Idul Fitri: Makna Pulang ke Kampung Halaman

DR KH Multazam Ahmad.

Oleh: Dr. Multazam Ahmad, M.A.
Wasekjen Dewan Masjid Indonesia Pusat, Sekretaris MUI Jawa Tengah, dan Takmir Masjid Raya Baiturrahman Jawa Tengah

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Lā ilāha illallāhu wallāhu akbar. Allāhu akbar walillāhil hamd.

Kalimat takbir dan tahmid senantiasa mengiringi datangnya Hari Raya Idul Fitri 1447 H/2026 M. Lantunan tersebut tidak sekadar gema suara, melainkan getaran spiritual yang menyentuh relung hati kaum muslimin yang baru saja menuntaskan ibadah puasa Ramadhan.

Secara umum, Idul Fitri dipahami sebagai momentum “kembali kepada kesucian” (tazkiyatun nafs). Namun, lebih dari itu, Idul Fitri juga dapat dimaknai sebagai perjalanan pulang menuju kampung halaman.

Pulang dalam konteks ini bukan sekadar perjalanan fisik melintasi jarak, tetapi juga sebuah perjalanan spiritual dan psikologis yang mendalam—sebuah rekoneksi dengan akar kehidupan (the return to roots).

Dalam perspektif filosofis, manusia kerap diibaratkan seperti pohon. Sejauh apa pun ranting dan dahan menjulang ke langit—melambangkan karier, prestasi, dan kesuksesan—ia tetap membutuhkan tanah tempat berpijak.

Tanpa akar yang kuat, pohon akan mudah tumbang. Demikian pula manusia, yang perlu sesekali “pulang” untuk menyentuh kembali asal-usulnya.

Dalam khazanah spiritual Jawa, dikenal konsep “Sangkan Paraning Dumadi”, yaitu pemahaman tentang asal dan tujuan akhir kehidupan manusia. Konsep ini mengajarkan bahwa manusia berasal dari Tuhan dan pada akhirnya akan kembali kepada-Nya.

Manusia diyakini berasal dari percikan cahaya Ilahi (Nur Ilahi), sehingga sejatinya ia bukan entitas yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari kesatuan yang lebih besar.

Kesadaran ini penting agar manusia tidak larut dalam identitas duniawi—jabatan, kekayaan, atau status sosial—yang kerap membuatnya lupa akan hakikat diri. Idul Fitri hadir untuk mengingatkan kembali siapa kita sebelum dunia memberi kita berbagai label dan beban.

Pemikir Muslim terkemuka, Ali Syariati, menegaskan bahwa pengagungan dan pengumandangan asma Allah SWT pada Idul Fitri merupakan bentuk deklarasi kemenangan manusia atas egoisme.

Manusia pada hakikatnya dilahirkan dalam keadaan merdeka dan memiliki kemuliaan yang sama. Oleh karena itu, tidak ada yang patut disembah, ditakuti, dan dituju selain Allah SWT.

Penghambaan kepada selain Allah—baik dalam bentuk pengagungan berlebihan terhadap jabatan, kekayaan, maupun kepandaian—sering kali membuat manusia silau dan kehilangan jati diri. Bahkan, hal tersebut dapat menjerumuskan seseorang pada sikap merendahkan orang lain, yang jelas tidak dibenarkan dalam ajaran Islam.

Ibadah puasa selama bulan Ramadhan menjadi sarana pendidikan yang sangat efektif. Allah SWT menjanjikan ampunan bagi hamba-Nya yang menjalankannya dengan penuh keimanan dan keikhlasan.

Puasa mengantarkan manusia kembali kepada fitrah kesuciannya—suci dalam ucapan, perilaku, dan akhlak.
Sebagaimana firman Allah SWT:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Kemenangan sejati pada Idul Fitri bukanlah kemenangan yang bersifat lahiriah.

Rasulullah SAW pernah mengingatkan bahwa hari raya bukanlah milik mereka yang mengenakan pakaian mewah, melainkan bagi mereka yang meningkat ketaatan dan kepatuhannya kepada Allah SWT.

Dari sini, kita memahami bahwa Islam adalah agama yang hanif—lurus dan sederhana—yang tidak mengajarkan gaya hidup hedonis. Kemenangan bukan terletak pada kemewahan, melainkan pada kualitas spiritual dan kedekatan kepada Allah SWT.

Lalu, siapa yang layak disebut sebagai al-fā’izīn—orang-orang yang meraih kemenangan?

Pertama, mereka yang berhasil menjalani “latihan” jasmani dan rohani selama bulan Ramadhan. Secara jasmani, mereka mampu menahan hawa nafsu, baik yang bersumber dari kebutuhan perut maupun dorongan biologis.

Secara rohani, mereka mampu membedakan antara yang baik dan buruk, serta menjaga hati dari hal-hal yang merusak.

Kedua, mereka yang mampu menggeser orientasi hidup dari egoisme menuju kepedulian. Egoisme—baik dalam bentuk kelompok, golongan, politik, maupun ekonomi—merupakan salah satu krisis besar kehidupan modern.

Pemikir seperti Martin Lings menyebutnya sebagai bagian dari krisis spiritual manusia modern yang berbahaya.

Puasa, jika dijalankan dengan iman dan takwa, akan melahirkan kepekaan sosial. Seseorang menjadi lebih peduli terhadap sesama, lebih empati, dan lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan sekitarnya.

Ketiga, mereka yang mampu menumbuhkan kesabaran. Puasa adalah madrasah kesabaran yang mendidik manusia untuk konsisten dalam ketaatan—menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Rasulullah SAW bersabda:

“Tidaklah seseorang diberikan suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Akhirnya, Idul Fitri hendaknya kita jadikan sebagai momentum untuk mendeklarasikan kebaikan dan kesucian diri (tazkiyatun nafs), sekaligus kemenangan atas egoisme. Inilah hakikat “pulang” yang sesungguhnya—pulang kepada fitrah, kepada nilai-nilai kemanusiaan, dan pada akhirnya, pulang kepada Allah SWT.

“Minal ‘āidīn wal fā’izīn,” semoga kita termasuk orang-orang yang kembali kepada kesucian dan meraih kemenangan. Semoga perjalanan “pulang” ini menjadi bekal terbaik untuk kembali menghadap Sang Khalik.

Mohon maaf lahir dan batin.
Wallāhu a‘lam bish-shawāb.

Share This Article
Exit mobile version