JAKARTA (Jatengdaily.com)- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendorong penguatan pelabelan gizi pada bagian depan kemasan pangan sebagai salah satu upaya membantu masyarakat memilih makanan yang lebih sehat. Kebijakan ini dinilai penting untuk meningkatkan pemahaman konsumen terhadap kandungan gizi produk yang dikonsumsi sehari-hari.
Dilansir dari laman tribratanews.polri.go.id, pelabelan gizi pada bagian depan kemasan atau front-of-pack nutrition labelling memungkinkan konsumen memperoleh informasi mengenai kandungan gula, garam, lemak, dan zat gizi lainnya secara lebih mudah. Dengan informasi yang jelas, masyarakat diharapkan dapat membandingkan produk sebelum membeli serta mengurangi konsumsi makanan yang mengandung zat gizi tertentu secara berlebihan.
Upaya tersebut berkaitan dengan pencegahan penyakit tidak menular, seperti penyakit jantung, diabetes tipe 2, dan hipertensi. Pola makan yang tinggi gula, garam, dan lemak tidak sehat merupakan salah satu faktor risiko yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami berbagai gangguan kesehatan tersebut.
WHO menilai pelabelan gizi perlu didukung oleh kebijakan yang konsisten, edukasi masyarakat, serta keterlibatan produsen pangan. Informasi yang mudah dipahami diharapkan dapat membantu konsumen mengambil keputusan secara lebih sadar, sekaligus mendorong industri pangan meningkatkan kualitas komposisi produknya.
Di Indonesia, edukasi mengenai gizi seimbang juga penting dilakukan melalui berbagai saluran komunikasi, termasuk fasilitas pelayanan kesehatan, sekolah, media massa, dan media sosial. Masyarakat diimbau untuk membiasakan diri membaca informasi nilai gizi dan komposisi produk sebelum melakukan pembelian.
Selain memperhatikan label kemasan, masyarakat tetap perlu menerapkan pola makan seimbang, mengonsumsi buah dan sayuran, membatasi makanan tinggi gula, garam, dan lemak, serta melakukan aktivitas fisik secara teratur.
Peningkatan pemahaman mengenai label gizi merupakan salah satu langkah penting dalam membangun masyarakat yang lebih sadar kesehatan. Melalui informasi pangan yang transparan dan edukasi yang berkelanjutan, diharapkan masyarakat dapat membuat pilihan konsumsi yang lebih bijak guna mendukung pencegahan penyakit tidak menular. she


