Desa Peron Bersiap Menghadapi Ancaman Longsor

Proses pembuatan irigasi berbahan bambu yang diprakarsai PPK Ormawa BEM FMIPA Unnes juga melibatkan alat berat ecxavator. Foto: dok

KENDAL (Jatengdaily.com) – Ketika ancaman longsor menghampiri sebuah wilayah, kesiapsiagaan menjadi langkah yang tidak bisa ditunda. Hal itu pula yang dilakukan masyarakat Desa Peron, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Kendal, melalui pembuatan irigasi berbahan bambu.

Kegiatan tersebut menjadi ruang kolaborasi antara masyarakat, Pemerintah Desa Peron, tim pelaksana PPK-ORMAWA BEM FMIPA UNNES , serta organisasi mahasiswa BEM FMIPA dalam membangun upaya antisipasi terhadap potensi bencana.

Ketua BEM FMIPA Unnes, Ronaldo Situmorang didampjngi Sekretaris Sabrina Fatmawati, menilai dukungan masyarakat menjadi bagian penting dalam keberlangsungan kegiatan.

Ia mengatakan bahwa warga memberikan respons positif dan ikut mengambil peran sejak tahap awal.

“Kegiatan ini sangat baik dan sangat disupport oleh warga. Kami memulai dengan pengambilan bambu yang cukup banyak dalam pembuatan irigasi ini dan partisipasi masyarakat cukup banyak,” ujarnya sambil menambahkan kalau keterlibatan warga kemudian diatur dalam 2 sesi, yakni pagi hingga siang dan siang hingga sore dan diikuti sekitar 56 warga.

Sementara itu, dari unsur mahasiswa, sekitar 7 ormawa turut dikerahkan untuk membantu kegiatan. Kehadiran organisasi mahasiswa tersebut memperkuat kerja sama antara kelompok mahasiswa dan masyarakat dalam pelaksanaan program di Desa Peron.

Antusiasme warga juga dirasakan langsung oleh tim pelaksana. Ketua Pelaksana Nadhifah Kultsum mengungkapkan rasa bangganya terhadap masyarakat yang mau andil ambil bagian dalam berbagai pekerjaan teknis selama proses pembangunan berlangsung.

“Tim pelaksana sangat bangga dengan antusias warga. Mereka ada yang mencari bambu, ada yang melakukan penanaman menggunakan alat berat eksafator, ada yang memotong bambu dan lain-lain. Kami sangat senang dengan antusias warga ini,” tutur Nadhifah melalui rilisnya, Rabu (19/8/2026).

Bagi tim pelaksana, banyaknya warga yang terlibat menunjukkan bahwa masyarakat memiliki kepedulian terhadap kondisi lingkungan di sekitarnya. Gotong royong menjadi cara warga untuk mengambil bagian dalam upaya pencegahan, bukan sekadar menunggu ketika bencana terjadi.

Kepala Desa Peron Erna Hermawati menegaskan pemerintah desa akan terus mendukung kegiatan yang bertujuan memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Kami sebagai pemerintah desa mendukung segala aktivitas ₩untuk desa, Mas. Selagi kami bisa mengerahkan warga untuk membantu adik-adik PPKO, akan kami lakukan terus demi keberlangsungan masyarakat Desa Peron,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah desa tidak hanya berperan sebagai pihak yang memberikan izin, tetapi juga berupaya menggerakkan masyarakat agar terlibat langsung dalam kegiatan yang berkaitan dengan kepentingan desa.

Melalui kegiatan ini, pembuatan irigasi bambu menjadi salah satu bentuk mitigasi berbasis masyarakat. Pembangunan dilakukan dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia sekaligus memperkuat hubungan antara warga, pemerintah desa, mahasiswa, dan tim pelaksana.

Pada akhirnya, kekuatan kegiatan tersebut bukan hanya terletak pada irigasi yang dibangun, tetapi pada orang-orang yang berada di baliknya. 56 warga dan 7 ormawa menjadi bagian dari gerakan bersama yang menunjukkan bahwa menghadapi ancaman longsor membutuhkan kepedulian dan kerja kolektif.

Desa Peron memilih untuk tidak menunggu bencana datang. Dari bambu yang dikumpulkan dan tangan-tangan yang bekerja bersama, tumbuh sebuah pesan sederhana: mitigasi dimulai ketika masyarakat mau bergerak. St

Share This Article
Exit mobile version