Api di Rumah Besar PBNU dan Jalan Kesejukan Gus Yusuf

10 Min Read
Penulis saat berdiskusi santai dengan Gus Yusuf Chudlori. Foto: dok

Oleh: KH. Anis Maftukhin

ANDA sudah tahu: Munas dan Konbes NU 2026 baru saja usai. Tegang? Pasti. Seru? Bukan main.

 

Dinamika di dalam arena persidangan terasa lebih panas dari cuaca Jakarta. PBNU hari ini sedang tidak baik-baik saja. Ada perdebatan krusial di sana-sini. Mulai dari urusan arah organisasi, wacana perubahan mekanisme pemilihan, aturan rangkap jabatan, hingga—yang paling seksi—urusan batu bara.

Banyak yang pusing. Ada juga yang deg-degan (berdebar penuh kecemasan). Terutama melihat polarisasi yang makin tajam.

Mari kita bedah satu per satu. Biar kita tidak gagal paham melihat PBNU yang sedang berada dalam masa transisi kepemimpinan dan ujian legitimasi yang teramat berat ini.
Munas, Konbes, dan Kopinya yang Kurang Manis.

Sidang pleno penentuan lokasi Muktamar ke-35 memang sempat menghangat. Sejumlah peserta dari daerah melayangkan interupsi. Isunya murni soal komunikasi. Ada kesan di akar rumput seolah-olah urusan lokasi ini “diketok palu” lebih dulu secara sepihak oleh elit, tanpa mengajak pengurus daerah udud dan ngopi bersama.

Ini gaya khas NU. Kalau tidak ada interupsi, rasanya seperti minum kopi santri tapi lupa dikasih gula. Kurang marem. Interupsi ini sejatinya adalah sentilan sayang dari akar rumput. Pengurus wilayah dan cabang hanya tidak ingin ada sentralisasi yang kelewat batas. Mereka menolak gaya top-down elit struktural PBNU.

Akhirnya? Negosiasi ulang. Disepakati Muktamar digelar pada 1–5 Agustus 2026. Soal ketok palu lokasi resminya, diserahkan kepada tim khusus bentukan PBNU. Ini kompromi cantik. Obat penurun panas sementara agar krisis komunikasi ini mereda.

Lalu, ada polemik Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA). Muncul usulan: anggota AHWA harus ditambah unsur Syuriyah yang mewakili keterwakilan wilayah.

Tentu saja para Masyayikh bereaksi keras. AHWA itu bukan DPD RI. AHWA itu urusan maqam keilmuan, wira’i, dan keteladanan. Usulan kompromi politik pragmatis seperti ini dinilai mereduksi esensi institusi.

Kalau kiai sepuh dipilih berdasarkan jatah provinsi, hilang sudah karomahnya. Di sinilah terjadi benturan keras antara nilai tradisi pesantren murni dengan pragmatisme modern ala elit struktural.

Belum lagi wacana penghapusan sistem One Man One Vote dan larangan rangkap jabatan. Terdapat perdebatan keras terkait posisi Ketua Umum PBNU yang dinilai terlalu dekat dengan kekuasaan praktis. Ini adalah gugatan langsung terhadap netralitas Khittah NU.

Dan puncaknya: urusan tambang. Forum membahas khusus pengelolaan aset tambang NU. Empat hal disorot tajam: kepemilikan, tata kelola, manfaat, dan transparansi. Banyak kiai di daerah yang gelisah. Ada dilema moral. NU itu organisasi keagamaan, bukan perusahaan ekstraktif.

Faksi internal khawatir, keterlibatan bisnis tambang ini akan merusak moralitas jamaah dan memicu perpecahan finansial di tingkat bawah.

Kesimpulannya? PBNU tidak dalam kondisi pecah total. Tapi sedang mengalami negosiasi kekuasaan yang sangat tajam menjelang Muktamar. Ada krisis kepercayaan.

Gus Yusuf Adalah Jawaban
Di tengah kemelut struktural dan pragmatisme yang makin korosif itu, muncullah satu nama. Tenang. Tidak meledak-ledak. Tapi langkahnya mantap: Gus Yusuf Chudlori.

Majunya Gus Yusuf bukan karena syahwat kekuasaan. Beliau berangkat dari keprihatinan yang mendalam. Hegemoni petahana saat ini—Gus Yahya dan Gus Ipul—dinilai oleh banyak pihak telah melenceng jauh dari khittah organisasi.

Gus Yusuf diam-diam sudah turun gunung. Beliau silaturahmi ke beberapa provinsi. Hasilnya? Sebuah anomali yang memprihatinkan.

Dulu, PBNU yang sibuk memikirkan umat. Sekarang? Terbalik. Umat dan kiai-kiai di bawah yang justru pusing memikirkan kemelut elit di PBNU. Jamaah kini yang repot ngurusi Jam’iyah. Para pendukung Gus Yusuf sepakat: ini bukan lagi sekadar bursa pergantian ketua umum. Ini adalah misi darurat penyelamatan struktural.

Ada tiga pilar utama mengapa restorasi ini harus digerakkan oleh Gus Yusuf:

Keresahan Batin Para Masyayikh: Kiai-kiai sepuh di berbagai daerah sudah sampai pada titik mbrebes mili (menangis) melihat kondisi NU. Mereka memberikan mandat spiritual langsung kepada Gus Yusuf. Ini dawuh.

Kalau kiai sepuh sudah menangis dan memberi mandat, pantang bagi santri untuk mundur.

Independensi dari Kooptasi Negara: NU itu jembatan besar umat, bukan subordinat kekuasaan. Gus Yusuf menegaskan, NU akan mendukung program pemerintah yang maslahat, tapi punya daya kritis untuk mengingatkan jika kebijakan merugikan umat.

NU tidak boleh jadi alat politik praktis.
Metafora Pemadam Kebakaran: Ini analogi yang sangat cerdas dari Gus Yusuf saat berdiskusi dengan tokoh di Jakarta. NU sering disebut “pemadam kebakaran” saat suhu negara sedang memanas.

Tapi, tanya Gus Yusuf: bagaimana mungkin NU bisa memadamkan api di negara ini, kalau rumah besar PBNU-nya sendiri saat ini sedang kebakaran hebat di bagian dalamnya? Mana bisa blangwir berangkat kalau garasinya sendiri sedang terbakar?

Tentu ada tawaran tawar-menawar politik. Anda sudah tahu: Gus Yusuf sempat ditawari kursi Sekjen oleh berbagai kubu. Tujuannya jelas, untuk meredam langkahnya.

Tapi Gus Yusuf menolak mentah-mentah tawaran itu. Mengapa? Analisis So What?-nya begini: Jabatan Ketua Umum adalah satu-satunya “wasilah” yang efektif untuk melakukan pemadaman api internal secara total. Tanpa memegang otoritas tertinggi, upaya perbaikan hanya akan terjebak, nyangkut, dan layu di dalam rantai birokrasi petahana.

Peta Lapangan dan Rapuhnya Loyalitas Transaksional

Mari kita lihat fakta di lapangan. Ada semacam “Genderang Perang” yang sudah ditabuh. Sejumlah kawan saya punya Analisa: Jawa Timur bisa jadi akan menjadi sebagai medan tempur paling berat.

Mengapa? Karena. kabarnya banyak Pengurus Cabang (PC) di sana yang merupakan hasil penunjukan langsung oleh Gus Ipul, bukan hasil pemilihan yang murni. Ini menciptakan apa yang disebut “loyalitas transaksional”.

Tapi ingat kawan, loyalitas transaksional itu ibarat sarung murahan. Kelihatan bagus saat dipakai rapat, tapi luntur saat dicuci. Rapuh. Begitu angin bertiup dari arah kiai sepuh, SK penunjukan itu tidak ada artinya dibanding sam’an wa tha’atan (dengar dan taat) seorang santri.

Di mata banyak PCNU se-Indonesia, rating Gus Yusuf justru meroket signifikan di tengah tengah “persaingan narasi” yang menajam. Beliau ini low profile. Jarang marah-marah di media.

Rekam jejaknya nyata: beliau ngurus pesantren, ngaji kitab, ngurus santri beneran. Visi programnya membumi. Sangat kontras dengan narasi elitis lawan yang seringkali sulit dicerna oleh kiai kampung.

Bagaimana dengan kekuatan para rival? Tentu ada celahnya.

Gus Yahya: Sang petahana, memiliki beban masa lalu berupa cacat regulasi. Ada catatan pemecatan secara resmi yang pernah ditandatangani langsung oleh Rais Aam. Secara administratif organisasi, ini adalah fakta sejarah yang tidak bisa dikubur begitu saja.

Pak Nazar: Beliau tokoh hebat, tapi terganjal aturan rangkap jabatan. Beliau harus mundur dari kursi Menteri Agama. Belum lagi urusan syarat kaderisasi PMKNU yang belum terpenuhi. Memimpin NU itu tidak bisa potong kompas masuk jalan tol. Ada maqooid (aturan) yang harus dilewati.

Pesantren: Benteng Terakhir
Pada akhirnya, semua mata akan tertuju pada kekuatan spiritual pesantren.
Muktamar yang ideal dan menenangkan tentu diharapkan berada di lingkungan pesantren salaf. Karena pesantren adalah benteng pertahanan paling solid untuk mencegah intervensi eksternal—baik dari penguasa maupun dari pemodal tambang.

Pesantren adalah oase netralitas di tengah tarikan kepentingan politik yang beringas.
Di sinilah letak kekuatan natural Gus Yusuf. Jaringan santri dan kedekatannya dengan para Masyayikh—termasuk sanad keilmuan yang terhubung kuat dengan pesantren-pesantren besar seperti Lirboyo—adalah fakta lapangan yang tidak bisa dilawan oleh lembaran SK atau janji proyek. Sejumlah Rais Syuriah di seluruh Indonesia adalah alumni pesantren.

Anda tahu apa artinya itu di tradisi NU?

Ketika para Rais Syuriah ini sowan kembali ke almamaternya, mereka bukan lagi pejabat daerah. Mereka kembali menjadi santri. Batin dan komando mereka akan otomatis tunduk mutlak pada restu Masyayikh. Ini bukan kekuatan politik struktural, ini kekuatan spiritual yang mengakar ratusan tahun.

Sebagai pamungkas, Gus Yusuf telah meletakkan posisinya dengan sangat elegan. Beliau tidak sedang berebut remah-remah kekuasaan.

“Ini bukan soal mengejar jabatan Sekjen atau Waketum, tapi soal masa depan NU 5 tahun ke depan. Kebenaran akan mencari jalannya sendiri, dan keikhlasan akan mendatangkan pertolongan Allah. Kita tidak akan mundur satu langkah pun.”

Begitulah. PBNU butuh ketenangan. Butuh kiai yang bisa memadamkan api, bukan yang membawa bensin ke dalam rumah. Dan Gus Yusuf, adalah oase di tengah cuaca PBNU yang sedang kemarau panjang.

Penulis adalah Pengasuh Pondok Pesantren WALI, Tuntang Kab Semarang. Jatengdaily.com- St

Share This Article
Exit mobile version