DEMAK (Jatengdaily.com) – Desa Banjarsari, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, ditetapkan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) sebagai desa percontohan program Desa Mandiri Peduli Mangrove (DMPM) 2026. Penetapan ini menjadi bentuk apresiasi atas upaya warga menjaga lingkungan pesisir dari ancaman abrasi dan banjir rob.
Pengukuhan program tersebut berlangsung di Balai Desa Banjarsari pada 8 Oktober 2026. Kegiatan ini dihadiri Tim DMPM KLH, akademisi Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang, serta perwakilan sejumlah organisasi perangkat daerah Kabupaten Demak.
Selama lima tahun terakhir, abrasi menyebabkan ratusan hektare tambak di Banjarsari hilang. Menghadapi kondisi tersebut, warga yang tergabung dalam Gerdadu Peduli Lingkungan Demak terus melakukan penanaman dan perawatan mangrove untuk menjaga kawasan pesisir.
Camat Sayung, Sri Puji Astutik, mengatakan mangrove memiliki peran penting dalam melindungi wilayah pesisir. Ia mengapresiasi kepedulian warga yang tetap bergerak menjaga lingkungan meski menghadapi dampak rob dan abrasi.
“Konservasi mangrove di Banjarsari bukan sekadar program lingkungan, ini adalah ikhtiar menyelamatkan kampung halaman,” ujarnya.
Tim DMPM KLH, Pandji Dimas, menilai keterlibatan masyarakat menjadi alasan penting Banjarsari dijadikan desa percontohan. Warga terlibat dalam berbagai kegiatan, mulai dari pembibitan hingga pengembangan ekowisata mangrove. “Bukan karena luas tanamannya, tapi karena masyarakatnya bergerak sendiri,” katanya.
Kepala Desa Banjarsari, Haryanto, berharap penetapan tersebut semakin mendorong warga menjaga lingkungan. Selain mangrove, pemerintah desa juga mengembangkan energi terbarukan melalui PLTS atap hybrid berkapasitas 6,6 kWp di balai desa. Fasilitas ini disiapkan untuk membantu kebutuhan listrik posko darurat saat banjir rob.
Desa Banjarsari juga memiliki fasilitas desalinasi yang mengolah air payau menjadi air siap minum dengan kapasitas 2.000 liter per hari. Program yang dikelola BUMDes Berbenah Berkah ini menjadi upaya mengatasi kesulitan air bersih akibat air sumur yang asin. “Listrik sering padam saat rob, air sumur sudah asin. Jadi kami harus mandiri,” kata Haryanto.
Melalui program DMPM, KLH akan memberikan pendampingan berupa bantuan bibit mangrove, pelatihan ekowisata, dan akses pendanaan ekonomi hijau. Pemerintah Kabupaten Demak juga mendorong Banjarsari dikembangkan sebagai desa wisata tematik pesisir dengan menggabungkan edukasi mangrove, energi bersih, dan pengolahan air. Upaya ini diharapkan mampu menjaga lingkungan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.rie-she


