Oleh: Ahmad Rofiq
Alhamdulillah, sebagai warga Semarang, saya ikut bersyukur karena Kota Semarang dan Provinsi Jawa Tengah menjadi tuan rumah penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Qur’an Nasional (MTQN) XXXI pada 12–20 September 2026 yang dipusatkan di Lapangan Simpang Lima, Semarang.
Tema yang diusung dalam MTQ Nasional XXXI ini adalah “Menebar Cahaya Al-Qur’an dalam Harmoni Menuju Indonesia Emas yang Berkeadaban”.
Dalam beberapa kesempatan di berbagai ajang MTQN maupun STQHN, Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan bahwa gelaran MTQ Nasional akan diselenggarakan setiap tahun.
Alasannya, penyelenggaraan STQN yang menjadi selingan MTQN pada praktiknya hampir sama dengan pelaksanaan MTQ Nasional. Selain itu, antrean provinsi yang mendaftar sebagai tuan rumah penyelenggaraan MTQ Nasional juga makin panjang.
Namun, penelusuran di berbagai media menyebutkan bahwa pelaksanaan MTQ Nasional XXXII (ke-32) pada 2028 akan diselenggarakan di Provinsi Aceh.
Penunjukan ini menandai kembalinya ajang MTQ Nasional ke Aceh setelah terakhir kali menjadi tuan rumah pada 1981, berurutan setelah Provinsi Jawa Tengah pada 1979 dan menjadi tuan rumah lagi pada 2026.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) merilis bahwa setiap tahun terdapat tidak kurang dari 2.000 santri penghafal Al-Qur’an. Karena itu, Pemprov Jateng di bawah komando Wagub Gus Taj Yasin Maimoen pada 2026 mengucurkan anggaran sekitar Rp300 miliar berupa insentif bagi guru agama dan para hafiz Al-Qur’an. Anggaran ini naik dari alokasi tahun 2025 yang sebesar Rp250 miliar.
Menebar Cahaya Al-Qur’an yang Rahmatan lil ‘Alamin
Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin Maimoen, mengatakan bahwa insentif guru agama diberikan kepada seluruh pengajar agama (dan penghafal Al-Qur’an), baik Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, maupun Khonghucu.
Menurutnya, selama kurang lebih enam tahun terakhir, Pemprov Jateng secara konsisten menyalurkan anggaran untuk mendukung guru-guru agama dan para penghafal kitab suci.
Boleh jadi kebijakan dan komitmen Wagub Gus Taj Yasin dilandasi semangat bahwa Al-Qur’an diturunkan kepada Rasulullah saw. dengan tujuan merealisasikan kasih sayang bagi semua penduduk alam raya ini (Islam yang rahmatan lil ‘alamin).
MTQN XXXI di Jawa Tengah ini diharapkan menjadi penyejuk kalbu dan menebar cahaya untuk menyinari hati serta pikiran para pejabat publik di Jawa Tengah. Harapannya, dalam menjalankan amanah kekhalifahan, para pejabat melandasi semangat kerja mereka dengan empat sifat Rasulullah saw., yakni siddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tablig (komunikatif dan memanusiakan), serta fatanah (cerdas dan empatik) kepada rakyat, utamanya yang daif dan mustad’afin.
Momentum MTQN ini sangat penting, apalagi beberapa waktu lalu terdapat lima kepala daerah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah sepanjang 2026 yang terkena OTT KPK, yakni Bupati Pati, Bupati Pekalongan, Bupati Cilacap, Bupati Sukoharjo, dan Bupati Pemalang.
Masyarakat yang makin cerdas memahami bahwa ongkos politik untuk meraih jabatan publik sebagai bupati memang sangat mahal. Konon—semoga tidak benar—mulai dari “mahar” partai politik, biaya tim sukses (yang kadang banyak tidak suksesnya), kampanye, cetak kaus, spanduk, hingga segala macam piranti untuk memengaruhi konstituen, termasuk “serangan fajar”, “serangan dhuha”, dan bahkan “serangan jelang TPS” yang menguras kantong.
Dapat dipastikan, dana ongkos politik tersebut lebih banyak berasal dari “botoh” atau “juragan”. Apabila calon yang dibiayai tersebut menjabat, ia menanggung kewajiban mengembalikan ongkos melalui bagi-bagi proyek yang dapat dipastikan akan dipermainkan demi break-even point (BEP) alias balik modal, dan syukur-syukur mendapat keuntungan.
Spirit Ilahiah dan Wataniah Mars MTQ
Pencipta lagu Mars MTQ, R.H. Agus Sunaryo, layak mendapat apresiasi dari seluruh pencinta Al-Qur’an di Nusantara karena mars tersebut sangat sarat dengan spirit Ilahiah dan wataniah. Mars MTQ yang dikumandangkan setelah seluruh hadirin menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dengan penuh semangat menggambarkan generasi muda yang mencintai Al-Qur’an.
Hal ini sejalan dengan pesan Rasulullah saw. yang mengingatkan: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya kepada orang lain” (H.R. Al-Bukhari). Simaklah lirik Mars MTQ berikut ini:
Gema Musabaqah Tilawatil Qur’an # Pancaran Ilahi (Ilahi) # Cinta pada Allah, Nabi, dan Negara wajib bagi kita # Limpah ruah bumi Indonesia # Adil makmur sentosa # Baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur # Pasti terlaksana #
Musabaqah Tilawatil Qur’an Agung # Wahyu Kalam Tuhan (Tuhan) # Pancasila sakti Dasar Indonesia Pujaan Bangsaku # Gemah ripah Tanah Air Kita # Aman Damai Sentosa # Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur # Nusantara Jaya #
Gema Musabaqah Tilawatil Qur’an # Pancaran Ilahi (Ilahi) # Cinta pada Allah # Nabi dan Negara Wajib bagi Kita # Limpah Ruah Bumi Indonesia # Adil Makmur Sentosa # Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur # Pasti terlaksana #
Musabaqah Tilawatil Qur’an Jaya # Firman Suci Tuhan (Tuhan) # Pancasila Sakti bagi Kita semua # Indonesia Jaya # Limpah Ruah Alam Kaya Raya # Bahagia semua # Baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur # Cita-cita kita # Cita-cita kita #
Mencermati dan merenungi secara mendalam lagu tersebut mengingatkan kita pada firman Allah ‘Azza wa Jalla yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata ‘Tuhan kami adalah Allah’, kemudian tetap (dalam pendiriannya/istiqamah), akan turun malaikat-malaikat kepada mereka (seraya berkata): ‘Janganlah kamu takut dan bersedih hati serta bergembiralah dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu’” (Q.S. Fussilat: 30).
Negara Indonesia dengan penduduk Muslim terbesar—sekitar 252.810.000 jiwa (87,14%) dari total penduduk Indonesia sebanyak 290.125.073 jiwa (per Juni 2026)—harus memiliki kesadaran akademik dan spiritual yang dipandu oleh nilai-nilai serta rambu-rambu Al-Qur’an.
Nilai-nilai tersebut harus mampu diwujudkan dalam praktik perilaku kehidupan sehari-hari agar keadilan dan kepastian hukum yang bersubstansikan kemaslahatan rakyat dapat terwujud dengan baik.
Suara-suara kegelisahan yang tidak jarang menyiratkan makin tidak mudahnya nilai-nilai etika dan keadilan didapat serta dirasakan oleh masyarakat awam yang nirkekuasaan terasa amat mahal harganya. Bahkan, ada yang mengatakan bahwa nilai etika dan keadilan telah menjadi barang langka, untuk tidak menyebutnya mengalami defisit.
NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) yang oleh para pendiri (founding fathers) bangsa telah diletakkan fondasi dasarnya melalui Pancasila dan UUD 1945, ternyata di lapangan sedang menghadapi ujian yang sangat berat.
Gus Mus atau K.H. Mustofa Bisri yang sering disapa sebagai Guru Bangsa mengatakan bahwa ada “Republik rasa Kerajaan”. Bahkan, menurut banyak orang yang memiliki keberanian, ada mafia hukum. Ketua MKMK, Jimly Asshiddiqie, menyatakan masih adanya mafia peradilan di Indonesia. Hal itu ia sampaikan saat sidang dugaan pelanggaran kode etik di Mahkamah Konstitusi.
Dalam bahasa sederhana, dapat digambarkan bahwa kemunculan generasi khaira ummah—yang siap menjalankan tugas-tugas keumatan, amar makruf nahi mungkar, berjalan dengan aman dan nyaman, kriminalitas menurun drastis, zero stunting karena makin banyak dermawan, angka korupsi dapat dihilangkan, serta kekerasan tidak terjadi lagi—dapat terwujud jika hati dan pikiran warga Jateng terus merawat spirit fitrah dan akhlak Al-Qur’an sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah saw.
Generasi Qur’ani tentu sangat menyadari pentingnya nilai-nilai kebinekaan dan kebangsaan sebagai pancaran dari rahmatan lil ‘alamin. Karena itu, generasi Qur’ani memiliki rasa kebangsaan (nasionalisme) yang memanifestasikan kecintaannya kepada agama dalam kehidupan bernegara, berbangsa, dan bermasyarakat.
Seandainya hal itu bisa terwujud dalam kehidupan sehari-hari di Jawa Tengah, betapa indahnya suasana baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur di dunia nyata. Wallahu a’lam.
Prof. Dr. H. Ahmad Rofiq, MA., Guru Besar UIN Walisongo Semarang, Ketua Pimpinan Wilayah Dewan Masjid Indonesia (PW-DMI) Jawa Tengah, Direktur LPH-LPPOM-MUI Jawa Tengah, Ketua Bidang Pendidikan DP Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Semarang, Ketua II Yayasan Pusat Kajian dan Pengembangan Islam (YPKPI) Masjid Raya Baiturrahman Semarang, Ketua Dewan Pengawas Syariah (DPS) Rumah Sakit Islam-Sultan Agung Semarang, Anggota DPS BPRS Bina Finansia Semarang, Ketua DPS BPRS Kedung Arto Semarang, Wakil Ketua Dewan Pakar Ikatan Ahli EKonomi Islam (IAEI) Pusat.
Jatengdaily.com


