SEMARANG (Jatengdaily.com)— Minyak jelantah menjadi salah satu limbah rumah tangga yang masih sering dibuang tanpa pengolahan lebih lanjut. Padahal, minyak yang telah digunakan berulang kali masih mengandung asam lemak yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk menghasilkan produk bernilai tambah.
Jika tidak dikelola dengan baik, pembuangan minyak jelantah juga dapat menimbulkan permasalahan lingkungan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa minyak jelantah tidak semestinya hanya dipandang sebagai limbah, tetapi juga sebagai sumber bahan baku alternatif yang masih memiliki potensi untuk dikembangkan.
Berangkat dari permasalahan tersebut, Tim Lipastera, yang terdiri atas mahasiswa Teknologi Rekayasa Kimia Industri (TRKI), Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro (SV Undip), mengembangkan inovasi bertajuk “Rekayasa Biokatalis Lipase untuk Sintesis Ester Gula dari Minyak Jelantah.”
Inovasi tersebut dikembangkan oleh Tim Lipastera, yang beranggotakan Fahmi Agil Prasetia, Sigit Pramana, Firna Alfinatunnaimah, Mufadlilatun Nafi’ah, dan Muhammad Rizki Ananda, dengan Dr. Mohamad Endy Julianto, S.T., M.T. sebagai dosen pembimbing.

Endy mengatakan, inovasi ini mengusung konsep green biocatalysis dengan memanfaatkan enzim lipase dalam proses pengolahan minyak jelantah menjadi sugar ester atau ester gula. Senyawa tersebut memiliki karakteristik sebagai surfaktan non-ionik yang berpotensi dimanfaatkan dalam berbagai aplikasi.
Dalam proses pengembangannya, enzim lipase digunakan untuk membantu mengolah komponen minyak menjadi asam lemak bebas. Selanjutnya, asam lemak tersebut direaksikan dengan glukosa untuk membentuk ester gula. Melalui pendekatan ini, minyak jelantah yang sebelumnya dianggap sebagai limbah diarahkan menjadi bahan baku untuk menghasilkan material dengan nilai guna yang lebih tinggi.
Sugar ester memiliki dua bagian dengan karakter berbeda, yakni bagian yang bersifat hidrofilik atau menyukai air dan bagian hidrofobik atau menyukai minyak. Karakteristik tersebut membuat sugar ester berpotensi digunakan sebagai surfaktan, yaitu bahan yang membantu mempertemukan atau menstabilkan campuran antara minyak dan air.
Potensi tersebut menjadi salah satu alasan Tim Lipastera mengeksplorasi pemanfaatan minyak jelantah sebagai bahan baku dalam sintesis sugar ester. Selain menawarkan peluang pemanfaatan limbah, pendekatan ini juga membuka ruang pengembangan material fungsional berbasis bahan baku alternatif dengan pendekatan yang lebih ramah lingkungan.
Dalam pengembangannya, Tim Lipastera melakukan evaluasi terhadap berbagai kondisi proses untuk mengetahui pengaruhnya terhadap karakteristik sugar ester yang dihasilkan. Sejumlah faktor, seperti jumlah enzim, penggunaan pelarut, dan waktu reaksi, akan dioptimasi untuk memperoleh kondisi proses yang sesuai.
Produk yang dihasilkan selanjutnya akan dikarakterisasi melalui sejumlah parameter, antara lain densitas, viskositas, pH, FTIR, HLB (Hydrophilic-Lipophilic Balance), tegangan muka, CMC (Critical Micelle Concentration), biodegradabilitas, dan toksisitas. Berbagai parameter tersebut digunakan untuk memperoleh gambaran mengenai karakteristik serta potensi sugar ester yang dihasilkan sebagai kandidat surfaktan.
Melalui inovasi ini, Tim Lipastera berupaya menunjukkan bahwa minyak jelantah tidak selalu harus berakhir sebagai limbah. Dengan pendekatan rekayasa proses dan biokatalisis, bahan yang selama ini kurang dimanfaatkan dapat diarahkan menjadi bahan baku untuk menghasilkan produk dengan nilai tambah.
Pengembangan ini juga menjadi bagian dari upaya mahasiswa TRKI Sekolah Vokasi UNDIP dalam mengintegrasikan pengetahuan rekayasa kimia dengan konsep keberlanjutan dan pemanfaatan sumber daya secara lebih optimal.
”Limbah bukan selalu akhir dari sebuah proses. Terkadang, ia justru menjadi awal dari sebuah inovasi,” kata Endy. she