Oleh : apt Riza Maulana, M.Pharm.Sci.
Dosen Fakultas Farmasi, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS)
PERNAHKAH Anda menghitung berapa lama waktu yang dihabiskan untuk duduk dalam satu hari? Mungkin dimulai dari duduk di depan komputer saat bekerja, berkendara menuju kantor, menikmati makan siang sambil menatap layar ponsel, kemudian kembali duduk hingga sore.
Sesampainya di rumah, aktivitas pun sering berlanjut dengan menonton serial favorit atau scrolling media sosial hingga waktu tidur tiba. Tanpa disadari, sebagian besar waktu kita dihabiskan dalam posisi duduk atau minim bergerak.
Kemajuan teknologi memang telah membuat hidup menjadi lebih praktis. Berbelanja cukup melalui telepon genggam, makanan datang ke rumah hanya dengan beberapa sentuhan jari, rapat dilakukan secara daring, bahkan olahraga pun bisa disaksikan tanpa harus meninggalkan sofa.
Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, muncul kebiasaan baru yang mulai mengancam kesehatan masyarakat, yaitu gaya hidup sedenter.
Gaya hidup sedenter adalah pola hidup yang didominasi oleh aktivitas dengan pengeluaran energi yang sangat rendah, seperti duduk terlalu lama, berbaring, atau menatap layar dalam waktu yang berkepanjangan.
Aktivitas fisik tetap ada, tetapi jumlahnya tidak cukup untuk menjaga tubuh tetap aktif. Inilah salah satu alasan mengapa obesitas semakin banyak ditemukan, tidak hanya pada orang dewasa, tetapi juga pada remaja bahkan anak-anak.
Obesitas bukan sekadar persoalan bentuk tubuh atau penampilan. Kondisi ini terjadi ketika lemak tubuh menumpuk secara berlebihan sehingga dapat mengganggu kesehatan.
Penumpukan lemak yang berlangsung terus-menerus meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis, seperti diabetes melitus tipe 2, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, stroke, gangguan sendi, hingga beberapa jenis kanker.
Semakin lama obesitas dibiarkan, semakin besar pula risiko munculnya komplikasi yang dapat menurunkan kualitas hidup.
Sayangnya, masih banyak orang yang menganggap obesitas hanya disebabkan oleh terlalu banyak makan.
Padahal, penyebabnya jauh lebih kompleks. Pola makan tinggi gula, garam, dan lemak memang berperan, tetapi kurangnya aktivitas fisik, waktu tidur yang tidak cukup, stres berkepanjangan, faktor genetik, hingga lingkungan juga memengaruhi peningkatan berat badan.
Di era digital, tantangan terbesar justru datang dari kebiasaan yang tampak sederhana. Duduk selama berjam-jam di depan layar sering kali tidak terasa karena perhatian kita tersita oleh pekerjaan, permainan, atau media sosial.
Akibatnya, tubuh membakar lebih sedikit kalori, sementara camilan tinggi gula dan minuman manis menjadi teman setia selama beraktivitas. Kombinasi antara asupan energi yang berlebih dan minimnya pergerakan inilah yang perlahan meningkatkan berat badan.
Kabar baiknya, mencegah obesitas tidak selalu harus dimulai dengan olahraga berat. Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten justru lebih mudah dipertahankan. Misalnya, membiasakan berdiri dan berjalan selama beberapa menit setiap satu jam bekerja, memilih tangga daripada lift, berjalan kaki saat menelepon, atau memarkir kendaraan sedikit lebih jauh dari tujuan.
Aktivitas sederhana seperti menyapu rumah, berkebun, atau bermain bersama anak juga termasuk bentuk aktivitas fisik yang bermanfaat.
Pola makan pun memegang peranan penting. Memperbanyak konsumsi sayur, buah, biji-bijian utuh, serta sumber protein tanpa lemak dapat membantu menjaga berat badan tetap ideal.
Sebaliknya, makanan cepat saji, minuman berpemanis, dan cemilan tinggi kalori sebaiknya dikonsumsi secukupnya, bukan menjadi bagian dari menu harian.
Tidak kalah penting, biasakan makan dengan sadar, tanpa terganggu oleh televisi atau telepon genggam, sehingga tubuh lebih mudah mengenali rasa kenyang.
Pada akhirnya, memang kemajuan teknologi telah membawa banyak kemudahan dalam kehidupan kita. Namun, jangan sampai kemudahan tersebut membuat tubuh semakin jarang bergerak.
Tubuh manusia dirancang untuk aktif, bukan hanya untuk duduk menatap layar. Dengan membangun gaya hidup yang lebih seimbang, kita tidak hanya mencegah obesitas, tetapi juga melindungi diri dari berbagai penyakit kronis yang dapat mengurangi kualitas hidup.
Di era digital, justru investasi kesehatan sangat diperlukan, salah satunya dengan membangun kebiasaan sederhana untuk bangkit, bergerak, dan menjaga tubuh tetap aktif setiap hari. St


