DMI dan Generasi Mas Indonesia

9 Min Read

Oleh:  Ahmad Rofiq

TANGGAL 22 Juni 1972 adalah hari lahirnya Organisasi Kemasyakatan Islam Dewan Masjid Indonesia (DMI), di Masjid Agung Sunda Kelapa Jakarta, tujuannya untuk “Mewujudkan fungsi masjid sebagai pusat ibadah, pengembangan masyarakat, dan persatuan umat”. Pada 2026 usia DMI memasuki usia ke-54.

Usia yang cukup matang, namun karena basis umat atau jamaahnya adalah masjid, tidak cukup seksi dan menarik bagi jagat politik di Indonesia. Apalagi di saat jelang pemilihan umum, apakah pemilihan presiden, pemilihan legislatif, atau pemilihan kepala daerah, terkait politik identitas, masjid ditabukan untuk berbicara politik.

Sementara harapan bangsa ini, berobsesi pada tahun 2045 di mana bangsa Indonesia akan merayakan satu abad peringatan hari proklamasi kemerdekaan Indonesia, akan lahir generasi emas. Jika harga emas sekarang ini di pasaran terbilang mahal, maka lahirnya generasi emas Indonesia, tentu, diharapkan terlahir generasi emas yang handal, cerdas namun berkarakter akhlak mulia, berhati masjid, memiliki keunggulan kompetitif di kancah internasional, namun tetap memiliki komitmen ke-Indonesiaan yang layak dibanggakan.

Hari ini kita berada di tanggal 6 Muharram 1448 H. Mari kita jadikan momentum hari ulang tahun Dewan Masjid Indonesia (DMI) ke-54 ini, untuk menyiapkan generasi muda yang berhati masjid, berbudaya masjid, agar terwujud generasi muda yang memiliki karakteristik professional, disiplin waktu, disiplin belar, dan disiplin di dalam menyikapi berbagai persoalan yang berkembang.

Tentu ini membutuhkan prakondisi dan prasyarat. Para orang tua, utamanya yang sedang diamanati oleh bangsa ini menjadi pemimpin, perhatikan aspirasi dan suara anak-anak muda, mereka ini jujur tidak memiliki kepentingan kecuali saying dan cinta pada bangsa ini.

Berilah mereka contoh dan teladan dari praktik kepemimpinan Anda, karena keteladanan akan menjadi pelajaran penting dan baik bagi mereka.

Dewan Masjid Indonesia (DMI) mengusung visi dan tagline “Memakmurkan dan Dimakmurkan Masjid”. Karena itu, saatnya para pemimpin bangsa ini, bisa bekerjasama dengan DMI untuk Bersama-sama menjadikan masjid bukan hanya sebagai tempat ibadah saja, namun sekaligus sebagai pusat peradaban dalam membangun masyarakat.

Terutama menyiapkan generasi muda yang memiliki kualitas iman dan taqwa yang mantap, dan siap memasuki era kompetisi dunia global, karena berhati masjid dan intelektualitas yang terbangun atas dasar Al-Quran.

Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan, Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw bersabda: “Ada tujuh orang yang mendapatkan perlindungan Allah di hari tidak ada perlindungan kecuali perlindungan-Nya: pemimpin yang adil, generasi muda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah Taala, seseorang yang hatinya tergantung di masjid, dua orang yang saling menyintai karena Allah berkumpul dan berpisah karena Allah, seseorang yang diajak oleh seorang perempuan yang memiliki kedudukan dan kecantikan, lalu ia berkata: sungguh aku takut kepada Allah, seorang laki-laki yang bersedekah dan menyembunyikan sedekahnya itu, hingga tangan kiri tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, dan seseorang yang berdzikir mengingat Allah di kesunyian, lalu berlinang tumpah air matanya”. (Muttafaq ‘alaih).

Generasi muda adalah harapan dan masa depan bangsa. Kata Ulama, Syababuna l-yaum rijaluna l-ghad. “Pemuda hari ini adalah tokoh di masa depan”. Ketika sura kritis mereka dipasung, diremehkan, dan tidak mendapat perhatian secara proporsional, maka mereka akan menemukan jalannya sendiri.

Di berbagai negara, termasuk Indonesia sendiri, ketika kekuasaan cenderung mengarah kepada kediktatoran dan militeristik, maka generasi muda yang akan melakukan langkah mereka, apakah melalui “parlemen jalanan” karena anggota parlemen yang dibiayai dari uang rakyat, tidak lagi memiliki sensitifitas politik yang membela rakyat, mereka yang akan mengambil peran tersebut.

Sejarah mencatat pada masa Rasululah saw, banyak sekali generasi muda, telah berhasil menorehkan sejarah yang sangat gemilang dalam membantu dakwah dan perjuangan Rasulullah saw. Setidaknya ada 11 (sebelas) sahabat yang dapat rbagai kegiatan madisebut sebagai referensi bagi anak-anak muda masa kini.

Mereka itu adalah: 1. Usamah bin Zaid (18 tahun). Memimpin pasukan yang anggotanya adalah para pembesar sahabat seperti Abu Bakar dan Umar untuk menghadapi pasukan terbesar dan terkuat di masa itu; 2. Sa’d bin Abi Waqqash (17 tahun). Yang pertama kali melontarkan anak panah di jalan Allah.

Termasuk dari enam orang ahlus syuro atau tim ahlul halli wal ‘aqdi yang memilih Utsman bin ‘Affan. 3. Al Arqam bin Abil Arqam (16 tahun). Menjadikan rumahnya sebagai markas dakwah Rasulullah saw selama 13 tahun berturut-turut. 4. Zubair bin Awwam (15 tahun). Yang pertama kali menghunuskan pedang di jalan Allah. Diakui oleh Rasulullah saw sebagai hawari (temen dan pedukung sangat setia)-nya. 5. Zaid bin Tsabit (13 tahun).

Penulis wahyu. Dalam 17 malam mampu menguasai bahasa Suryani, sehingga menjadi penerjemah Rasulullah saw. Hafal kitabullah dan ikut serta dalam kodifikasi Al Qur’an. 6. Atab bin Usaid (18 tahun). Diangkat oleh Rasulullah saw sebagai gubernur Makkah pada umur masih sangat muda. 7. Mu’adz bin Amr bin Jamuh (13 tahun) dan Mu’awwidz bin ‘Afra (14 tahun).

Membunuh Abu Jahal, jenderal kaum musyrikin, pada perang Badar. 8. Thalhah bin Ubaidullah (16 tahun). Orang Arab yang paling mulia berbaiat untuk mati demi Rasulullah saw pada perang Uhud dan menjadikan dirinya sebagai tameng bagi Nabi. 9. Muhammad Al Fatih (22 tahun).

Menaklukkan Konstantinopel ibu kota Byzantium pada saat para jenderal agung merasa putus asa. 10. Abdurrahman An Nashir (21 tahun). Pada masanya Andalusia mencapai puncak keemasannya. Dia mampu menganulir berbagai pertikaian dan membuat kebangkitan sains yang tiada duanya. 11. Muhammad Al Qasim (17 tahun). Menaklukkan India sebagai seorang jenderal agung pada masanya.

Oleh karena itu, di tengah berbagai tantangan, kita semua berkewajiban menciptakan suasana masjid yang ramah anak-anak dan anak muda.

Masjid akan mampu menyiapkan generasi muda menjadi calon pemimpin yang adil, hati mereka terpatri dengan masjid, saling menyintai karena Allah, memiliki keimanan yang Tangguh dan kedermawanan yang tinggi, dan generasi cerdas ulil albab, yang senantiasa berdzikir kepada Allah, akan dapat diwujudkan manakala mereka terbiasa dalam kehidupan dan kebudayaan berbasis masjid.

Ada beberapa langkah strategis yang perlu disiapkan: 1). Siapkan fasilitas agar anak-anak merasa nyaman berada di masjid. Jika suatu masjid tidak terdengar lagi suara anak-anak, pertanda satu generasi akan hilang. 2). Siapkan jaringan internet yang memadai, terkontrol dan terukur, agar anak-anak muda krasan dan merasa nyaman dengan kegiatan masjid. 3).

Undang para motivator yang kompeten berbasis masjid, yang telah sukses menjadikan masjid sebagai pusat peradaban dan menjadikan generasi muda hatinya terpatri di masjid. 4). Tanamkan iman, taqwa, dan keterampilan hidup, yang akan dapat menjadi pilihan aktivitasnya di masa depan yang menjanjikan secara ekonomi. 5).

Manfaatkan jejaring digital agar syiar Masjid akan mampu mencetak generasi muda yang beriman kepada Allah dan hari akhir, menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan generasi yang pemberani yang tidak takut memperjuangkan kebenaran, dan hanya takut kepada Allah, karena sesungguhnya mereka itu yang mendapat hidayah dari Allah.

Indonesia merdeka karena peran anak-anak muda yang sangat lama merindukan kemerdekaan Indonesia. Mereka sudah kehilangan rasa takut akan senjata kaum penjajah, karena itu meskipun, bersenjatakan bamboo runcing, karena keinginan kuat untuk segera meniimati kemerdekaan, maka di bawah kepemimpinan Bung Karno dan Bung Hatta diprokalmasikanlah kemerdekaan Indonesia.

Pada peristiwa Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, umur Bung Karno adalah 44 tahun (lahir 6 Juni 1901) dan umur Bung Hatta adalah 43 tahun (lahir 12 Agustus 1902). Sudah pasti Bung KArno dan Bung Hatta muda adalah aktifis.

Selamat Ultah DMI ke-54, semoga makin istiqamah dalam menyiapkan generasi emas Indonesia 2045, dan melahirkan parampemimpin yang jujur, adil, dan memiliki komitmen kebangsaan yang tinggi, menjadi bangsa yang mandiri. Allah a’lam bi sh-shawab.

Prof. Dr. H. Ahmad Rofiq, MA., Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Provinsi Jawa Tengah, Direktur LPPOM-MUI Jawa Tengah, Guru Besar Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Ketua Bidang Pendidikan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Ketua II YPKPI Masjid Raya Baiturrahman Semarang, Ketua DPS RSI-Sultan Agung Semarang, Wakil Ketua Dewan Pakar Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Pusat, Anggoata DPS BPRS Binan Finansia, Ketua DPS BPRS Kedung Arto Semarang.

Jatengdaily.com-St

Share This Article
Exit mobile version