DEMAK (Jatengdaily.com)– Kemarau panjang mulai benar-benar dirasakan warga di sejumlah wilayah Kabupaten Demak. Ketika sumur mengering dan aliran sungai berhenti, warga terpaksa mencari cara lain untuk mendapatkan air, bahkan dengan menggali dasar sungai yang telah mengering.
Pemandangan dasar sungai yang retak dan tandus kini terlihat di sejumlah titik. Sungai irigasi yang biasanya menjadi salah satu sumber air warga berubah menjadi hamparan tanah kering setelah hujan tak kunjung turun dan pasokan air dari wilayah hulu juga tidak lagi mengalir.
Kondisi tersebut membuat warga harus mengeluarkan tenaga dan biaya tambahan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Salah satu cara yang dilakukan adalah membuat kubangan di dasar sungai guna menemukan titik resapan air yang masih tersisa di dalam tanah.
Seperti dilakukan Beruri, warga Desa Ngaluran, Kecamatan Karanganyar, Demak. Ia menggali tanah di dasar sungai untuk memperoleh air setelah pasokan dari Pamsimas di rumahnya tidak lagi dapat diandalkan. Air yang merembes ke kubangan kemudian ditampung dan dipompa melalui pipa paralon menuju rumah warga.
Menurut Beruri, kondisi kekurangan air bersih di wilayahnya telah berlangsung sejak akhir Juli. Warga pun harus melakukan berbagai cara agar kebutuhan dasar seperti mandi dan mencuci tetap bisa terpenuhi. “Kami terpaksa menggali dasar sungai karena air yang biasanya kami gunakan sudah tidak mencukupi,” ujarnya, Senin (31/08/2026).
Kesulitan serupa dialami Sudipan, warga Desa Wonoketingal, Kecamatan Karanganyar. Di wilayah tersebut, kubangan-kubangan baru bermunculan di dasar sungai seiring semakin surutnya sumur warga. Bahkan, aliran Pamsimas juga sudah tidak lagi mengalir ke rumah-rumah warga.
Untuk mengalirkan air dari dasar sungai ke rumah, Sudipan bersama warga harus mengeluarkan biaya sekitar Rp300 ribu hingga Rp400 ribu. Dana tersebut digunakan untuk memasang pipa dari lokasi kubangan menuju permukiman. Kubangan juga harus dikeruk dan diperdalam setidaknya sepekan sekali agar resapan air tetap dapat dimanfaatkan.
“Airnya memang keruh, tetapi kami tidak punya banyak pilihan. Yang penting masih ada air untuk kebutuhan sehari-hari,” kata Sudipan.
Krisis air akibat kemarau panjang ini terus meluas. Berdasarkan data BPBD Kabupaten Demak, sedikitnya 13 desa di sejumlah kecamatan telah terdampak kekeringan. Untuk mengurangi beban warga, BPBD bersama instansi terkait terus menyalurkan bantuan air bersih secara berkala, terutama ke wilayah yang mengalami krisis paling parah. Bantuan tersebut diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dasar masyarakat sekaligus mencegah dampak kekeringan semakin meluas. rie-she


