Malam Selikur Penuh Kebersamaan, Tradisi Uweh-uweh di Bintoro Demak Tetap Hidup

Warga Kampung Domenggalan Bintoro Demak saat bersuka-cita melestarikan budaya uweh-uweh menyambut malam likuran Ramadan. Foto : sari jati
DEMAK (Jatengdaily.com)– Suasana berbeda terasa di Kampung Domenggalan, Kelurahan Bintoro, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, saat malam selikur atau malam ke-21 bulan Ramadan tiba. Pada malam tersebut, warga setempat menggelar tradisi turun-temurun bernama Uweh-Uweh, sebuah kegiatan unik yang mempertemukan masyarakat untuk saling bertukar jajanan sebagai simbol kebersamaan.
Tradisi ini sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat sejak zaman nenek moyang dan hingga kini masih terus dilestarikan. Setiap tahun, warga dengan antusias mengikuti kegiatan ini sebagai bentuk rasa syukur di bulan Ramadan sekaligus mempererat hubungan antarwarga.
Usai berbuka puasa dan menunaikan salat Maghrib, ratusan warga mulai memadati gang-gang kampung. Mereka datang membawa berbagai macam jajanan pasar, mulai dari kue tradisional, makanan manis, hingga aneka camilan yang dikemas dalam kantong plastik atau ditata di atas nampan.
Jajanan tersebut kemudian ditukarkan dengan warga lain. Suasana kampung pun berubah menjadi ramai dan penuh keceriaan. Anak-anak, remaja hingga orang tua terlihat bercengkrama sambil saling menukar makanan, menciptakan momen kebersamaan yang hangat di tengah bulan suci.
Tidak sedikit warga yang menata jajanan mereka di depan rumah seperti lapak kecil. Hal ini membuat suasana kampung semakin meriah, layaknya pasar kecil yang penuh dengan aneka hidangan tradisional.
Salah satu warga pendatang asal Banjarnegara, Afifatun, mengaku terkesan dengan tradisi tersebut karena baru pertama kali mengikutinya sejak tinggal di Demak. “Ini pertama kalinya saya melihat dan ikut tradisi uweh-uweh. Rasanya sangat seru dan membuat warga jadi lebih akrab satu sama lain,” ujarnya.
Tokoh masyarakat setempat, Ahmad Asep Mudhofar, menjelaskan bahwa tradisi uweh-uweh awalnya merupakan bentuk ungkapan syukur masyarakat selama menjalankan ibadah Ramadan sekaligus upaya menjaga kerukunan di lingkungan kampung. “Sejak dulu tradisi ini sudah ada dari para leluhur. Tujuannya agar warga tetap rukun dan saling berbagi di bulan Ramadan,” jelasnya.
Menurutnya, kegiatan sederhana seperti menukar jajanan juga menjadi sarana untuk menanamkan nilai berbagi kepada generasi muda. Hingga kini, tradisi uweh-uweh masih terus digelar tidak hanya di Kampung Domenggalan, tetapi juga di beberapa wilayah lain di Kelurahan Bintoro seperti Kampung Sampingan dan sejumlah kampung lain, menjadikannya salah satu warisan budaya lokal yang tetap hidup di tengah masyarakat. rie-she
Share This Article
Exit mobile version