Merawat Kekancan Selawase: Saat Usia Enam Puluh Kembali Muda di Kemuning

Para alumni SMPN Karangnongko angkatan 1 dan 2 berpose di depan Jeep mengitari lahan teh yang hijau di kawasan Kemuning, Karanganyar. Foto: dok

PAGI yang dingin di hari Sabtu, 12 September 2026, tak menyurutkan semangat 19 alumni SMP N Karangnongko lulusan 1982. Usia boleh berkepala enam, namun semangat dan gelak tawa yang pecah di dalam minibus rombongan membuktikan satu hal: ikatan persahabatan mereka tak pernah memudar oleh waktu.

Ini bukan sekadar jalan-jalan, melainkan ajang silaturahmi—sebuah momentum untuk merajut kembali kekancan selawase.

​Suasana hangat langsung terasa begitu perjalanan menuju Kemuning, Karanganyar dimulai. Sunarni, sang diva alumni yang paling hobi bernyanyi, langsung menguasai mikrofon karaoke.

Para alumni berfoto bersama di sela kegiatan healing di Karanganyar. Foto: dok

Tembang demi tembang ia lantunkan, memancing tepuk tangan dan koor masal dari teman-teman seangkatan yang bernostalgia menikmati tiap kilometer perjalanan.

​Sesampainya di lereng Gunung Lawu, keseruan berpindah ke atas empat unit Jeep offroad. Masing-masing Jeep terisi lima penumpang, siap menerabas keindahan bukit teh dan jalur ekstrem. Puncak kehebohan terjadi saat armada Jeep mulai melintasi air sungai yang jernih dan dingin.

​Aksi “saling usil” pun tak terelakkan. Di salah satu Jeep, Kristadi bersama sang istri, Rini, serta Widodo, menjadi sasaran empuk. Kelompok Jeep lain tanpa ampun mengguyur kendaraan mereka hingga basah kuyup. Padahal, Widodo sama sekali tidak membawa baju ganti! Momen Widodo yang terpaksa mengenakan pakaian basah kuyup itu seketika menjadi bahan candaan hangat sepanjang hari.

​”Seru banget! Kapan lagi kalau bukan di acara seperti ini kita bisa ‘membully’ Widodo?” celoteh Kristadi sambil tertawa lepas, menyapu sisa air di wajahnya. Ia dan istrinya memang sudah pasrah dan siap menikmati momen basah-basahan tersebut.

​Petualangan berlanjut ke Kemuning Sky Hills. Di sinilah keberanian Kristadi kembali diuji. Sambil menggandeng erat Rini, ia melangkah mantap di atas jembatan kaca yang transparan. Walau wajahnya sempat pucat pasi menahan rasa takut akan ketinggian, rasa percaya diri dan senyum bahagianya mengalahkan segalanya saat mereka berhasil berswafoto bersama di tengah bentangan jembatan kaca yang megah.

​Usai menguji adrenalin di Kemuning Sky Hills, rombongan tidak langsung pulang. Para ibu-ibu memanfaatkan waktu untuk singgah dan berbelanja di Pasar Jumog. Aneka sayur dan buah segar khas pegunungan seketika menjadi sasaran utama incaran para alumni wanita. Suasana pasar pun menjadi riuh dan seru; ada yang sibuk memilih belanjaan, namun tak sedikit pula yang sekadar mencicipi dagangan dari satu warung lalu pindah ke warung lainnya.

​Tak ketinggalan, Darsono yang juga hadir didampingi sang istri, turut berburu belanjaan. Selain membeli buah segar, perhatian Darsono tersedot oleh tanaman hias jemani—tanaman hijau anggun yang dulu sempat boming.

​”Saya suka pohon jemani untuk penghijauan di rumah. Yang ini daunnya berwarna ungu, beda dengan koleksi yang ada di rumah,” ujar Darsono bersemangat sambil menunjukkan tanaman pilihannya.

​Setelah puas melepas penat dan mengukir kenangan indah di Karanganyar, rombongan menutup hari dengan penuh kehangatan. Di Resto Bakmi Jowo Bramen, Klaten, mereka duduk melingkar, menikmati hidangan hangat sembari kembali menceritakan kejadian-kejadian konyol sepanjang hari.

Di antara aroma bakmi jowo yang menggugah selera dan tawa yang tak kunjung usai, 19 sahabat lama ini membuktikan bahwa jarak dan waktu tak akan mampu mengikis hangatnya kebersamaan masa muda. Sunarto

Share This Article
error: Content is protected !!
Exit mobile version