Angin Puting Beliung Terjang Kebonagung Kendal, Akibatkan Kerusakan Rumah Warga dan Fasilitas Umum

Angin puting beliung terjang Kebonagung Kendal. Foto: istimewa

KENDAL (Jatengdaily.com)– Angin puting beliung menerjang Desa Kebonagung, Kecamatan Ngampel, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, pada Kamis (8/10/2026) sekitar pukul 11.30 WIB. Peristiwa tersebut mengakibatkan kerusakan di sejumlah titik wilayah terdampak akibat terjangan angin kencang yang terjadi secara tiba-tiba.

Berdasarkan informasi awal dari lokasi kejadian, pusaran angin dengan kekuatan besar melanda kawasan Desa Kebonagung dan mengakibatkan kerusakan pada sejumlah rumah warga, bangunan, serta fasilitas di lingkungan sekitar. Kencangnya terjangan angin juga menyebabkan pepohonan tumbang, atap bangunan rusak, dan sejumlah sarana lingkungan mengalami kerusakan.

Dahsyatnya terjangan angin puting beliung tersebut menimbulkan dampak yang cukup serius terhadap lingkungan dan aktivitas masyarakat. Sejumlah fasilitas dan bangunan terdampak akibat kuatnya pusaran angin, sementara material bangunan serta ranting pepohonan yang beterbangan turut membahayakan keselamatan warga.

Peristiwa ini menunjukkan besarnya dampak bencana alam akibat cuaca ekstrem yang terjadi secara mendadak dan sulit diprediksi. Kerusakan yang ditimbulkan menjadi bukti bahwa fenomena angin puting beliung dapat memberikan dampak signifikan terhadap permukiman, fasilitas umum, dan infrastruktur di wilayah terdampak.

Hingga berita ini diturunkan, pendataan lebih lanjut masih dilakukan untuk memastikan jumlah bangunan terdampak, total kerugian material, serta kemungkinan adanya korban akibat kejadian tersebut.

Masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem susulan, menghindari area yang mengalami kerusakan, serta menjauhi pepohonan dan bangunan yang kondisinya tidak stabil.

Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana hidrometeorologi, khususnya pada masa peralihan musim yang kerap disertai hujan lebat, angin kencang, dan fenomena cuaca ekstrem lainnya.

Musim Kemarau

Angin puting beliung memang acapkali terjadi di musim kemarau ini. Angin puting beliung pada dasarnya disebabkan oleh keberadaan dan pertumbuhan awan konvektif jenis Cumulonimbus (CB).

Sedangkan musim kemarau masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ini. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal musim hujan periode 2026-2027 di 529 Zona Musim (ZOM) atau 61,08% wilayah Indonesia akan mengalami kemunduran dari rerata klimatologisnya. Fenomena El Niño dengan intensitas sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) di samudra sekitar Indonesia berdampak pada berkurangnya curah hujan.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan pemantauan anomali suhu muka laut di wilayah Nino3.4 Samudra Pasifik pada akhir bulan Agustus 2026 sebesar +2,83 dengan nilai indeks ENSO periode Juli-Agustus-September (JAS) sebesar +2,63 yang mengindikasikan El Nino sangat kuat. Sementara di Samudra Hindia, tercatat indeks IOD bulan Agustus +0,376 dan berpeluang menuju fase positif hingga akhir tahun.

“Kombinasi fenomena El Nino dan IOD yang terjadi bersamaan ini memperparah dan memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia sehingga musim hujan datang terlambat dan terjadi lebih singkat,” tegas Faisal dilansir dari laman bmkg.go.id.

Untuk wilayah Jawa, baru akan mengawali musim hujan pada bulan November 2026 (185 ZOM/24,66% wilayah) dan Desember 2026 (266 ZOM/17,31% wilayah). she

Share This Article
Exit mobile version