SEMARANG (Jatengdaily.com) – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus doa bersama untuk keberangkatan utusan PWNU Jateng yang akan mengikuti Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, 27–31 Agustus 2026.
Kegiatan yang berlangsung sederhana dan khidmat tersebut digelar di Kantor PWNU Jawa Tengah, Jalan Dr Cipto 180, Semarang, Senin (24/8). Selain menjadi momentum memperingati kelahiran Rasulullah SAW, acara juga menjadi ruang untuk memohon doa agar pelaksanaan Muktamar ke-35 NU berjalan lancar serta menghasilkan keputusan terbaik bagi jam’iyah dan umat.
Wakil Katib PWNU Jawa Tengah KH Abdul Munif Muchit selaku penyelenggara acara menyampaikan, doa bersama tersebut diharapkan menjadi ikhtiar spiritual agar Muktamar ke-35 NU tetap mampu meneruskan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah sebagaimana yang diajarkan Rasulullah SAW dan para sahabatnya.
“Mohon doa agar Muktamar NU tetap dapat meneruskan ajaran Islam ala Ahlussunnah wal Jamaah sebagaimana diajarkan Nabi SAW dan para sahabatnya,” ujarnya.
Menurut KH Abdul Munif, momentum Muktamar tidak semata-mata menjadi forum organisasi untuk memilih kepemimpinan maupun merumuskan program, tetapi juga harus menjadi bagian dari ikhtiar menjaga kesinambungan khidmah NU dalam menghadapi perubahan zaman.
Karena itu, warga Nahdliyin perlu terus menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan utama dengan mengikuti sunnah-sunnah beliau dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat maupun dalam menjalankan khidmah organisasi.
“Rasulullah SAW adalah suri teladan yang sangat baik. Karena itu, kita perlu terus mengikuti sunnah-sunnah Rasulullah SAW beserta keteladanan para sahabatnya,” katanya.
Suasana semakin khidmat ketika pembacaan Maulid Al-Dziba’ dipimpin Wakil Katib Syuriyah PWNU Jawa Tengah sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Futuhiyah Mranggen, KH Faizurrahman Hanif Muslih, Lc.
Melanjutkan Islah
Dalam kesempatan tersebut, KH Abdul Munif juga mengajak seluruh warga NU untuk melanjutkan semangat islah atau perbaikan yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan jam’iyah.
Ia mengingatkan bahwa warga NU di seluruh penjuru negeri pada dasarnya telah memahami prinsip bahwa menolak kemudaratan atau kerusakan harus didahulukan daripada mengambil manfaat. Karena itu, ikhtiar islah yang dilakukan para masyayikh perlu diteruskan secara ikhlas dan istiqamah.
“Islah berasal dari bahasa Arab yang berarti perbaikan, keselamatan, atau perdamaian. Islah merupakan lawan dari fasad yang berarti kerusakan,” jelasnya.
Untuk mewujudkan semangat islah, menurut dia, setidaknya ada sejumlah hal yang perlu terus dilakukan oleh Nahdliyin.
Pertama, senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Kedua, memperbaiki hubungan antarsesama, khususnya dengan memperkuat ukhuwah nahdliyah, ukhuwah insaniyah, dan ukhuwah wathoniyah.
Ketiga, kembali mengikuti nasihat yang baik dari para guru dan masyayikh sebagai pemimpin spiritual.
Keempat, melakukan muhasabah atau introspeksi diri bahwa tujuan berkhidmah di NU adalah untuk izzul Islam wal muslimin.
Kelima, membangun sinergi dengan seluruh komponen masyarakat untuk bersama-sama menjalankan berbagai kebaikan dan kemaslahatan.
“Dengan semangat spiritualitas islah tersebut, insya Allah Muktamar ke-35 NU akan berlangsung secara konstitusional, legitimate, dan memberikan manfaat bagi semuanya,” tuturnya.
Luncurkan Buku Bunga Rampai
Selain Maulid Nabi dan doa bersama, acara tersebut juga diisi dengan peluncuran buku bunga rampai berjudul Menganyam Gagasan, Merawat Khidmah: Membaca NU di Tengah Perubahan Zaman yang ditulis KH Munib Abdul Muchit dan sejumlah penulis lainnya.
Buku tersebut menjadi bagian dari upaya merekam gagasan dan refleksi tentang perjalanan NU sekaligus tantangan khidmah Nahdliyin di tengah perubahan zaman.
Peluncuran buku itu sekaligus melengkapi rangkaian kegiatan spiritual menjelang Muktamar ke-35 NU. Semangat membaca perubahan zaman, menjaga tradisi, serta memperkuat khidmah diharapkan menjadi bekal bagi para utusan PWNU Jawa Tengah dalam mengikuti forum permusyawaratan tertinggi NU tersebut.
Dengan doa, pembacaan Maulid Al-Dziba’, dan refleksi tentang islah, PWNU Jawa Tengah berharap Muktamar ke-35 NU tidak hanya menghasilkan keputusan organisasi, tetapi juga semakin memperkuat persatuan, ukhuwah, dan keberlanjutan perjuangan NU dalam memberikan kemaslahatan bagi umat, bangsa, dan negara. St


