Dari Majalengka ke Semarang, Kisah Perjalanan Tantowi Menjemput Juara MHQ 10 Juz

Tantowi Jauhari, juara MHQ 10 Juz yang diselenggarakan Pesantren Tahfidz MAJT-Baznas Jateng menerima trofi juara 1 dari salah satu panitia, H Eman Sulaeman. Foto:dok

SEMARANG (Jatengdaily.com) — Suasana haru menyelimuti wajah Tantowi Jauhari ketika namanya diumumkan sebagai juara pertama ajang Musabaqah Hifzhil Qur’an (MHQ) 10 Juz yang diselenggarakan oleh Pesantren Tahfidz Al Quran MAJT-Baznas Jateng. Pemuda kelahiran Majalengka, 18 Juli 2004 itu tampak tak kuasa menyembunyikan rasa syukur setelah menerima plakat, piagam, dan hadiah uang tunai dari panitia.

Kepastian Tantowi sebagai juara pertama diumumkan dalam acara Kurma yang digelar di Ruang Utama Masjid Agung Jawa Tengah, Sabtu (7/3/2026) sore. Sebelumnya, babak grand final telah berlangsung di tempat yang sama sejak pukul 10.00 hingga 13.00 WIB.

Bagi Tantowi, kemenangan ini justru datang di luar dugaan. Ia mengaku tidak pernah menargetkan juara ketika memutuskan mengikuti perlombaan tersebut.

“Alhamdulillah, saya tidak menyangka bisa juara. Karena sebenarnya saya datang ke Semarang hanya untuk adaptasi sebelum mengikuti MTQ di kota ini pada bulan September nanti,” ujarnya dengan nada rendah hati.

Mahasiswa Universitas Majalengka yang juga merupakan santri di Ma’hadul Qur’an Al-Burhan ini sejak awal hanya berniat menambah pengalaman sekaligus mengukur kemampuan. Meski begitu, ia tetap mempersiapkan diri dengan serius sejak mendaftar sebagai peserta.

Pada babak final, Tantowi tampil bersama sembilan finalis lainnya yang terdiri dari lima peserta putra dan lima peserta putri dari berbagai daerah. Mereka bergantian menunjukkan kemampuan terbaik dalam menghafal Al-Qur’an tanpa melihat mushaf. Lantunan ayat-ayat suci dibaca dengan tartil, fasih, dan merdu, membuat suasana perlombaan terasa khidmat.

Empat dewan hakim yang menilai penampilan para finalis adalah Tholhatul Khoir, Ulil Abshor AH, M Abdul Faqih AH, dan Muh Syaifuddin.

Meski tidak ada penampilan yang benar-benar sempurna, kemampuan para finalis dinilai sangat baik dan membanggakan.

Sebagai pemenang, Tantowi menerima sertifikat, trofi, serta plakat berbentuk miniatur menara Masjid Agung Jawa Tengah. Ia juga memperoleh hadiah uang tunai Rp3 juta serta tambahan uang pembinaan dari Baznas Jawa Tengah sebesar Rp2 juta.

Total hadiah yang diterima para juara berbeda-beda. Juara pertama memperoleh Rp5 juta, juara kedua Rp4,5 juta, juara ketiga Rp4 juta, harapan pertama Rp3,5 juta, dan harapan kedua Rp3 juta.

Bagi Tantowi, penghargaan ini menjadi prestasi nasional kedua dalam perjalanan lomba tahfiz yang ia ikuti. Sebelumnya, pada tahun lalu ia berhasil meraih juara ketiga MHQ di Kendari.

Perjalanan menghafal Al-Qur’an yang ditempuhnya tidak terlepas dari inspirasi tokoh idolanya, Muhammad Ayyub, imam Masjid Nabawi yang dikenal dengan bacaan Al-Qur’an yang indah dan penuh kekhusyukan.

Pemuda yang kini tinggal di Desa Cilebut Timur, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor itu memegang teguh sebuah prinsip hidup sederhana namun kuat. “Jangan malu untuk bercita-cita dan berdoa. Karena Allah pasti akan mengabulkannya,” ujarnya.

Cita-citanya pun tidak tanggung-tanggung. Tantowi menargetkan diri dapat menjadi juara MHQ internasional 15 juz di Arab Saudi pada tahun 2027.

Ia juga menyampaikan kesan mendalam terhadap penyelenggaraan lomba yang diikutinya. Menurutnya, kegiatan tersebut berlangsung dengan tertib dan profesional. “Acara ini sangat rapi dan dikemas dengan sangat profesional oleh panitia,” katanya.

Kini, langkah Tantowi belum berhenti. Ajang ini hanyalah satu dari sekian perjalanan menuju mimpi yang lebih besar: mengharumkan nama Indonesia di panggung MHQ internasional.

Di balik suaranya yang tenang saat melantunkan ayat-ayat suci, tersimpan tekad besar seorang santri muda—menjadikan Al-Qur’an sebagai jalan menuju masa depan. sunarto

Share This Article
Exit mobile version