Film Horor Aku Harus Mati Karya Hestu Saputra Angkat Cerita Lokal 

JAKARTA (Jatengdaily.com)– Sutradara Hestu Saputra kembali mengangkat kekuatan cerita lokal lewat film horor “Aku Harus Mati”, yang sarat nuansa mistis Jawa—wilayah yang memang sudah menjadi “rumah” bagi gaya penceritaannya.

Dari sisi teknis, film ini menunjukkan peningkatan dibanding karya-karya Hestu sebelumnya. Atmosfer dibangun lebih rapi, dengan sentuhan visual dan ritme cerita yang cukup terjaga. Namun, persoalan muncul pada kekuatan narasi yang terasa kurang fokus. Tokoh utama yang seharusnya menjadi poros cerita justru kerap tenggelam, membuat alur bergerak ke berbagai arah tanpa pijakan yang kuat.

Kehadiran para pemain yang belum sepenuhnya matang juga membuat emosi cerita tidak tersampaikan secara maksimal, sehingga film terasa kurang “menggigit”, meski memiliki potensi yang besar.

Padahal, ide cerita yang diusung sangat relevan dengan kondisi saat ini. Fenomena flexing di media sosial menjadi pintu masuk kritik sosial dalam film ini—tentang bagaimana standar kesuksesan kerap diukur dari tampilan luar. Ambisi untuk terlihat berhasil mendorong banyak orang mengambil jalan pintas, bahkan hingga terjerat hutang dan kehilangan kendali atas hidupnya.

“Judul dan isi terasa kurang menyatu, sehingga alurnya seperti berputar-putar dan membingungkan. Kalau didukung pemain dengan nama besar, mungkin daya jualnya akan jauh lebih kuat,” ujar Ody Mulya Hidayat, produser film Dilan.

Hal senada diungkapkan Sutrisno Buyil, wartawan film senior sekaligus Ketua Umum FORWAN Indonesia. Ia menilai keberhasilan film memang sulit diprediksi, namun faktor bintang tetap punya pengaruh besar.

“Film itu tidak ada rumusnya. Ada yang digarap sederhana malah meledak, ada juga yang serius dan mahal tapi tidak sesuai harapan. Tapi kalau ada artis beken, minimal bisa memancing penonton datang,” ujarnya.

Di balik kekurangan tersebut, “Aku Harus Mati” tetap menyimpan pesan kuat. Diproduksi Rollink Action bersama Executive Producer Irsan Yapto dan Nadya Yapto, film ini mencoba mengajak penonton merenungkan makna kesuksesan yang sesungguhnya.

“Tekanan untuk terlihat sukses sering membuat orang tergoda mencari jalan instan. Film ini mengajak kita bertanya, apakah kesuksesan yang dipamerkan itu benar hasil kerja keras, atau justru ada ‘harga’ lain di baliknya,” kata Irsan Yapto.

Cerita berpusat pada Mala (Hana Saraswati), seorang yatim piatu yang larut dalam gemerlap kehidupan kota. Demi pengakuan, ia terjebak hutang dan dikejar debt collector. Dalam kondisi terdesak, Mala kembali ke panti asuhan, tempat masa lalunya tersimpan.

Di sana, ia bertemu kembali dengan Tiwi (Amara Sophie), Nugra (Prasetya Agni), dan sosok misterius Ki Jogo (Bambang Paningron). Kepulangannya justru membuka lapisan misteri yang menyeretnya pada rahasia kelam dan ancaman yang tak terduga.

Menurut Hestu Saputra, film ini bukan sekadar horor, tetapi juga refleksi kehidupan.

“Ambisi dan kebutuhan akan validasi bisa membuat seseorang kehilangan arah. Film ini menjadi pengingat bahwa kesuksesan sejati datang dari proses, bukan jalan pintas yang berisiko menghancurkan diri sendiri,” ujarnya.

Dijadwalkan tayang mulai 2 April 2026, “Aku Harus Mati” hadir bukan hanya sebagai tontonan penuh teror, tetapi juga sebagai cermin—tentang ambisi, ilusi, dan pilihan hidup di era yang serba instan.

Pada akhirnya, film ini meninggalkan satu pertanyaan sederhana namun mengusik: apa sebenarnya harga dari sebuah pengakuan? Buyil-she

Share This Article
Exit mobile version