Mimpi “Kandang Gajah” PSI di Jawa Tengah: Mengapa Safari Politik Jokowi Justru Berisiko Blunder?

4 Min Read

Oleh: Joko J Prihatmoko

RENCANA mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menggelar safari politik di Jawa Tengah pada medio Juli 2026 ini menuai sorotan tajam. Langkah ini dinilai tak lebih dari sekadar manuver politik untuk mendongkrak popularitas Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dengan menjual romantisme masa lalu.

​Namun, di tengah kokohnya tembok “Kandang Banteng” (PDI Perjuangan), upaya memboyong Jokowi keliling daerah diprediksi tidak akan membawa perubahan signifikan bagi konstelasi politik di Jawa Tengah. Jangankan menggeser dominasi PDIP, langkah ini justru berisiko menjadi bumerang yang kontraproduktif.

​”Kandang Gajah” Hanya Teriakan Emosional Kaesang

​Keinginan PSI untuk mengubah peta politik Jawa Tengah dan menjadikannya sebagai “kandang gajah” dinilai sebagai target yang tidak realistis.

​Meskipun PSI mencoba membajak dan merekrut nama-nama politisi beken dari partai lain, hal itu tidak serta-merta melipatgandakan kekuatan elektoral mereka hingga mampu menjadi partai dominan.

Catatan Historis: Pasar Terbuka yang Punya Batas

​Secara karakteristik, pemilih di Jawa Tengah memang tergolong open market (pasar terbuka) bagi partai-partai baru yang mengusung jargon kebangsaan—seperti pluralisme, toleransi, cinta tanah air, dan persatuan. Sejarah mencatat beberapa partai baru langsung melejit pada debut perdana mereka di Jateng:

Partai Demokrat (2004): Langsung mengamankan 9 kursi DPRD Provinsi Jateng.

​Partai Gerindra (2009): Sukses menyabet 9 kursi pada pemilu pertamanya.

​Partai Nasdem (2014): Berhasil mengantongi 4 kursi DPRD Provinsi.

​Namun, ada satu garis batas tebal yang tidak pernah bisa dilewati oleh partai-partai pendatang baru tersebut: mereka belum pernah sekalipun melampaui perolehan suara terendah PDIP.

​Sebagai perbandingan, suara terendah PDIP di Jawa Tengah terjadi pada Pemilu 2009 dengan raihan 3.438.406 suara untuk DPRD Provinsi. Di luar itu, PDIP konsisten meraup 5 hingga 8 juta pemilih. Hingga hari ini, belum ada satu pun partai yang mampu melewati angka batas bawah milik PDIP tersebut.

Jokowi Keliling 576 Kecamatan: Efektif atau Sia-sia?

​Secara historis, sangat kecil kemungkinan bagi PSI untuk langsung melesat menggusur partai-partai mapan, apalagi meruntuhkan dominasi PDIP. Bahkan, sekalipun Jokowi diajak berputar-putar menyambangi 576 kecamatan di seluruh Jawa Tengah, peta kekuatan diprediksi akan tetap bergeming (ceteris paribus).

​Justru, pihak yang seharusnya merasa terganggu dengan safari politik Jokowi ini bukanlah PDIP, melainkan partai-partai yang mencatatkan kenaikan suara signifikan pada Pemilu 2024 lalu, seperti Gerindra, Golkar, dan PKS.

Karakter Pemilih yang Cair dan Ancaman Backfire

​Mengapa suara tambahan partai-partai tersebut rawan digoyang oleh manuver PSI? Jawabannya ada pada lemahnya Party ID (identifikasi partai) di kalangan pemilih saat ini.

​Secara umum, pemilih masa kini bersifat non-ideologis alias cair. Hubungan emosional antara pemilih dan partai politik tidaklah solid. Suara-suara baru yang diperoleh partai pada pemilu lalu umumnya terbentuk karena faktor jaringan lapangan dan insentif material sesaat, bukan karena loyalitas buta. Artinya, basis massa ini sangat potensial untuk bergeser dan berpindah pilihan pada pemilu mendatang.

​Namun, alih-alih meraup suara cair tersebut, langkah PSI yang terlalu agresif memamerkan safari politik Jokowi di tengah situasi ekonomi masyarakat yang sedang tidak baik-baik saja justru bisa memicu antipati.

​Ketika rakyat sedang didera kesulitan hidup sehari-hari, urgensi dari safari politik yang murni bertujuan kekuasaan ini menjadi tidak terlihat. Jika tidak diantisipasi dengan baik, bukan simpati yang didapat, melainkan penolakan kunjungan yang berpotensi terjadi di berbagai daerah di Jawa Tengah.

Drs H Joko J Prihatmoko MSi, Pengamat Politik dan Dosen Universitas Wahid Hasyim Semarang.

Share This Article
Exit mobile version