Atasi Kekeringan Pertanian di Perbatasan Papua, Tim Ekspedisi Patriot Undip Bangun Embung Irigasi di Senggi

SENGGI PAPUA (Jatengdaily.com)– Sektor pertanian di Distrik Senggi, Kabupaten Keerom, Papua, selama ini menghadapi ketergantungan tinggi pada cuaca. Lahan pertanian produktif di kawasan transmigrasi ini kerap dilanda kekeringan saat musim kemarau, yang berujung pada penurunan produktivitas tanaman hingga risiko gagal panen. Menjawab tantangan tersebut, Tim Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro (TEP Undip) Tim 17 memprakarsai pembangunan infrastruktur embung irigasi strategis di SP 2 Kampung Woslay untuk menjamin ketersediaan air pertanian secara berkelanjutan.

Wilayah Distrik Senggi dihuni oleh perpaduan masyarakat transmigran dan Orang Asli Papua (OAP) dengan potensi lahan pertanian yang luas. Namun, mayoritas lahan masih mengandalkan sistem tadah hujan, sehingga indeks pertanaman sangat fluktuatif ketika curah hujan menurun drastis. Di tengah tantangan geografis wilayah perbatasan ini, langkah teknis yang presisi menjadi kunci utama untuk mewujudkan kemandirian pangan lokal.

Melihat kondisi geografis dan potensi tersebut, Tim 17 yang dipimpin oleh Septrial Arafat, S.P., M.P., bersama anggotanya, Risa Nurhaliza, S.I.Kom., Nok Ayu Nurasih, S.Pi., M.Pi., Amelia Shafa Salsabila, S.P., Riko Iqbal Allatif, S.Pd., dan Alfian Nur Setiawan, S.P.W.K., memutuskan untuk melakukan redesain pendekatan program irigasi. Septrial Arafat menjelaskan bahwa rencana awal berupa penarikan jaringan pipa dari sumber air permukaan disesuaikan menjadi pembangunan embung penampung (long storage). Langkah ini diambil berdasarkan peninjauan fisik spasial yang menunjukkan bahwa debit air permukaan tidak stabil saat musim kemarau.

Kebutuhan perubahan desain tersebut turut disuarakan oleh Ketua Kelompok Tani Satu Hati, Sibur. “Kami membutuhkan sarana penampung air (long storage atau embung) yang sanggup menyimpan cadangan air hujan dan limpasan permukaan guna menghadapi periode kekeringan musiman,” ujar Sibur.

Realisasi pembangunan fisik embung ini tidak lepas dari pendekatan sosiologis dan dukungan penuh pemangku adat setempat. Kepala Keret Kampung Woslay SP 2, Patras, secara resmi menyerahkan hak penggunaan lahan ulayat di Jalur 3 SP 2 untuk pengerukan kolam embung dan penataan saluran air. Restu adat ini menjadi pilar utama kelancaran operasional alat berat di lokasi.

Infrastruktur embung yang dirancang memiliki dimensi panjang 35 meter, lebar 15 meter, dan kedalaman 3 meter. Embung ini berfungsi menampung limpasan air hujan dan aliran permukaan dalam kapasitas besar, yang nantinya didistribusikan ke lahan pertanian menggunakan integrasi sistem pompa dan saluran pembawa yang dikembangkan secara partisipatif bersama kelompok tani.

Sibur menegaskan bahwa keberadaan embung ini memberikan kepastian pasokan air bagi para petani setempat. “Selama ini kami selalu cemas setiap kali memasuki musim kering karena tanaman terancam rusak. Adanya embung penampung air berukuran besar ini menjadi jawaban atas kerinduan petani Woslay yang sudah lama mendambakan kepastian pasokan air,” ungkapnya.

Dukungan senada juga disampaikan oleh Dinas Transmigrasi Kabupaten Keerom. Pihak dinas menilai keberadaan embung irigasi ini akan memperkuat eksistensi SP 2 Kampung Woslay yang tengah berproses mekar menjadi kampung definitif baru bernama Kampung Soom. Infrastruktur air yang andal diyakini menjadi magnet pertumbuhan ekonomi baru sekaligus mempererat integrasi sosial antara warga transmigran dan OAP.

Pengerjaan fisik embung dilaksanakan secara intensif dengan mengoperasikan unit excavator PC200 dengan memperhitungkan laju infiltrasi tanah jenis gambut-lempung serta tingkat evaporasi kawasan Senggi. Selama mobilisasi menuju titik galian utama di Jalur 3, alat berat sekaligus melakukan normalisasi parit warga di sepanjang lintasan dengan mengeruk endapan lumpur, sedimen, dan vegetasi yang menyumbat aliran air agar fungsi pembuangan air warga kembali optimal.

Pengerjaan konstruksi embung dilaksanakan secara bertahap dan sistematis. Tahapan diawali dengan penentuan patok spasial berdasarkan perhitungan hidrologi untuk memastikan ketepatan batas galian, elevasi, dan dimensi kolam. Setelah area dibersihkan (clearing) dari semak belukar dan endapan lumpur awal, proses dilanjutkan ke tahap penggalian bertahap. Penggalian dilakukan dengan membentuk kemiringan lereng (slope) yang terukur untuk mengantisipasi risiko longsor. Terakhir, material tanah hasil galian dipilah untuk perataan lahan (leveling) di sekitarnya, sekaligus dimanfaatkan dalam pembentukan tanggul penahan air serta saluran inlet dan outlet.

Kehadiran penampung air ini disambut hangat oleh tokoh masyarakat dan penyuluh pertanian lokal. Ketua RT Jalur 3, Albert, menyampaikan bahwa ketersediaan air yang lebih terjamin mendorong para petani untuk beralih membudidayakan padi sawah/ladang basah dari pola lama padi gogo yang berproduktivitas rendah. “Keberadaan embung di wilayah pertanian SP 2 Jalur 3 menjadi jawaban atas kesulitan air yang saban tahun dialami para petani, sekaligus membangkitkan motivasi warga untuk kembali mengolah lahan pertanian yang sempat terlantar,” tegas Albert.

Petugas Badan Penyuluh Pertanian (BPP) Distrik Senggi turut menilai fasilitas ini sangat efektif dalam mengairi lahan milik sedikitnya empat petani penggarap di sekitar lokasi percontohan, sekaligus menjadi solusi konkret irigasi di wilayah dataran yang jauh dari sumber air permukaan. Pembangunan embung oleh TEP Undip Tim 17 menjadi wujud sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, pemangku adat, dan masyarakat di wilayah perbatasan.

Langkah konkret TEP Undip Tim 17 dalam pembangunan embung irigasi di garis perbatasan ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 (Tanpa Kelaparan) untuk ketahanan pangan, SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak) untuk pengelolaan sumber daya air, SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) guna memperkuat ketahanan pertanian terhadap kekeringan, SDG 15 (Ekosistem Daratan) dalam pemanfaatan lahan secara berkelanjutan, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui sinergi lintas sektor antara perguruan tinggi, pemerintah, lembaga adat, dan masyarakat lokal. she 

Share This Article
Exit mobile version