LPPM USM Raih Penghargaan Best Kategori Lembaga Penelitian dan Perguruan Tinggi pada Indonesia Patent Awards 2026

LPPM Universitas Semarang (USM) kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional dengan meraih penghargaan Best Kategori Lembaga Penelitian dan Perguruan Tinggi dalam ajang Indonesia Patent Awards (IPA) 2026, baru-baru ini. Foto: Dok

JAKARTA (Jatengdaily.com) – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Semarang (USM) kembali menorehkan prestasi membanggakan di tingkat nasional dengan meraih penghargaan Best Kategori Lembaga Penelitian dan Perguruan Tinggi dalam ajang Indonesia Patent Awards (IPA) 2026, baru-baru ini.

Penghargaan itu menjadi bentuk pengakuan atas kontribusi Universitas Semarang dalam menghasilkan inovasi teknologi berbasis penelitian yang memiliki potensi untuk dikembangkan dan dimanfaatkan oleh masyarakat serta dunia industri.

Penghargaan tersebut diraih melalui inovasi berjudul mesin pengolah padi portabel berbasis internet of things dengan tiga fungsi terintegrasi dan penyedia energi surya.

Inovasi itu dikembangkan oleh tim inventor yang terdiri atas Prof. Dr. Ir. Mudjiastuti Handajani, M.T., IPM, ASEAN.Eng, Dr. Ir. Andi Kurniawan Nugroho, S.T., M.T., IPM dan Dr. Muhammad Ikhsan Setiawan, M.T.

Menurut Andi Kurniawan, mesin pengolah padi portabel ini merupakan hasil pengembangan teknologi tepat guna yang mengintegrasikan sistem pengolahan padi dengan teknologi Internet of Things (IoT) dan sumber energi surya.

Konsep portabel memberikan fleksibilitas dalam pemanfaatan alat, khususnya bagi kelompok tani, pelaku usaha penggilingan padi skala kecil dan menengah, serta masyarakat di wilayah yang memiliki keterbatasan akses terhadap infrastruktur pengolahan hasil pertanian.

”Integrasi tiga fungsi dalam satu perangkat diharapkan dapat meningkatkan efisiensi proses pengolahan, mengurangi kebutuhan penggunaan beberapa peralatan terpisah, serta mendukung produktivitas sektor pertanian,” katanya.

Dia mengatakan, keunggulan inovasi ini tidak hanya terletak pada aspek mekanis, tetapi juga pada penerapan teknologi digital. Pemanfaatan IoT memungkinkan proses pemantauan dan pengendalian operasional mesin dilakukan secara lebih terintegrasi.

Sementara itu, penyedia energi surya menjadi bagian penting dalam mendukung pemanfaatan energi alternatif yang lebih ramah lingkungan dan berpotensi meningkatkan kemandirian energi, terutama untuk penerapan teknologi pertanian di daerah.

”Pencapaian Universitas Semarang ini memiliki relevansi strategis dengan arah kebijakan pemerintah dalam memperkuat hilirisasi hasil penelitian dan paten nasional. Sebagaimana diberitakan oleh Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum melalui artikel berjudul “Hilirisasi Paten Masih di Bawah 5%, Indonesia Gelar Forum Bisnis Paten Pertama” pada 3 November 2026, tingkat komersialisasi paten nasional masih berada di bawah lima persen,” ujarnya.

Kondisi tersebut, katanya, menunjukkan tantangan pengembangan inovasi tidak hanya terletak pada penciptaan teknologi, tetapi juga pada kemampuan menghubungkan hasil penelitian dengan kebutuhan industri dan pasar.

Melalui penyelenggaraan Forum Bisnis Paten Indonesia (FBPI) 2026 pada 3–5 November 2026 di Jakarta Convention Center, DJKI bersama World Intellectual Property Organization (WIPO) mendorong kolaborasi antara inventor, perguruan tinggi, lembaga penelitian, industri, investor, dan pelaku usaha.

”Salah satu bentuk apresiasi yang diberikan adalah Indonesia Patent Awards dengan kategori Best Commercialization Model, Best Green and Blue Innovation Patent, Best Kategori Lembaga Penelitian dan Perguruan Tinggi, serta Best Kategori Perorangan,” tuturnya.

Dalam konteks tersebut, lanjutnya, prestasi LPPM Universitas Semarang menjadi bukti penting bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi yang berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

Penghargaan itu diharapkan menjadi momentum untuk mempercepat proses hilirisasi paten, memperluas kemitraan dengan dunia industri, serta membuka peluang lisensi dan komersialisasi teknologi hasil penelitian.

”Keberhasilan ini sekaligus memperkuat komitmen Universitas Semarang melalui LPPM untuk terus meningkatkan kualitas penelitian dan pengabdian kepada masyarakat yang menghasilkan luaran inovatif, aplikatif, dan memiliki nilai ekonomi.

Sinergi antara peneliti, perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat menjadi faktor penting agar hasil penelitian tidak berhenti pada prototipe atau dokumen paten, tetapi dapat diproduksi, dimanfaatkan, dan memberikan manfaat nyata,” ungkapnya. St

Share This Article
Exit mobile version