Oleh: dr. H. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FISQUA
Dalam era kedokteran modern saat ini, deteksi terhadap apa yang kita konsumsi telah mencapai tingkat yang sangat canggih. Air liur atau saliva tidak lagi dipandang sekadar sebagai pembasah makanan, melainkan sebagai jendela cermin tubuh yang sangat peka. Melalui teknologi biomolekuler, jejak ingesti atau konsumsi makanan haram kini sudah bisa dideteksi secara presisi hanya dari sampel air liur seseorang.
Penemuan sains ini membuka tabir ilmiah transendental yang sangat indah mengenai bagaimana alur perjalanan zat rijs (sesuatu yang kotor atau berbahaya) beroperasi di dalam tubuh manusia. Proses ini melibatkan kerja berantai yang sistematis, mulai dari saat makanan menyentuh lidah, masuk ke sistem pencernaan, hingga terserap dan mengalir di dalam darah pembuluh darah kita.
Perjalanan zat makanan ini dimulai dari rongga mulut. Ketika makanan menyentuh kuncup pengecap di lidah, sinyal instan langsung dikirimkan ke otak dan kelenjar air liur.
Di fase awal ini, molekul spesifik atau pecahan materi genetik asing dari makanan haram akan langsung bercampur dan menempel pada protein air liur.
Melalui teknologi pemeriksaan laboratorium saat ini, jejak molekuler tersebut dapat diekstraksi dari air liur sebagai bukti empiris bahwa seseorang baru saja mengonsumsi bahan yang tidak halal.
Setelah melewati rongga mulut, makanan bergerak menuju lambung dan usus halus melalui sistem pencernaan (digestive system).
Di dalam usus halus, terjadi proses penyerapan inti sari makanan melintasi dinding usus. Pada tahap inilah masalah besar dimulai. Ketika seseorang mengonsumsi daging hewan haram (seperti babi) yang memiliki kemiripan kode genetik hingga 80–85 persen dengan manusia, sistem penyerapan tubuh mengalami “disorientasi” atau kebingungan. Karena struktur molekul hewan tersebut terlampau mirip dengan molekul manusia, dinding usus salah mendapat persepsi lalu menyerap zat asing tersebut secara masif ke dalam aliran darah, seolah-olah sedang menyerap bagian dari tubuh manusia itu sendiri.
Ketika zat haram tersebut lolos dan masuk ke dalam sistem pembuluh darah (vaskular), terjadilah fenomena yang merusak di tingkat sel.
Bahan haram tersebut membawa molekul permukaan yang identik secara kasat mata, tetapi tidak sama secara struktur mikro jika dibandingkan dengan molekul asli manusia. Contohnya adalah molekul karbohidrat asing seperti Alpha-Gal atau asam sialat non-manusia Neu5Gc.
Karena kemiripan semu ini, zat haram tersebut dengan mudah menempel dan “membajak” sel darah merah serta dinding pembuluh darah manusia.
Awalnya tubuh mengira molekul itu adalah bagian dari dirinya sendiri. Namun lambat laun, sistem imun manusia menyadari adanya penyusupan zat asing tersebut. Akibatnya, benteng pertahanan tubuh (antibodi) berbalik menyerang penempelan zat haram tersebut, memicu terjadinya peradangan kronis tingkat rendah (chronic low-grade inflammation) di seluruh pembuluh darah.
Perjalanan mekanis dari air liur hingga pembajakan sel darah ini memberikan penjelasan ilmiah yang sangat klop bagi konsep Maqasid Syariah (tujuan hukum Islam), khususnya dalam pilar Hifzhun Nafs (menjaga jiwa dan fisik) serta Hifzhul ‘Aql (menjaga akal dan mental).
Ketika aliran darah terpolusi oleh molekul haram yang merusak sistem imun, kesehatan fisik akan menurun drastis.
Secara spiritual dan ketauhidan, darah yang kotor akibat zat rijs ini mengalir langsung ke jantung dan otak manusia.
Perubahan biologis ini akan “membungkus” nurani manusia, membuat hati menjadi tumpul (ran), malas beribadah, dan membuat doa-doa menjadi sulit menembus langit. Seseorang yang pembuluh darahnya ditempeli zat asing hewani yang korup akan mengalami kekeruhan berpikir, sulit membedakan yang benar dan salah, serta rentan terjebak dalam menuruti hawa nafsu yang merusak ketauhidan.
Sebagai kesimpulan untuk edukasi masyarakat, larangan halal dan haram di dalam Islam bukanlah sekadar dogma tanpa dasar ilmiah.
Sains kedokteran modern membuktikan bahwa aturan makanan dalam syariat Islam diturunkan oleh Allah SWT sebagai pagar pelindung agar tubuh dan jiwa manusia tetap suci. Dengan menjaga kesucian apa yang kita makan hingga ke level molekuler, kita sedang merawat fitrah biologis dan spiritual kita agar tetap bersih dan diridai oleh Sang Pencipta. Wallahu a’lam bish-shawab. ***
Penulis: Pemerhati Studi Islam Kedokteran, Ketua IKA Unissula, dan Dirut RSI Sultan Agung Semarang


