Oleh: Multazam Ahmad
HIDUP di era modern mendorong manusia untuk bergerak cepat. Informasi mengalir begitu deras dari berbagai penjuru. Media sosial, portal berita, hingga grup pesan instan setiap saat menyajikan berita, opini, dan berbagai konten baru yang silih berganti.
Di tengah banjir informasi tersebut, kita juga dihadapkan pada maraknya informasi negatif yang berpotensi memengaruhi cara pandang dan kesehatan mental masyarakat.
Mulai dari hoaks, ujaran kebencian, hingga berita provokatif yang dapat menimbulkan kecemasan, ketakutan, bahkan perpecahan di tengah masyarakat.
Pertanyaannya, bagaimana cara melindungi diri dan pikiran dari arus informasi negatif tersebut?
Islam sebenarnya telah memberikan landasan yang kuat untuk membentengi diri dalam menyikapi informasi. Menurut Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin, disebutkan bahwa “lisan dan informasi atau ikhbar merupakan keselamatan manusia”.
Artinya, menjaga lisan dan berhati-hati dalam menerima serta menyampaikan informasi merupakan bagian penting dari menjaga keselamatan diri dan masyarakat.
Banyak persoalan yang muncul dalam kehidupan modern saat ini berakar dari ketidakmampuan manusia mengelola informasi dan menjaga lisannya.
Ketika seseorang menerima informasi tanpa penyaringan, kemudian langsung menyebarkannya, maka potensi munculnya kesalahpahaman dan fitnah menjadi sangat besar.
Pandangan serupa juga dijelaskan oleh Syekh Az-Zarnuji dalam kitab Ta’limul Muta’allim yang menekankan pentingnya menuntut ilmu sekaligus kemampuan memilah informasi yang benar dan bermanfaat.
Kemampuan ini menjadi bekal penting bagi seorang mukmin agar tidak mudah terjebak dalam kabar yang menyesatkan.
Prinsip ini selaras dengan firman Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 6 yang mengingatkan orang beriman untuk meneliti setiap berita yang datang dari orang fasik agar tidak menimbulkan penyesalan di kemudian hari.
Dalam ayat tersebut terdapat dua hal penting yang perlu digarisbawahi. Pertama, setiap orang beriman harus mampu menyeleksi dan memfilter berita yang datang, terutama dari sumber yang tidak jelas.
Orang fasik dalam konteks ini adalah pihak yang keluar dari jalan kebenaran dan berpotensi menyebarkan informasi yang menyesatkan atau memecah belah.
Informasi yang menyesatkan itu bisa saja datang dari berbagai arah, bahkan dari orang-orang yang dekat dengan kita seperti teman, tetangga, atau rekan kerja. Oleh karena itu, kehati-hatian dalam menerima informasi menjadi sangat penting.
Ada sebuah kisah menarik yang menjadi pelajaran penting dalam sejarah Islam. Suatu ketika Rasulullah SAW mengutus Walid bin Uqbah untuk meninjau kondisi kaum Bani Musthaliq, khususnya untuk melihat sejauh mana mereka melaksanakan ajaran Islam dan menunaikan kewajiban zakat.
Namun dalam perjalanannya, Walid tidak melaksanakan tugas tersebut secara menyeluruh. Ia hanya melihat dari kejauhan dan kemudian mengambil kesimpulan bahwa kaum Bani Musthaliq telah menolak membayar zakat dan bahkan siap memerangi Rasulullah SAW.
Kesimpulan tersebut diambil tanpa data dan verifikasi yang jelas. Informasi itu kemudian disampaikan kepada Rasulullah SAW.
Berbeda dengan sikap tergesa-gesa yang sering terjadi pada manusia, Rasulullah SAW tidak langsung mempercayai laporan tersebut. Beliau memilih melakukan klarifikasi terlebih dahulu.
Rasulullah kemudian mengutus sahabat lain, yaitu Khalid bin Walid, untuk memeriksa langsung kondisi sebenarnya di tengah kaum Bani Musthaliq.
Khalid bin Walid menjalankan tugas tersebut dengan penuh kehati-hatian. Ia mengirimkan intelijen untuk mengamati keadaan di sana. Hasilnya justru menunjukkan fakta yang berbeda. Kaum Bani Musthaliq tetap menjalankan ibadah, mengumandangkan azan, mendirikan shalat, serta menunaikan zakat sebagaimana mestinya.
Dengan demikian, informasi yang sebelumnya disampaikan ternyata tidak sepenuhnya benar.
Kisah ini memberikan pelajaran penting bahwa setiap informasi perlu diverifikasi sebelum diambil kesimpulan atau disebarkan. Sikap tabayun atau klarifikasi merupakan prinsip penting dalam menjaga kebenaran.
Di era digital saat ini, tantangan tersebut bahkan semakin besar. Informasi dapat dengan mudah menyebar melalui internet, telepon genggam, dan berbagai platform media sosial. Informasi yang belum tentu benar bisa dengan cepat menjadi viral dan memengaruhi opini publik.
Karena itu, ada dua langkah penting yang perlu dilakukan oleh setiap orang.
Pertama, melakukan tabayun atau klarifikasi. Seorang muslim harus membiasakan diri meneliti informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.Dengan demikian kita dapat terhindar dari fitnah dan kesalahan yang merugikan orang lain.
Kedua, mengenali sumber informasi. Penting bagi kita untuk mengetahui dari mana sebuah informasi berasal. Jangan terburu-buru membagikan suatu konten sebelum memastikan kebenaran dan kredibilitas sumbernya.
Kemampuan menyeleksi informasi di era digital bukanlah hal mudah. Namun keterampilan ini sangat penting untuk menjaga kesehatan mental serta menciptakan ruang digital yang lebih sehat.
Dengan menjadi pengguna internet yang cerdas dan kritis, kita tidak hanya melindungi diri sendiri dari dampak negatif informasi, tetapi juga ikut berkontribusi dalam mengurangi penyebaran berita yang menyesatkan.
Pada akhirnya, kebijaksanaan dalam menerima dan menyebarkan informasi adalah bagian dari tanggung jawab moral setiap individu. Sikap hati-hati, tabayun, dan berpikir kritis merupakan kunci agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum jelas kebenarannya.
Wallahu a’lam.
Dr. Multazam Ahmad MA, Wasekjen DMI Pusat, Sekretaris MUI Jateng. Jatengdaily.com-St


