SEMARANG (Jatengdaily.com) – PT Pelayaran Nasional Indonesia atau PT PELNI (Persero) terus mendorong optimalisasi aset non-kapal guna memperkuat pendapatan komersial. Salah satu langkah konkret diwujudkan melalui peresmian restoran “Pagi Sore” di kawasan Kota Lama, Semarang, pada Jumat (3/4/2026).
Direktur Usaha Angkutan Penumpang PELNI, Nuraini Dessy Winiastuty, mengatakan bahwa perusahaan memiliki banyak aset yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Melalui kerja sama dengan pelaku usaha, termasuk UMKM, aset-aset tersebut kini mulai dikomersialkan.
“PELNI tidak hanya memiliki kapal, tetapi juga aset darat berupa gedung dan lahan. Saat ini kami memiliki sekitar 150 lebih aset, dan sekitar 14 persen di antaranya masih idle dan berpotensi untuk dikembangkan,” ujar Dessy.
Ia menjelaskan, optimalisasi aset ini telah digencarkan sejak 2024 dan semakin diperluas pada 2025 dengan membuka peluang kerja sama seluas-luasnya kepada investor dan pelaku usaha. Konsep kerja sama yang diterapkan umumnya berbasis sewa, di mana pihak penyewa bertanggung jawab atas renovasi dan pengelolaan usaha.
Restoran “Pagi Sore” di Kota Lama menjadi salah satu contoh konkret pemanfaatan aset tersebut. Selain itu, PELNI juga tengah menyiapkan pembukaan kafe lain seperti “The Braga” yang direncanakan beroperasi dalam waktu dekat di lokasi yang sama.
Tidak hanya di Semarang, optimalisasi aset juga menyasar sejumlah kota lain seperti Belawan, Padang, Balikpapan, dan Ternate. Sebagian besar aset komersial ini dimanfaatkan untuk minimarket, coffee shop, perkantoran, hingga pusat kuliner yang melibatkan pelaku usaha lokal.
Dessy mengakui, kontribusi pendapatan dari sektor aset saat ini masih belum signifikan dibandingkan pendapatan dari skema Public Service Obligation (PSO). Namun, PELNI menargetkan ke depan dapat mengurangi ketergantungan terhadap PSO melalui penguatan sektor komersial.
“Ke depan, kami ingin pendapatan komersial semakin meningkat, sehingga tidak lagi bergantung pada PSO. Optimalisasi aset menjadi salah satu kunci untuk mencapai target tersebut,” tegasnya.
Melalui strategi ini, PELNI berharap tidak hanya meningkatkan kinerja keuangan perusahaan, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi daerah dengan melibatkan UMKM dan pelaku usaha lokal dalam pemanfaatan aset BUMN.
Khusus di Semarang, PELNI juga tengah merenovasi aset yang berada di depan restoran Pagi Sore. Selain itu, satu gedung lain bernama Debraga tengah dalam proses kerja sama dan direncanakan menjadi kafe yang ditargetkan buka dalam dua bulan ke depan. Satu lokasi lainnya juga diproyeksikan mulai beroperasi pada akhir bulan ini.
Menurut Nuraini, pemanfaatan aset komersial dilakukan melalui kerja sama dengan berbagai pihak, mulai dari minimarket, coffee shop, UMKM daerah hingga penyewaan untuk perkantoran dan kafe.
Namun demikian, kontribusi pemanfaatan aset terhadap pendapatan perusahaan saat ini masih relatif kecil. PELNI masih bergantung pada pendapatan dari skema Public Service Obligation (PSO).
“Ke depan, kami berharap aset yang sebelumnya tidak produktif dapat memberikan kontribusi dan mengurangi ketergantungan terhadap PSO,” jelasnya.
Selain aset darat, PELNI juga mulai mengoptimalkan aset di kapal, seperti pemasangan iklan di badan kapal serta membuka peluang tenant komersial di atas kapal.
Sementara itu, Vice President Usaha Komersial PELNI, Berryl A. Insanul Firdaus, menambahkan pihaknya turut mendorong pelaku UMKM untuk berkembang melalui pemanfaatan aset perusahaan.
“Kami menyasar UMKM agar bisa mendapatkan lokasi usaha yang strategis melalui kerja sama ini,” katanya.
Ia mengungkapkan, kontribusi aset terhadap pendapatan perusahaan masih di bawah 10 persen dibandingkan bisnis utama pelayaran. Meski begitu, optimalisasi aset sudah mulai dilakukan sejak 2024 melalui tahap inventarisasi dan pemetaan potensi, serta mulai menunjukkan progres kerja sama pada 2025.
“Karena keterbatasan anggaran, kami umumnya menggandeng investor yang bersedia melakukan renovasi secara mandiri. Pelni menyediakan aset, sementara biaya renovasi ditanggung penyewa,” jelasnya.
Manager Pengusahaan Properti PELNI, Uli Octalinasda Sitinjak, menilai Semarang memiliki potensi besar sebagai kota heritage sehingga aset di wilayah tersebut menarik untuk dikembangkan.
“Saat ini sudah ada dua gedung yang dimanfaatkan, masing-masing untuk coffee shop dan restoran ”Pagi Sore”,” ujarnya. she


