MMQ ke-38 Semarang Tekankan Keikhlasan Mengajar Al-Qur’an dan Ketelitian Membaca Ayat Suci

2 Min Read
KH Much. Abdullah dalam rangkaian acara MMQ (Majlis Mu’allimil Qur’an) ke-38 Korcab Semarang 1 yang digelar pada Ahad, 17 Mei 2026, di Masjid Kampus Universitas Diponegoro, Tembalang, Semarang. Foto:dok

SEMARANG (Jatengdaily.com) — Keikhlasan dalam mengajarkan Al-Qur’an merupakan bentuk kemuliaan tertinggi yang menjadikan seseorang termasuk golongan insan terbaik.

Namun, dalam praktiknya masih ada fenomena sebagian mu’allim dan mu’allimah yang berharap memiliki banyak murid serta tamu yang datang ramai hingga memenuhi rumah atau tempat pendidikan Al-Qur’an.

Padahal, hal tersebut dinilai tidak sejalan dengan kajian dalam kitab At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an. Seorang ustadz maupun ustadzah seharusnya tetap berkomitmen mengajar dengan mengharap rida Allah semata.

Hal itu disampaikan KH Much. Abdullah dalam rangkaian acara MMQ (Majlis Mu’allimil Qur’an) ke-38 Korcab Semarang 1 yang digelar pada Ahad, 17 Mei 2026, di Masjid Kampus Universitas Diponegoro, Tembalang, Semarang.

Ia mengutip firman Allah dalam Surah Al-Bayyinah ayat 5: “Wa maa umiruu illaa liya’budullaaha mukhlishiina lahud-diin…”

“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya.”

Dalam kegiatan tersebut, acara inti diisi dengan mendarus Al-Qur’an menggunakan sistem MMQ, yakni satu peserta membaca satu lembar Al-Qur’an, sementara peserta lainnya menyimak dan mencatat kesalahan secara bergiliran.

Sekretaris Koordinator Pendidikan Al-Qur’an Metode Qiroati Cabang Kota Semarang, Ustadz Arif, menjelaskan bahwa MMQ ke-38 dihadiri sebanyak 424 ustadz dan ustadzah.
“Para pendidik juga mengikuti tahtim dan khotmil Qur’an dalam kegiatan ini,” ujarnya.

Ia menambahkan, ketepatan memperhatikan panjang-pendek bacaan serta makhraj huruf menjadi salah satu kunci utama dalam membaca Al-Qur’an dengan benar.

Karena itu, para pendidik Al-Qur’an memiliki kewajiban untuk terus mengingatkan para santri agar berhati-hati ketika membaca ayat-ayat suci.

Kesalahan pelafalan huruf dapat berakibat fatal dan mengubah arti bacaan. Misalnya, huruf “syin” yang dibaca “sin”. Contoh tersebut terdapat dalam Surah Ibrahim ayat 7. Kata yang seharusnya bermakna “bersyukur” bisa berubah makna menjadi “mabuk” apabila dibaca keliru.

Pesan tersebut merupakan dawuh dari KH Dachlan Salim Zarkasyi, pendiri metode Qiroati pertama di Indonesia, yang hingga kini terus menjadi pedoman bagi para pendidik Al-Qur’an. Penulis Rini Rahayu-st

Share This Article
Exit mobile version