Oleh: Ahmad Rofiq
SENIN 15/6/2026 adalah hari terakhir, 29 Dzulhijjah 1447 H, dan nanti malam kaum Muslimin di seluruh dunia menyambut 1 Muharram 1448 H. Berarti hari ini adalah hari tutup buku tahun 1447 H dan mengawali 1448 H.
Sebagai hamba Allah ajal kita bertambah dekat, meskipun Allah tidak menggunakan deret angka dalam perintah kepada kita untuk kembali ke haribaan-Nya. Karena itu, peralihan atau pergantian tahun 1447 H ke 1448 H merupakan momentum untuk muhasabah dan evaluasi diri.
Apakah kita sebagai hamba Allah yang diamanati memikul tugas kekhalifahan di muka bumi ini, dapat meneladani Rasulullah saw, agar menjadi hamba-hamba Allah yang berprestasi dan beramal shalih yang terbaik (QS. Al-Mulk (67): 2) ataukah sebaliknya, lebih asyik dengan urusan tetek bengek duniawi, yang melupakan jati diri kita yang sesungguhnya.
Hidup ini hanya ada tiga momentum, kemarin, hari ini, dan esok. Hari kemarin, tidak bisa diputar ulang lagi, kecuali hanya rekaman amal perbuatan kita. Tetapi Allah memerintahkan kita untuk menjadikan hari kemarin sebagai kaca spion untuk merencanakan masa depan yang lebih baik (QS. Al-Hasyr:18).
Hari ini, hidup yang kita jalani, sesuai dengan rencana dan kehendak Allah ‘Azza wa Jalla. Esok adalah hari yang kita tidak tahu, kitab boleh dan diperintahkan untuk merencanakannya, akan tetapi semua tergantung pada kehendak dan taqdir-Nya.
Spirit hijrah adalah strategi untuk hidup sukses, baik dalam skala individu maupun dalam skala besar dalam mengelola umat dan bangsa. Rasulullah saw berjuang selama 12 tahun di Mekah, mendapatkan pengikut sebanyak kurang lebih 200 orang.
Ada tiga peristiwa hijrah, pertama, hijrah ke Habasyah (Ethiopia modern) atas saran Nabi Muhammad SAW. Peristiwa ini bertujuan untuk menyelamatkan kaum Muslimin dari penyiksaan kaum kafir Quraisy dan mencari suaka politik kepada Raja Najasyi yang dikenal adil.
Hijrah ke Habasyah ini menurut beberapasumber, terjadi dua tahap. Pertama (615 M) bertepatan dengan bulan Rajab tahun ke-5 kenabian, diikuti oleh 12 pria dan 4 wanita (termasuk Utsman bin Affan dan istrinya Ruqayyah, serta Ja’far bin Abi Thalib).
Mereka kembali ke Makkah setelah 3 bulan akibat kabar bohong bahwa Quraisy telah memeluk Islam. Tahap kedua, dilakukan karena kondisi di Makkah memburuk kembali. Kali ini melibatkan lebih dari 80 sahabat dan menetap dalam waktu yang lebih lama hingga masa kenabian di Madinah.
Kedua, hijrah ke Thaif. Nabi Muhammad SAW hijrah ke Thaif pada tahun ke-10 kenabian, bertujuan mencari perlindungan dan dukungan dakwah pasca wafatnya Abu Thalib dan Khadijah. Zaid bin Haritsah yang menemai Nabi berjalan kaki menempuh jarak sekitar 80 km dari Mekkah.
Selama lebih dari 10 hari, pemuka suku Thaif menolak ajakan Islam dan menghasut penduduk untuk melempari Nabi dengan batu. Ada yang menyebutkan, lemparan batu tersebut, mengenai pelipis Beliau, mengucurkan darah dan membasahi baju beliau. Zaid bin Haritsah juga terluka di bagian kepala karena melindungi beliau.
Malaikat Jibril pun seperti geram, melihat beliau terluka. Jibril pun menawarkan kepada Nabi untuk menghancurkan Thaif dengan menimpakan gunung kepadanya, namun ditolak. Nabi justru berdoa agar kelak lahir keturunan dari penduduk Thaif yang menyembah Allah.
Doa yang terkenal beliau kepada warga Thaif, Allahumma ihdi qaumii fa innahum laa ya’lamuun. “Wahai Allah, berilah hidayah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahuinya”.
Ketiga, hijrah ke Yatsrib pada 622 M. Perjalanan ini dilakukan atas perintah Allah SWT untuk menyelamatkan umat Islam dari penindasan kaum Quraisy, sekaligus membangun pusat peradaban dan dakwah Islam yang baru. Namun ada beberapa peristiwa sejarah yang harus diingat, yakni perjanjian ‘Aqabah, antara dua suku besar Aus dan Khazraj dengan Nabi Muhammad saw.
Mereka sepakat akan membantu Rasulullah saw ketika beliau sudah sampai di Yatsrib atau Madinah. Melalui berbagai langkah, di antaranya pada tahun ke-2 H, beliau membuat konstitusi yang sering disebut Piagam/Risâlah/Mitsâq Madînah, perjanjian Hudaibiyah tahun ke-6 H, dan masih banyak strategi lainnya, warga Makkah berbondong-bondong masuk Islam, dan tidak sampai 25 tahun seluruh semenanjung Arabia, dan semenanjung Arabia telah menganut agama Islam.
Hijrah Kunci Sukses
Rasulullah saw bersabda: “Al-Muslimu man salima l-muslimūn min lisânihi wa yadihi. Wa l-muhâjiru man hajara mimmâ nahâ Allâh ‘anhu” artinya “orang Islam – yang benar adalah – orang yang Islam lainnya merasa selamat (nyaman) dari tutur kata lisannya dan tangan – atau kekuasaan-nya, dan orang yang hijrah adalah orang yang pindah dari hal-hal yang dilarang oleh Allah” (Riwayat al-Bukhârî).
Sebagai hamba Allah, manusia diciptakan sebagai hamba yang terbaik dan diberi hidup di muka bumi ini, adalah untuk beribadah dan mengabdi kepada-Nya. Selain ibadah mahdlah atau ibadah ritual-vertikal kepada Allah, juga harus dibuktikan dengan ibadah sosial-horizontal.
“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia,dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas” (QS. Ali ‘Imran (3): 112).
Rasulullah saw bersabda: “Khairu n-nâs anfa’uhum li n-nâs” artinya “sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat pada orang lain” (Riwayat Ath-Thabrani). Karena itu, untuk menjadi manusia yang bermanfaat, perlu pemahaman yang memadai terhadap ajaran agama, baik dalam hal tata cara beribadah, atau bagaimana mengimplementasikan nilai-nilai dan value ibadah itu, dalam kehidupan sehari-hari.
Ini membutuhkan pemahaman dan pengamalan agama yang moderat (tawasuth), seimbang (tawazun), menjunjung tinggi keadilan (ta’adul), dan toleran di dalam menghormati dan menghargai perbedaan (tasamuh), apakah itu dalam urusan pilihan agama, adat istiadat, etnis, dan budaya, menjadi sangat urgen atau penting.
Rasulullah saw membekali: “Barangsiapa membebaskan seorang mukmin dari kesulitan hidup di dunia, maka Allah akan membebaskannya dari suatu kesulitan pada hari kiamat. Barangsiapa memberi kemudahan kepada orang yang berada dalam kesulitan, maka Allah akan memberikan kemudahan di dunia dan akhirat.
Barangsiapa menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan selalu menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya sesama muslim. Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan ke surga baginya.
Tidaklah sekelompok orang berkumpul di suatu masjid (rumah Allah) untuk membaca al-Qur’an, melainkan mereka akan diliputi ketenangan, rahmat, dan dikelilingi para malaikat, serta Allah akan menyebut-nyebut mereka pada malaikat-malaikat yang berada di sisi-Nya.” (Hadits Riwayat Muslim, Shahîh Muslim, juz VIII, hal. 71, hadits no. 7028, dari Abu Hurairah ra.).
Rasulullah saw mengingatkan: “Barang siapa hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka dia tergolong orang yang beruntung, barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin maka dia tergolong orang yang merugi dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dialah tergolong orang yang terlaknat atau tertipu (maghbūn).” (HR. Al Hakim).
Hijrah yang secara harfiyah adalah berpindah, pada hakikatnya, adalah meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah. Hal-hal yang dilarang oleh Allah, adalah hal-hal apabila dilanggar, membawa dampak yang menghadirkan ketidaknyamanan dalam hidup. Dan yang lebih penting lagi, larangan Allah adalah larangan agama, budaya, dan hal-hal yang tidak pantas bagi kepatutan dalam hidup.
Perilaku korupsi, kejahatan dengan berbagai modus, kebohongan, dan berbagai ketidakpantasan, yang mengganggu kesalehan sosial. Dalam Bahasa Rasulullah saw, “tidak ada artinya kesalehan ritual Anda, sementara ada tetanggamu yang kelaparan”.
Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, kita berharap semua pemimpin bangsa ini dapat belajar dan mengambil spirit hijrah. Jika bangsa ini ingin sukses, maka para pemimpin bangsa ini, dengan rendah hati perlu belajar kepada Rasulullah saw. untuk berhijrah.
Tinggalkanlah praktik-praktik tata kelola bangsa dan negara yang tidak benar, gantikan dengan yang benar, junjung tinggi kejujuran dan kepentingan rakyat. Imam Asy-Syafi’i, menegaskan “tasharruf al-imam ‘ala ar-ra’iyyati manuthun bi al-mashlahah” artinya “tindakan pemimpin untuk kepentingan rakyatnya hendaklah berorientasi pada kemashlahatan”.
Kemashlahatan yang terukur, dibangun atas kejujuran dan tidak direkayasa untuk kepentingan pragmatis tertentu, apalagi dilakukan untuk kepentingan korupsi secara terang benderang”.
Indonesia adalah negara yang kaya raya kerena kekayaan alam yang berlimpah, emas, nikel, dan hasil hutan yang luar biasa, tetapi karena salah urus, sebagian warga tetap hidup dalam kemiskinan. Ingat, bahwa kalian akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan mahkamah akhirat yang sangat adil, dan tidak bisa kalian rekayasa dengan tipudaya.
Selamat Tahun Baru 1 Muharram 1448 H, semoga Allah senantiasa menolong dan memberkahi hidup kita, dan Anda semua senantiasa dalam kebaikan dan keberkahan dari Allah, sehingga kita mampu mengisi torehan tinta mas prestasi dan amal shalih dalam hidup keberkahan. Hasbunâ Allâh wa ni’ma l-wakîl ni’ma l-maulâ wa ni’ma n-nashîr. Allah a’lam bi sh-shawâb. Jatengdaily.com- St


