Indonesia Tak Boleh Anggap Remeh Ancaman Hantavirus, Edy Wuryanto Ingatkan ‘One Health System’

5 Min Read
Anggota Komisi IX DPR RI Dapil III Jateng, Edy Wuryanto, Foto:dok

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Meningkatnya perhatian dunia terhadap kasus hantavirus di kapal pesiar MV Hondius menjadi pengingat penting bahwa ancaman penyakit zoonosis masih nyata dan dapat muncul kapan saja. Anggota Komisi IX DPR RI Edy Wuryanto meminta pemerintah dan masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap hantavirus, termasuk di Indonesia.

Kasus terbaru menjadi sorotan setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memantau wabah hantavirus strain Andes di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar dari Argentina. Tiga orang meninggal dan ada pula kasus suspect.

Dua warga Singapura yang sempat berada di kapal tersebut dinyatakan negatif hantavirus setelah menjalani pemeriksaan dan karantina ketat. Namun WHO tetap melakukan pelacakan lintas negara karena Andes virus merupakan satu-satunya jenis hantavirus yang diketahui dapat menular antarmanusia.

“Peristiwa di kapal MV Hondius harus menjadi alarm bagi seluruh negara, termasuk Indonesia. Kita tidak boleh menganggap hantavirus sebagai ancaman jauh atau penyakit langka yang tidak relevan bagi Indonesia,” kata Edy.

Menurut Edy, Indonesia justru memiliki faktor risiko yang cukup besar karena kepadatan penduduk, urbanisasi cepat, persoalan sanitasi lingkungan, dan tingginya populasi tikus di kawasan permukiman. Dilansir dari Detik Health, data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan dalam tiga tahun terakhir Indonesia mencatat sedikitnya 23 kasus hantavirus jenis Seoul Virus dengan manifestasi Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS).

Sebanyak 20 pasien dinyatakan sembuh, sementara tiga lainnya meninggal dunia dengan riwayat penyakit penyerta seperti kanker hati dan kegagalan multi organ. “Ini menunjukkan bahwa hantavirus bukan sekadar ancaman teoritis. Virusnya sudah ada di Indonesia dan kasusnya nyata. Persoalannya, penyakit ini sering tidak terdeteksi karena gejalanya mirip demam berdarah, tifus, atau leptospirosis,” ujar Edy.

Memang ada perbedaan antara Andes dengan Seoul Virus yang ditemukan di Indonesia. Andes virus diketahui dapat menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), yakni infeksi berat yang menyerang paru-paru dan memicu sesak nafas akut hingga gagal nafas. Virus ini memiliki tingkat fatalitas lebih tinggi dan menjadi satu-satunya jenis hantavirus yang sejauh ini diketahui dapat menular antar manusia.

Secara umum, hantavirus merupakan penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia (zoonosis), terutama melalui tikus sebagai agen infeksius utama virus. Penularan dapat terjadi ketika seseorang menghirup udara yang terkontaminasi partikel urin, feses, atau air liur tikus. “Masih banyak masyarakat yang membersihkan gudang, rumah kosong, atau area yang penuh kotoran tikus tanpa perlindungan dapat menjadi jalur penularan. Ini yang harus diedukasi secara serius,” katanya.

Edy menilai hantavirus menjadi ancaman yang sering luput dari perhatian karena tidak selalu menimbulkan pandemi. Padahal, ada jenis hantavirus memiliki tingkat kematian cukup tinggi, terutama Andes virus yang dapat menyebabkan gangguan pernapasan berat. “Justru karena sifatnya silent threat, kita tidak boleh lengah. Dunia sudah belajar dari pandemi bahwa ancaman kesehatan sering datang dari hal-hal yang awalnya dianggap kecil,” kata Politikus PDI Perjuangan itu.

WHO sendiri telah mengingatkan kemungkinan munculnya kasus tambahan terkait wabah di MV Hondius mengingat masa inkubasi virus dapat berlangsung hingga lebih dari dua minggu. Sejumlah negara kini memperketat pemantauan terhadap penumpang yang sempat berada di kapal tersebut.

Legiselator Dapil Jawa Tengah III itu mendorong pemerintah memperkuat sistem kewaspadaan dini terhadap penyakit zoonosis, termasuk hantavirus. Caranya, melalui pendekatan One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan. Ia menilai ada sejumlah langkah penting yang harus segera diperkuat.

Pertama, memperluas surveilans penyakit demam akut yang belum terdiagnosis agar kasus hantavirus tidak luput dari pemantauan.

Kedua, meningkatkan kapasitas diagnosis laboratorium, termasuk pemeriksaan PCR dan serologi di rumah sakit rujukan.

Ketiga, memperkuat pengendalian rodensia dan sanitasi lingkungan berbasis masyarakat. Menurutnya, pengelolaan sampah, kebersihan permukiman, dan pengendalian populasi tikus harus menjadi bagian penting dalam kebijakan kesehatan publik.

“Pencegahan hantavirus tidak cukup hanya mengandalkan layanan rumah sakit. Ini menyangkut lingkungan hidup sehari-hari masyarakat,” ujarnya.

Selain itu, Edy meminta edukasi publik diperluas agar masyarakat memahami cara sederhana mencegah penularan. Hal-hal seperti menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang terindikasi banyak tikus, menjaga ventilasi ruangan, serta menghindari kontak langsung dengan tikus.

Dia juga menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor mengingat ancaman zoonosis berkaitan erat dengan perubahan lingkungan, urbanisasi, hingga perubahan iklim.

“Kita tidak boleh menunggu sampai terjadi lonjakan kasus besar baru kemudian bergerak. Pencegahan jauh lebih murah dan jauh lebih penting dibandingkan penanganan ketika situasi sudah memburuk,” kata Edy. st

Share This Article
Exit mobile version