Oleh: KH. Anis Maftukhin

Jangankan di lapis akar rumput, di balik pintu-pintu ruang rapat ber-AC pengurus PCNU dan PWNU, hingga forum diskusi berdasi para elite NU di Jakarta pun, perbincangannya seragam. Maklum saja, pada 27–31 Agustus 2026 nanti, gerbong besar Nahdlatul Ulama akan menggelar hajatan akbar: Muktamar Ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang.
Biasanya, kalau Muktamar sudah di pelupuk mata, tensi jamiah mendadak naik. Para kiai dan pengurus sibuk menggelar bahtsul masail—bukan semata menyoal hukum fikih kontemporer, tapi juga meraba “hukum” suksesi. Siapa nakhoda berikutnya? Di tengah dahi-dahi yang mulai berkerut tegang itulah, sebuah nama melintas dan sukses membuat senyum para muhibbin merekah: KH. M. Yusuf Chudlori, atau yang akrab disapa Gus Yusuf.
Mendengar nama Pengasuh Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo ini masuk bursa Calon Ketua Umum PBNU, rasanya seperti disuguhi teh hangat campur gula batu usai lelah mendaras Kitab Taqrib. Manis, melegakan, dan bikin ayem.
Kiai yang “Ngayomi” Tanpa Harus Berteriak
Gus Yusuf adalah tipikal kiai yang kalau kita sowan ke ndalem-nya, bawaannya ingin langsung curhat. Aura wajahnya teduh dan ngayomi. Beliau punya senyum khas pengasuh pesantren salaf yang hafal betul tabiat santrinya—dari yang paling rajin muthala’ah sampai yang hobinya ghosob sandal jepit di beranda musala. Beliau tidak meledak-ledak. Tutur katanya tertata. Namun, sekali beliau dawuh, yang mendengar akan refleks menunduk dan bergumam, “Sami’na wa atha’na.”
Di tengah iklim organisasi yang belakangan terasa terlalu birokratis dan kaku, kehadiran sosok seperti Gus Yusuf ibarat oase. Beliau mengingatkan kita pada satu hal mendasar: NU itu, pada hakikatnya, adalah sebuah pesantren raksasa. Dan di pesantren, relasi antara pemimpin dan yang dipimpin bukanlah hubungan bos dan bawahan, melainkan bapak dan anak, kiai dan santri. Penuh mahabbah (cinta kasih) dan rahmah (kasih sayang).
Titik Temu DNA Mbah Hasyim dan Lelucon Gus Dur
Mari kita jujur-jujuran saja. Warga NU saat ini sebenarnya sedang didera rindu berat. Kita merindukan sosok pemimpin puncak yang memiliki sanad keilmuan dan keteguhan prinsip sekokoh Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari, namun di saat yang sama, memiliki langgam yang luwes, jenaka, dan gampang merangkul ala KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Hebatnya, di dalam diri Gus Yusuf, kedua “DNA” langka ini tanpa sengaja berkumpul:
Jalur Mbah Hasyim: Secara kultural, Gus Yusuf adalah produk tulen dari kerasnya gemblengan Lirboyo dan pewaris takhta Tegalrejo dari sang ayah, Mbah Chudlori.
Kitab kuningnya muttasil, wiridnya istiqamah. Beliau adalah representasi kiai yang benar-benar menjaga gawang Ahlussunnah wal Jama’ah dari subuh hingga subuh lagi. Wibawa spiritualnya (wara’) tak perlu diperdebatkan.
Jalur Gus Dur: Namun, coba lihat tatkala beliau melangkah keluar dari gerbang pesantren. Beliau bisa duduk bersila membahas kebudayaan bareng seniman Komunitas Lima Gunung, fasih membicarakan nasib umat, dan sangat lincah berorganisasi.
Mirip Gus Dur, Gus Yusuf punya kecerdasan meramu lelucon untuk mencairkan ketegangan—membuat jamaah tertawa lepas sebelum menyadari bahwa mereka sebenarnya sedang diajak muthala’ah tentang realitas kehidupan berbangsa.
Beliau membuktikan bahwa menjadi kiai di tengah-tengah kaum nahdliyin tidak lantas harus kaku dan melulu duduk di mihrab. Seorang pemimpin NU harus sudi turba (turun ke bawah), menggelar tikar di serambi musala, dan sabar mendengarkan keluh-kesah pengurus ranting yang kas organisasinya sering mepet sekadar untuk menggelar acara maulidan.
Menjemput Maslahat di Tambakberas
Lantas, mengapa Gus Yusuf ini penting untuk kita doakan dan dukung secara moral menuju Tambakberas? Jawabannya sederhana, namun sangat esensial: Warga NU butuh PBNU yang benar-benar memikirkan urusan umat, bukan sekadar elite yang asyik menari di panggung kekuasaan.
Belakangan ini, jamaah di akar rumput—mulai dari ibu-ibu yang rajin mengumpulkan koin NU sampai bapak-bapak yang bergotong-royong membangun madrasah—kerap merasa jarak antara elite di Jakarta dan ranting di daerah terlampau jauh.
Gus Yusuf adalah kiai muharrik (penggerak) yang telah membuktikan sikap legawanya saat menanggalkan jabatan politik praktis demi kembali fokus pada pendidikan santri dan pemberdayaan ekonomi umat. Beliau tahu persis kapan harus “ngegas” untuk urusan kesejahteraan warga, dan kapan harus “ngerem” agar organisasi tidak terseret arus deras politik musiman yang melelahkan.
Maka, menjelang Agustus 2026 ini, rasanya pantas belaka jika di penghujung doa quranan dan tahlilan, kita menyisipkan secarik puji harapan. Semoga dari rahim Muktamar Bahrul Ulum Tambakberas kelak, lahir seorang nakhoda yang mampu menenangkan hati.
Dukungan moral bagi Gus Yusuf bukanlah urusan menang-menangan kubu, melainkan ikhtiar ngalap berkah untuk mengembalikan NU ke khittah sejatinya: sebagai tenda besar yang mengayomi, membimbing, dan—sesekali—mengajak umatnya tertawa bahagia mensyukuri karunia Tuhan.
Ila ruhi Muktamar yang riang gembira dan bermartabat, Al-Fatihah.
Penulis, Pengasuh Ponpes WALI, Tuntang Kabupaten Semarang
Ketua Gerakan Kebangkitan Nahdliyyin Muda