SENGGI (Jatengdaily.com) – Tim 5 Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro (Undip) menginisiasi program “Pengembangan Komoditas Unggulan Tanaman Pertanian melalui Optimalisasi Produktivitas dengan Perbaikan Lahan dan Pendampingan Kelembagaan Menuju Ketahanan Pangan” di Satuan Permukiman (SP) 2, Distrik Senggi, Kabupaten Keerom, Papua.
Program ini dipimpin Prof. Ir. Didik Wisnu Widjajanto, M.Sc., Ph.D., bersama lima anggota tim, yakni Kholis Fa’iq Ababil, S.P.; Haristya Bagas Firmansyah, S.Tr.T.; Gebi Viola Claudia Situmorang, S.P.W.K.; Mayang Sari Jaya Madani, S.P.W.K.; dan Friskila Yunita Yaung, S.Sos.
Kegiatan diawali dengan survei lapangan untuk mengidentifikasi kondisi dan potensi lahan transmigrasi. Berdasarkan hasil survei, tim menetapkan lahan di SP 2 Jalur 3 berukuran 45 x 50 meter sebagai lokasi demonstration plot (demplot).
Demplot tersebut dirancang sebagai area budidaya sekaligus media percontohan untuk menguji komoditas pertanian yang sesuai dengan kondisi lingkungan setempat.
Untuk memperoleh data saintifik, tim mengambil sampel tanah untuk diuji di laboratorium serta mengukur pH tanah secara langsung di lapangan. Hasil awal menunjukkan pH tanah berada pada rata-rata sekitar 5 atau tergolong masam.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena dapat memengaruhi ketersediaan unsur hara. Karena itu, perbaikan kondisi tanah perlu dilakukan secara bertahap.
“Kita ingin pengembangan demplot ini tidak hanya langsung menanam, tetapi dimulai dari memahami kondisi lahannya terlebih dahulu. Dengan mengetahui karakteristik tanah, terutama kondisi pH yang masih masam, pengelolaan lahan dan pemilihan komoditas dapat dilakukan dengan lebih tepat,” ujar Gebi Viola Claudia Situmorang, anggota Tim 5 Ekspedisi Patriot Undip.
Karakteristik tanah tersebut menjadi dasar penyusunan tata ruang atau site plan bedeng demplot. Selain mengolah tanah, tim memanfaatkan limbah lokal dengan mengolah gabah padi menjadi sekam bakar. Sekam tersebut kemudian dicampur dengan tanah dan pupuk kandang sebagai media persemaian.
Pada tahap ini, tim melakukan diversifikasi komoditas dengan menyemai berbagai tanaman pangan dan hortikultura, seperti cabai keriting, cabai rawit, tomat, jagung, edamame, sawi, kacang panjang, kangkung, terong ungu, dan bayam.
Langkah tersebut bertujuan memetakan jenis tanaman unggulan yang paling potensial dikembangkan di SP 2 Senggi.
Seluruh tahapan yang dilakukan Tim 5, mulai dari survei, analisis pH tanah, penyusunan site plan, pemanfaatan sekam bakar, hingga teknik persemaian, menunjukkan bahwa pengembangan pertanian di SP 2 Jalur 3 dilakukan secara terencana dan terukur dengan memanfaatkan sumber daya lokal.
Demplot ini diharapkan menjadi ruang pembelajaran bagi warga untuk melihat langsung pengelolaan lahan, perbaikan kondisi tanah, dan diversifikasi komoditas.
“Demplot ini kami harapkan bukan sekadar menjadi tempat menanam, tetapi menjadi lahan percontohan yang bisa memberikan pembelajaran kepada masyarakat. Dari sini kita dapat melihat komoditas mana yang potensial, bagaimana kondisi tanahnya, dan bagaimana lahan dapat dikelola dengan lebih optimal,” kata Gebi.
Keberadaan demplot juga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat melalui contoh praktik budidaya yang dapat dipelajari bersama.
Sybur, salah satu petani di SP 2 Senggi, mengaku mendapat gambaran baru dalam memanfaatkan lahan.
“Selama ini lahan memang sudah dimanfaatkan untuk bertani, tetapi dengan adanya kegiatan seperti ini kami bisa melihat cara pengelolaan dan jenis tanaman yang bisa dicoba. Harapannya nanti hasil dari demplot ini bisa menjadi contoh dan membantu masyarakat dalam mengembangkan lahan,” ujar Sybur.
Tim 5 Ekspedisi Patriot Undip berupaya mendorong pemanfaatan lahan secara produktif, memperkuat kapasitas masyarakat, dan membuka peluang diversifikasi hasil pertanian agar warga tidak bergantung pada satu komoditas.
Inisiatif ini diharapkan dapat mendukung penguatan ketahanan pangan di Kabupaten Keerom, Papua. Program tersebut juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui penguatan produksi pangan, SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pemanfaatan sekam bakar secara sirkular, serta SDG 15 (Ekosistem Daratan) melalui pemulihan kualitas tanah dan pengelolaan lahan berkelanjutan. she


