknologi digital secara optimal.

Karena itu, KKN Tematik VII mengusung dua fokus utama, yakni peningkatan kesiapsiagaan dan mitigasi bencana serta penguatan UMKM melalui digitalisasi.

”USM juga berencana melanjutkan program pengabdian kepada masyarakat pada semester mendatang dengan melibatkan sekitar 1.000 mahasiswa. Mereka nantinya akan disebar ke sejumlah kelurahan di Kota Semarang dan kabupaten di sekitarnya,” ungkapnya.

Dia berharap, melalui KKN Tematik VII, mahasiswa tidak hanya menjalankan program pengabdian, tetapi juga menghasilkan solusi yang dapat dimanfaatkan masyarakat secara berkelanjutan, terutama dalam meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana dan memperkuat perekonomian lokal.

Mewakili Plt. Camat Banyumanik, Lurah Gedawang Sri Suwanti menyampaikan terima kasih kepada USM yang telah memilih Gedawang sebagai lokasi pelaksanaan KKN.

Dia berharap, kehadiran mahasiswa dapat membantu masyarakat menghadapi potensi bencana, terutama kebakaran dan tanah longsor, sekaligus mendorong peningkatan penjualan produk UMKM.

”Kami berharap ada keberlanjutan program ini ke depannya,” katanya.

Dia mengatakan, kebakaran yang terjadi di Gedawang umumnya berlangsung di lahan kosong, bukan di kawasan permukiman. Kondisi wilayah yang masih memiliki cukup banyak lahan kosong membuat rumput kering pada musim kemarau mudah terbakar dan api dapat meluas dengan cepat.

Dalam dua bulan terakhir, telah terjadi beberapa kejadian kebakaran. Salah satu kejadian terbaru berlangsung di RW 9, di sekitar Perumahan Villa Krista, dan membutuhkan dua unit mobil pemadam kebakaran.

”Sementara pada musim hujan, Gedawang relatif tidak menghadapi persoalan banjir. Namun, kondisi wilayah yang berbukit membuat sejumlah titik tetap rawan longsor, salah satunya berada di RW 9,” jelasnya.

Dia berharap, atas kondisi tersebut, mahasiswa dapat membantu mengembangkan edukasi kebencanaan sekaligus sistem peringatan dini atau early warning system.

Gagasan tersebut telah dibahas bersama dosen pendamping dan mahasiswa. Salah satu konsep yang disiapkan adalah sistem alarm peringatan kebakaran yang didukung pemasangan kamera pengawas atau CCTV.

”Kebakaran ini tahu-tahu sudah meluas, merambatnya cepat sekali. Kalau ada warning system, sebelum api membesar masyarakat terdekat sudah bisa mengetahuinya,” jelasnya. St

Share This Article
Exit mobile version