Memaknai Kemerdekaan Hakiki: Menjaga Muru’ah dan Muraqabah demi Kebangkitan Bangsa

Oleh: Dr KH Multazam Ahmad MA

SETIAP tanggal 17 Agustus, bangsa Indonesia memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan. Kemerdekaan yang kita nikmati hari ini merupakan nikmat dan karunia agung dari Allah SWT. Bebasnya bangsa ini dari cengkeraman penjajah tidak didapatkan secara cuma-cuma, melainkan melalui perjuangan panjang, tumpah darah, pengorbanan harta, jiwa, serta doa dari para pahlawan dan ulama pendahulu kita.

​Sebagai umat Islam, terdapat tiga pilar utama dalam memaknai kemerdekaan melalui perspektif agama:

1. Bersyukur atas Nikmat Kemerdekaan

​Kemerdekaan adalah manifestasi nyata dari rahmat Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

​وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.'” (QS. Ibrahim: 7)

 

​Wujud syukur atas kemerdekaan bukan sekadar euforia perayaan semata, melainkan tindakan nyata untuk menjaga kerukunan, merawat persatuan, dan memelihara kedamaian di tengah kehidupan bermasyarakat.

2. Kemerdekaan Sejati Adalah Bebas dari Penghambaan Selain Allah SWT

​Secara substantif, kemerdekaan dalam Islam adalah pembebasan jiwa manusia dari penghambaan kepada sesama makhluk menuju penghambaan murni hanya kepada Allah SWT.

​Allah SWT berfirman:

​وَلَقَدۡ بَعَثۡنَا فِي كُلِّ أُمَّةٖ رَّسُولًا أَنِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱجۡتَنِبُواْ ٱلطَّٰغُوتَ

Artinya: “Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul pada setiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah, dan jauhilah thagut…'” (QS. An-Nahl: 36)

 

​Prinsip ini tercermin dalam ungkapan sahabat Nabi, Rib’i bin ‘Amir RA, di hadapan Panglima Rustum dari Persia: “Allah telah mengutus kami untuk memerdekakan manusia dari penghambaan kepada sesama manusia menuju penghambaan kepada Allah semata, dari kesempitan dunia menuju kelapangannya, dan dari kezaliman agama-agama menuju keadilan Islam.”

​Merdeka yang hakiki terjadi ketika hati dan pikiran kita bebas dari jajahan hawa nafsu, keserakahan, kebohongan, serta ketergantungan berlebihan pada materi duniawi.

3. Mengisi Kemerdekaan dengan Kepedulian dan Karya Nyata

​Mengisi kemerdekaan berarti berkontribusi aktif dalam memajukan bangsa. Setiap elemen masyarakat—pemimpin, akademisi, pemuda, hingga rakyat biasa—memiliki peran moral untuk memberantas kebodohan, kemiskinan, ketidakadilan, dan kemungkaran. Rasulullah SAW bersabda:

​خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad dan Thabrani)

 

Menjaga Muru’ah melalui Muraqabah di Era Modern

​Sebagai seorang Muslim, menjaga martabat dan kehormatan diri (muru’ah) adalah sebuah keharusan. Muru’ah adalah integritas untuk memelihara tingkah laku, adab, serta kehormatan dari hal-hal yang dapat merendahkan derajat manusia, baik di mata sesama maupun di hadapan Allah SWT.

​Di era modern, godaan untuk berbuat curang, tidak jujur, atau melakukan tindakan tercela—terutama ketika berada di ruang digital yang minim pengawasan langsung—semakin besar. Solusi utama untuk menjaga muru’ah ini adalah dengan menanamkan sifat muraqabah (kesadaran penuh bahwa Allah senantiasa mengawasi kita).

​Allah SWT berfirman:

​وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ ۖ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

Artinya: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadamya daripada urat lehernya.” (QS. Qaf: 16)

 

​وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Artinya: “Dan Dia bersama kalian di mana saja kalian berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Hadid: 4)

 

​Ketika seseorang menghidupkan muraqabah dalam dirinya, ia menyadari firman Allah SWT: “أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَى” (“Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat?” – QS. Al-‘Alaq: 14). Kesadaran ini mencegahnya menggadaikan harga diri demi keuntungan sesaat. Ia akan menjaga pandangannya, lisannya, amanahnya, dan kehormatannya tanpa perlu menunggu pujian atau pengawasan dari manusia.

​Inilah puncak ihsan sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Engkau menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Bukhari & Muslim).

​Momentum peringatan HUT Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia ini patut kita jadikan sarana muhasabah. Mari bulatkan tekad untuk terus memperbaiki diri, memperkuat keimanan, dan menghadirkan sifat muraqabah dalam setiap langkah kehidupan. Dengan menjaga muru’ah diri, keluarga, dan agama, kita mewujudkan kemerdekaan yang hakiki bagi bangsa Indonesia.

Dr KH Multazam Ahmad, Wasekjen PP DMI Pusat dan Ketua Bidang Takmir Masjid Raya Baiturrahman Jateng. 

Share This Article
Exit mobile version