UNGARAN (Jatengdaily.com) – Sebuah tradisi tidak selalu bertahan karena kemegahan acaranya. Kadang ia tetap hidup karena ada warga yang bersedia datang, bekerja bersama, membersihkan makam, menggelar doa, berjalan dalam satu barisan, hingga duduk bersama menyaksikan pertunjukan wayang.
Di Minggu Pagi itu (23/8/2026), belum ada naga raksasa. Tidak ada kostum kirab maupun iring-iringan warga yang memenuhi jalan kampung. Yang ada hanya sapu, cangkul, peralatan kebersihan dan warga yang bekerja bersama membersihkan komplek pemakaman Pundung Putih Barat dan Timur. Bagi masyarakat Pundung Putih, menjadi bagian penting dari Merti Dusun.
Setelah makam dibersihkan, doa dipanjatkan, sedekah bumi digelar dan sebelas RT turun dalam kirab budaya, warga kembali berkumpul dalam kerja bakti di pagi ini, Kamis (3/9/2026). Sebab bagi mereka, nguri-uri kabudayan bukan hanya tentang mempertontonkan budaya, tetapi juga merawat ruang sosial tempat budaya itu hidup.
Nguri-uri budaya
Hal itulah yang terlihat dalam rangkaian Merti Dusun Pundung Putih RW 03, Kelurahan Gedanganak, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang. Tahun ini sebagai tuan rumah penyelenggara adalah warga RT 4 RW 3 Pundung Putih, yang tahun ini mengusung tema “Nguri-Uri Budaya”.
Rangkaian kegiatan yang digelar sejak akhir Agustus tersebut melibatkan seluruh warga dari sebelas RT di lingkungan RW 03. Kegiatan tidak berhenti pada kirab budaya yang berlangsung Minggu (30/8/2026), tetapi berlanjut hingga awal September dengan sejumlah kegiatan sosial, keagamaan dan kebudayaan.
Dalam tradisi masyarakat Jawa, Merti Dusun atau Merti Desa dikenal sebagai salah satu bentuk ungkapan syukur sekaligus ikhtiar masyarakat untuk memelihara kehidupan kampung. Istilah merti kerap dikaitkan dengan memetri, yakni memelihara, menjaga dan merawat. Tradisi tersebut dalam perkembangannya juga berkelindan dengan doa, gotong royong, penghormatan terhadap leluhur, hubungan sosial serta pelestarian kebudayaan.
Merti Dusun Pundung Putih tahun ini menarik dilihat bukan sekadar sebagai perhelatan budaya. Di dalamnya terdapat upaya warga untuk merawat sesuatu yang jauh lebih penting: ingatan bersama sebagai sebuah kampung.
Dari bersih makam hingga kirab
Rangkaian kegiatan telah diawali Minggu (23/8) melalui kegiatan bersih makam barat dan timur. Kemudian Kamis (27/8), warga menggelar kirim doa di makam barat yang dilanjutkan dengan selamatan sedekah bumi Merti Dusun.
Suasana berbeda hadir Minggu (30/8), ketika jalan-jalan lingkungan Pundung Putih berubah menjadi ruang pertunjukan melalui Kirab Budaya Merti Dusun. Sebelas RT mengirimkan kontingen dengan beragam kreativitas dan ekspresi budaya.
Kirab tersebut sebelumnya juga menjadi perhatian karena kreativitas warga RT 01 yang mengangkat legenda Baru Klinting (wujud naga ajaib dalam legenda rakyat Jawa Tengah yang diyakini sebagai asal-usul terbentuknya danau Rawa Pening di Kabupaten Semarang), lengkap dengan replika naga raksasa sepanjang sekitar enam meter. Namun di balik beragam bentuk penampilan tersebut terdapat cerita yang sama: warga dari berbagai usia berkumpul dan bekerja bersama untuk membawa nama lingkungan mereka dalam satu barisan.
Bagi Ketua RT 01 RW 03, Suyatin, kemeriahan tersebut memiliki arti lebih jauh daripada sekadar hiburan.
“Acara Merti Dusun dengan tema ‘Nguri-Uri Budaya’ memberikan kesan sangat meriah, penuh kebersamaan dan bermakna,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengenalkan sekaligus menjaga budaya dan tradisi leluhur kepada generasi muda.
Semangat gotong royong, kekompakan dan kerukunan warga, kata Suyatin, terlihat selama rangkaian kegiatan berlangsung.
“Semoga kegiatan Merti Dusun ini dapat terus dilaksanakan dan menjadi tradisi yang selalu dijaga dari generasi ke generasi,” harapnya.
Tradisi yang tidak berhenti di kirab
Setelah kirab, Merti Dusun Pundung Putih masih berlanjut.
Kamis (3/9/2026) pagi, warga kembali berkumpul dalam kegiatan kerja bakti membersihkan lokasi Merti Dusun.
Aktivitas tersebut sekilas terlihat sederhana. Tidak ada panggung, kostum, naga raksasa maupun iring-iringan. Warga hanya membawa peralatan kerja dan membersihkan lingkungan bersama-sama.
Namun justru di situlah salah satu wajah penting Merti Dusun terlihat.
Tradisi tidak hanya dipertahankan melalui pertunjukan, tetapi juga melalui pekerjaan bersama yang dilakukan secara sukarela.
Kerja bakti menjadi bentuk lain dari nguri-uri—merawat lingkungan sekaligus merawat hubungan sosial warga.
Sejumlah kajian tentang Merti Dusun juga menunjukkan bahwa kegiatan kolektif seperti kerja bakti memiliki fungsi sosial dalam membangun silaturahmi, kekeluargaan, kebersamaan dan kerukunan, termasuk memperkenalkan nilai tersebut kepada generasi muda.
Rangkaian Merti Dusun Pundung Putih kemudian dilanjutkan Jumat (4/9) malam dengan Mujahadah dan Istighosah di lokasi Wayang.
Sementara Sabtu (5/9), warga akan menggelar selamatan wilujengan sekaligus penyerahan tenong wayang kepada dalang pada pagi hari.
Malam harinya, rangkaian kegiatan ditutup dengan Pagelaran Wayang Kulit dengan lakon “Wahyu Katentraman”.
Pilihan lakon tersebut terasa sejalan dengan semangat yang dibangun sepanjang rangkaian kegiatan: sebuah doa kultural agar kehidupan kampung tetap tenteram, guyub dan rukun.
Generasi muda dan tradisi
Bagi masyarakat Pundung Putih, tantangan terbesar pelestarian tradisi bukan sekadar menyelenggarakan acara kembali setiap dua tahun.
Tantangannya adalah memastikan bahwa generasi yang tumbuh dalam dunia digital masih merasa memiliki hubungan dengan tradisi yang diwariskan generasi sebelumnya.
Karena itu, keterlibatan anak-anak, remaja dan orang dewasa dalam kirab menjadi bagian penting dari Merti Dusun tahun ini.
Salah satunya Indri Hera Pertiwi, remaja yang ikut aktif dalam kegiatan kirab budaya.
Bagi Indri, keterlibatan anak muda dalam Merti Dusun bukan sekadar ikut meramaikan acara.
“Sebagai remaja dan mungkin mewakili teman-teman remaja yang ikut terlibat dalam kegiatan Merti Dusun ini, saya merasa senang sekali bisa ikut nguri-uri budaya yang sudah menjadi bagian dari tradisi kita,” tuturnya.
Menurutnya, tema “Nguri-Uri Kabudayan” memiliki makna tersendiri bagi generasi muda.
Kegiatan seperti Merti Dusun, kata Indri, bukan hanya mengenai bagaimana sebuah acara dapat berjalan lancar. Lebih dari itu, kegiatan tersebut memberi kesempatan bagi warga, terutama para pemuda, untuk berkumpul, membangun keguyuban dan secara tidak langsung ikut mengambil bagian dalam pelestarian budaya.
“Menurut saya, kegiatan seperti ini bukan hanya tentang acara berjalan lancar, tapi juga tentang bagaimana kita sebagai warga, terutama para pemuda, bisa ada waktu kumpul bareng, guyup rukun, secara tidak langsung ikut andil melestarikan budaya itu,” katanya.
Indri juga mengajak para pemuda agar tidak merasa malu untuk terlibat dalam kegiatan tradisi di lingkungan tempat tinggal mereka.
“Untuk teman-teman pemuda, jangan malu untuk ikut kegiatan seperti ini. Tunjukkan kreativitas kita. Yang paling penting, budaya di dusun kita tetap bisa terus lestari dan nantinya bisa kita kenalkan juga kepada generasi berikutnya,” pesannya.
Baginya, kreativitas anak muda justru dapat menjadi jalan agar tradisi tetap memiliki tempat di tengah kehidupan generasi sekarang.
“Semoga ke depannya kita bisa terus bersama-sama, guyup rukun, dan tetap semangat nguri-uri budaya yang ada di dusun kita,” ujarnya.
Tradisi tidak lagi hanya ditempatkan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi menjadi sesuatu yang ‘dikerjakan bersama oleh generasi sekarang’.
Dalam konteks itu, nguri-uri budaya bukan berarti membawa masa lalu kembali secara persis seperti dahulu.
Ia adalah usaha untuk membuat nilai-nilai lama—gotong royong, kebersamaan, rasa syukur, penghormatan terhadap lingkungan dan kerukunan—tetap menemukan tempat dalam kehidupan masyarakat hari ini.
Dan mungkin di situlah Merti Dusun Pundung Putih menemukan maknanya:
Bukan hanya merayakan apa yang diwariskan leluhur, tetapi bersama-sama memastikan bahwa kampung masih memiliki sesuatu yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
[sr]
