Link and Match Tak Lagi Cukup, Kampus dan Industri Harus Ciptakan Solusi Bersama

Dekan Sekolah Vokasi Undip, Prof. Dr. Ir. Budiyono, M.Si. Foto: dok

SEMARANG (Jatengdaily.com)— Konsep link and match selama ini menjadi salah satu fondasi penting dalam pengembangan pendidikan vokasi di Indonesia. Namun, perubahan teknologi dan dunia kerja yang semakin cepat membuat hubungan antara perguruan tinggi dan industri perlu berkembang lebih jauh, dari sekadar kesesuaian kompetensi menuju kolaborasi untuk menciptakan solusi dan inovasi bersama.

Guru Besar Universitas Diponegoro (UNDIP) sekaligus Dekan Sekolah Vokasi UNDIP, Prof. Dr. Ir. Budiyono, M.Si., mengatakan link and match tetap relevan, tetapi tidak lagi cukup untuk menjawab tantangan pendidikan vokasi abad ke-21.

Link and match adalah fondasi yang sangat penting. Namun, kampus dan industri sekarang tidak cukup hanya terhubung dan memiliki kesesuaian. Keduanya perlu terlibat lebih dalam, bekerja bersama, melakukan penelitian bersama, dan menciptakan inovasi bersama,” ujar Budiyono.

Menurutnya, paradigma tersebut perlu berkembang menuju Industry Engagement Ecosystem, yakni sebuah ekosistem yang menempatkan industri bukan hanya sebagai pengguna lulusan, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam pendidikan, penelitian terapan, pengembangan teknologi, inovasi, dan pengembangan sumber daya manusia.

Industri Bukan Hanya Pengguna Lulusan

Budiyono menjelaskan, hubungan perguruan tinggi dengan industri selama ini sering kali masih diukur dari jumlah kerja sama, mahasiswa magang, praktisi yang mengajar di kampus, atau jumlah lulusan yang terserap dunia kerja.

Indikator tersebut tetap penting, tetapi belum sepenuhnya menggambarkan nilai dari kolaborasi kampus dan industri.

“Pertanyaan kita jangan berhenti pada berapa banyak MoU yang ditandatangani atau berapa mahasiswa yang magang. Kita perlu bertanya lebih jauh: berapa persoalan industri yang berhasil diselesaikan? Berapa inovasi yang dihasilkan bersama? Berapa teknologi yang benar-benar digunakan? Dan apa perubahan nyata yang dihasilkan dari kolaborasi tersebut?” katanya.

Dalam konsep Industry Engagement Ecosystem, industri dapat berperan sebagai co-educator, co-researcher, sekaligus co-innovator.

Sebagai co-educator, industri terlibat dalam pengembangan kurikulum, pembelajaran berbasis proyek, magang, sertifikasi profesional, dan teaching factory.

Sebagai co-researcher, berbagai persoalan nyata yang dihadapi industri dapat menjadi sumber penelitian terapan bagi dosen dan mahasiswa.

Sementara sebagai co-innovator, kampus dan industri dapat bersama-sama mengembangkan produk, teknologi, proses produksi, maupun model layanan baru.

“Jadi hubungan kampus dan industri bergerak dari partnership menuju co-creation. Kampus dan industri tidak hanya bekerja sama, tetapi menciptakan sesuatu bersama,” jelas Budiyono.

Teaching Factory Harus Menghasilkan Nilai

Menurut Budiyono, teaching factory juga perlu dimaknai lebih luas daripada sekadar fasilitas praktik mahasiswa yang menyerupai lingkungan industri.

Teaching factory dapat menjadi ruang pertemuan antara pendidikan, penelitian terapan, industri, inovasi, dan kewirausahaan.

Mahasiswa dapat belajar melalui persoalan nyata, dosen mengembangkan penelitian berdasarkan kebutuhan lapangan, sementara industri memperoleh alternatif solusi dari perguruan tinggi.

Teaching factory seharusnya bukan hanya tempat mahasiswa belajar bekerja. Ia harus berkembang menjadi platform penciptaan nilai bersama antara kampus dan industri,” ujarnya.

Model tersebut dinilai semakin penting ketika perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat, termasuk dengan semakin luasnya pemanfaatan Artificial Intelligence (AI).

Menurut Budiyono, perubahan teknologi kini sering berlangsung lebih cepat dibandingkan siklus pembaruan kurikulum. Karena itu, keterlibatan industri secara berkelanjutan menjadi penting agar pendidikan tetap relevan dengan perubahan dunia kerja.

Pada saat yang sama, perguruan tinggi juga dapat membantu industri mengembangkan pemanfaatan teknologi baru melalui penelitian terapan, pengembangan prototipe, peningkatan kompetensi pekerja, serta inovasi.

Dari Kolaborasi Menuju Real-World Impact

Budiyono menekankan bahwa Industry Engagement Ecosystem pada akhirnya bukanlah tujuan akhir.

Kolaborasi antara kampus dan industri harus mampu menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan secara nyata. Manfaat tersebut dapat berupa peningkatan produktivitas, efisiensi energi, pengembangan teknologi baru, peningkatan kualitas produk, penyelesaian persoalan lingkungan, pengembangan kompetensi sumber daya manusia, hingga penciptaan lapangan kerja baru.

Karena itu, ia menggambarkan transformasi hubungan kampus dan industri melalui empat tahapan: Link and Match → Industry Engagement → Co-Creation → Real-World Impact.

Link and match membangun keterhubungan dan kesesuaian. Industry engagement membangun keterlibatan. Co-creation menghasilkan solusi dan inovasi bersama. Pada akhirnya, semua itu harus bermuara pada Real-World Impact,” katanya.

Dikembangkan dalam Transformasi Sekolah Vokasi UNDIP

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari transformasi Sekolah Vokasi UNDIP menuju World-Class Vocational School.

Sekolah Vokasi UNDIP mengembangkan Vocational Excellence Ecosystem yang mengintegrasikan keunggulan akademik, Industry Engagement, Global Employability, Character Development, Innovation and Applied Research, Applied Media and Global Visibility, serta Sustainability and Social Impact.

Industry Engagement ditempatkan sebagai salah satu ekosistem sekaligus strategic pathway untuk menghasilkan Real-World Impact.

Menurut Budiyono, perubahan paradigma tersebut penting karena masa depan pendidikan vokasi tidak cukup hanya ditentukan oleh seberapa dekat kampus dengan industri, tetapi juga oleh seberapa besar nilai yang mampu diciptakan bersama.

“Masa depan kolaborasi kampus dan industri bukan sekadar menyesuaikan pendidikan dengan kebutuhan industri. Kita perlu bergerak lebih jauh: kampus dan industri harus bersama-sama menciptakan masa depan,” tegasnya.

Ia berharap paradigma tersebut dapat mendorong pendidikan vokasi di Indonesia berkembang dari institusi yang terutama mempersiapkan tenaga kerja menjadi mitra strategis industri dalam menghasilkan talenta, penelitian terapan, inovasi, teknologi, dan solusi bagi berbagai persoalan nyata.

“Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan vokasi bukan hanya ketika lulusannya memperoleh pekerjaan. Keberhasilan yang lebih besar adalah ketika kompetensi, penelitian, dan inovasi yang kita hasilkan benar-benar memberikan manfaat bagi industri, masyarakat, bangsa, dan dunia. Itulah Real-World Impact,” pungkas Budiyono. she 

Share This Article
Exit mobile version