Bukan Sekadar Runner-up, MTQN XXXI Menyalakan Harapan Baru bagi Jateng

Prof. Dr. KH Ahmad Rofiq, MA. Foto:dok

Oleh : Ahmad Rofiq

KADANG  sebuah tulisan hanyalah rangkaian kata. Tetapi pada kesempatan tertentu, kata-kata bisa menjadi doa, penyemangat, bahkan pemantik keberanian.

Itulah yang saya rasakan ketika pada Kamis, 10 September 2026, saya memberanikan diri menulis opini di Koran Suara Merdeka dengan judul yang sengaja dibuat sedikit “provokatif”: “MTQN XXXI Jateng Siap Juara Umum.”

Saya tidak tahu apakah para anggota kafilah Jawa Tengah, pelatih, official, maupun dewan hakim sempat membaca tulisan tersebut. Namun, bagi saya, tulisan itu bukan sekadar prediksi. Lebih dari itu, ia merupakan bentuk optimisme dan dukungan agar kafilah Jawa Tengah tampil tanpa keraguan: berjuang maksimal, menjunjung kejujuran, serta memiliki keberanian untuk memasang target setinggi mungkin.

Dan hasilnya sungguh menggembirakan.
Jawa Tengah memang belum berhasil merebut gelar juara umum. Namun, dari posisi ke-16 pada ajang sebelumnya, kafilah Jawa Tengah mampu melompat ke peringkat kedua nasional pada MTQN XXXI 2026 di Semarang dengan raihan 208 poin.

Kalimantan Timur menjadi juara umum dengan 288 poin, sedangkan DKI Jakarta berada di posisi ketiga dengan 129 poin.
Lompatan tersebut tentu bukan sesuatu yang terjadi dalam semalam.

Sebanyak 67 kafilah Jawa Tengah telah melewati proses seleksi berjenjang dari tingkat kabupaten/kota hingga provinsi. Dari jumlah itu, 30 peserta berhasil menembus babak final.

Maka, ketika Jawa Tengah akhirnya berdiri di podium kedua, capaian tersebut patut dibaca bukan sekadar sebagai angka dalam daftar hasil kejuaraan. Ada proses panjang, kerja keras peserta, pelatih, pembina, official, LPTQ, pemerintah daerah, pesantren, dan berbagai pihak yang ikut menghidupkan pembinaan Al-Qur’an di Jawa Tengah.

Tuan Rumah Bukan Jaminan Juara

MTQN XXXI memang digelar di Jawa Tengah. Bahkan Semarang menjadi panggung besar perhelatan nasional yang berlangsung selama sembilan hari.

Namun, status sebagai tuan rumah tidak otomatis membuat sebuah provinsi menjadi juara. Justru kompetisi menunjukkan bahwa gelar tersebut harus diperjuangkan melalui kualitas peserta dan pembinaan yang serius.
Buktinya, Kalimantan Timur kembali menjadi juara umum.

Prestasi tersebut sekaligus memperpanjang keberhasilan Kaltim dalam beberapa ajang nasional. Setelah menjadi juara pada MTQN XXX 2024 di Samarinda dan STQH Nasional XXVIII 2025 di Kendari, Kaltim kembali berada di posisi teratas pada MTQN XXXI 2026 di Semarang.

Menteri Agama Nasaruddin Umar bahkan menyebut, apabila Kaltim kembali menjadi juara pada MTQN XXXII di Jakarta tahun 2027, piala bergilir MTQ Nasional akan menjadi milik tetap Kaltim.

Ada pelajaran penting dari konsistensi tersebut.

Prestasi tidak dibangun dengan persiapan sesaat menjelang perlombaan. Ia membutuhkan pembinaan berjenjang, latihan yang berkesinambungan, kualitas pelatih, kedisiplinan peserta, koordinasi antarlembaga, serta dukungan pemerintah yang konsisten.

Karena itu, keberhasilan Kaltim layak menjadi bahan pembelajaran bagi daerah lain, termasuk Jawa Tengah.

Peringkat Kedua Bukan Garis Akhir

Bagi Jawa Tengah, posisi kedua justru dapat menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan pembinaan yang telah dilakukan.
Gelar runner-up memang membanggakan.

Tetapi selisih 80 poin dari Kaltim juga menunjukkan masih terdapat ruang yang cukup besar untuk melakukan pembenahan.
Di sinilah pekerjaan rumah LPTQ Jawa Tengah menjadi semakin penting.

Keberhasilan 2026 jangan sampai berhenti sebagai cerita manis setelah MTQN selesai. Sebaliknya, capaian ini harus menjadi fondasi untuk menyiapkan generasi berikutnya.

Pembinaan tidak cukup dilakukan ketika MTQN sudah semakin dekat. Calon-calon kafilah potensial perlu ditemukan sejak dini, dibina secara bertahap, diberi kesempatan mengikuti berbagai ajang, kemudian dipertemukan dengan pelatih yang memiliki kompetensi sesuai cabang dan golongannya.

Pemusatan latihan juga perlu dirancang lebih sistematis. Bukan hanya mengejar kemampuan teknis bermusabaqah, tetapi juga membangun mental, kedisiplinan, penguasaan materi, dan kesiapan menghadapi tekanan kompetisi tingkat nasional.

Jakarta Sudah Menunggu

Tahun depan estafet MTQ Nasional berpindah ke Jakarta.
DKI Jakarta yang pada MTQN XXXI menempati posisi ketiga dengan 129 poin tentu akan menjadi salah satu daerah yang harus diperhitungkan dalam persaingan.

Artinya, persaingan MTQN XXXII dipastikan menjadi babak baru. Jawa Tengah tidak bisa hanya mengandalkan keberhasilan di Semarang.

Yang harus dibawa ke Jakarta bukan semata-mata ambisi mempertahankan posisi kedua, tetapi semangat memperbaiki kualitas dari tahun ke tahun.

Karena itu, dukungan anggaran pembinaan menjadi bagian penting. Demikian pula peningkatan kualitas pelatih dan hakim, penguatan kaderisasi di pesantren dan lembaga pendidikan Al-Qur’an, serta sinergi antara LPTQ provinsi dengan LPTQ kabupaten/kota.

Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen yang juga Ketua LPTQ Jateng telah menyampaikan pentingnya pembinaan Al-Qur’an secara berkelanjutan, termasuk kaderisasi, peningkatan kompetensi pelatih dan hakim, serta penguatan lembaga pendidikan.

Menjaga Api Setelah Panggung Padam

Pada akhirnya, MTQN bukan hanya tentang siapa yang membawa pulang piala.
Ada sesuatu yang jauh lebih penting: bagaimana semangat membaca, menghafal, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an terus hidup setelah lampu panggung dimatikan dan para kafilah kembali ke daerah masing-masing.

Menteri Agama Nasaruddin Umar juga menegaskan bahwa berakhirnya musabaqah bukan berarti berakhirnya upaya membumikan Al-Qur’an. Karena itu, capaian Jawa Tengah sebagai peringkat kedua seharusnya menjadi energi baru.

Kita boleh bersyukur atas prestasi tersebut. Kita boleh bangga karena tuan rumah mampu naik ke podium nasional. Tetapi setelah rasa syukur itu, pekerjaan berikutnya sudah menunggu.

Menyiapkan generasi baru.

Menemukan bibit-bibit qari, qariah, hafiz, hafizah, mufassir, penulis, dan insan-insan Al-Qur’an yang kelak menjadi penerus.
Dan yang tidak kalah penting, memastikan pembinaan dilakukan secara konsisten, bukan hanya menjelang MTQN.

Jika pada 10 September lalu saya menulis “MTQN XXXI Jateng Siap Juara Umum”, maka setelah MTQN XXXI berakhir, kalimat itu mungkin perlu diberi makna baru.

Bukan lagi sekadar target sebuah perlombaan. Melainkan sebuah tekad jangka panjang: Jawa Tengah harus terus membangun tradisi pembinaan Al-Qur’an yang kuat, terarah, dan berkelanjutan. Sebab podium kedua hari ini bukan akhir perjalanan.

Ia bisa menjadi awal dari perjalanan yang lebih panjang. Selamat kepada seluruh kafilah Jawa Tengah, para pelatih, pembina, official, LPTQ, pemerintah daerah, pesantren, dan seluruh pihak yang telah berjuang.

Dari Semarang kita belajar satu hal: juara tidak selalu lahir dari tempat yang paling siap menjadi tuan rumah, tetapi dari proses panjang yang tidak pernah berhenti mempersiapkan generasi.

Semoga Allah SWT memberikan keberkahan atas ikhtiar tersebut dan mempertemukan Jawa Tengah dengan prestasi-prestasi terbaik pada MTQN berikutnya. Allah a’lam bish-shawab. 

Prof. Dr. H. Ahmad Rofiq, MA., Anggota Dewan Pengawas MTQN ke-31 2026, Guru Besar UIN Walisongo Semarang, Ketua Pimpinan Wilayah Dewan Masjid Indonesia (PW-DMI) Jawa Tengah, Direktur LPH-LPPOM-MUI Jawa Tengah, Ketua Bidang Pendidikan DP Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Semarang, Ketua II Yayasan Pusat Kajian dan Pengembangan Islam (YPKPI) Masjid Raya Baiturrahman Semarang, Ketua Dewan Pengawas Syariah (DPS) Rumah Sakit Islam-Sultan Agung Semarang, Anggota DPS BPRS Bina Finansia Semarang, Ketua DPS BPRS Kedung Arto Semarang, Wakil Ketua Dewan Pakar Ikatan Ahli EKonomi Islam (IAEI) Pusat. Jatengdaily.com

Share This Article
Exit mobile version