Oleh: Dr N.A.N. Murniati MPd
SETIAP kali kalender mendekati angka 2 Mei, gempita Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) mulai terasa. Spanduk bertuliskan tema-tema optimis bertebaran, upacara bendera dipersiapkan, dan pidato mengenai kemajuan pendidikan disusun dengan rapi. Kita merayakan warisan Ki Hajar Dewantara dengan penuh khidmat.
Namun, di tengah seremonial tahunan yang megah itu, sebuah pertanyaan eksistensial seharusnya mengetuk kesadaran setiap pemangku kepentingan: Apakah sistem pendidikan kita benar-benar sedang melompat jauh menuju masa depan, atau jangan-jangan kita hanya sedang berlari kencang di atas mesin treadmill?
Analogi treadmill atau berlari di tempat menggambarkan kondisi di mana energi dikeluarkan secara masif, keringat bercucuran, dan napas terengah-engah, namun posisi fisik tidak bergeser satu sentimeter pun dari titik semula. Dalam konteks pendidikan Indonesia, kita melihat kesibukan yang luar biasa.
Guru-guru terjebak dalam labirin administrasi, kurikulum berganti rupa dalam waktu singkat, dan platform-platform digital baru terus diperkenalkan. Namun, jika kita melihat kualitas literasi, numerasi, dan kemampuan berpikir kritis siswa secara substansial, seringkali angkanya masih bergerak di zona yang sama selama satu dekade terakhir. Apakah kesibukan administratif kita telah teralienasi dari esensi mendidik yang sesungguhnya?
Penyebab utama dari fenomena “berlari di tempat” adalah dominasi formalitas di atas substansi. Selama bertahun-tahun, keberhasilan pendidikan seringkali diukur dari kelengkapan dokumen administratif.
Guru, yang seharusnya menjadi seniman di ruang kelas dan dirigen inspirasi bagi muridnya, justru bertransformasi menjadi juru tulis bagi birokrasi. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengisi aplikasi, menyusun laporan kinerja, dan memenuhi beban administrasi lainnya yang belum tentu berkorelasi langsung dengan kualitas pemahaman siswa di kelas.
Ketika seorang pendidik lebih mencemaskan “keteraturan dokumen” daripada “keterbakaan mata muridnya” saat menerima pelajaran, saat itulah kita mulai berlari di tempat. Kita menciptakan ilusi kemajuan melalui data digital dan grafik laporan yang tampak hijau, namun di akar rumput, ruang-ruang kelas kita masih sunyi dari diskusi nalar yang mendalam.
Kita sibuk memperbaiki “wadah” tanpa pernah benar-benar mencicipi dan meningkatkan kualitas “isi” dari pendidikan itu sendiri.
Di sisi lain, dunia di luar pagar sekolah tidak sedang berlari di tempat; ia sedang melakukan lompatan kuantum. Revolusi Industri 4.0 yang belum usai kini sudah disambung dengan gelombang Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) yang mendisrupsi segala lini kehidupan. Cara manusia bekerja, berkomunikasi, hingga memecahkan masalah telah berubah secara radikal dalam lima tahun terakhir. Pekerjaan-pekerjaan yang dulu dianggap aman kini mulai tergantikan oleh algoritma.
Jika pendidikan kita masih mempertahankan pola pikir abad ke-20—di mana sekolah hanya berfungsi sebagai pabrik kepatuhan dan pusat penghafalan fakta—maka kita tidak hanya sedang berlari di tempat, kita sedang mengalami regresi relatif. Melompat jauh berarti berani mempertanyakan relevansi materi yang diajarkan. Apakah kita masih mengajarkan anak-anak kita untuk menjadi “kamus berjalan” di era di mana mesin pencari bisa memberikan jawaban dalam hitungan detik? Ataukah kita sudah mulai mengajarkan mereka cara bertanya, cara memvalidasi informasi, dan cara menciptakan solusi dari tumpukan data yang ada?
Untuk melakukan lompatan jauh, kita perlu kembali ke akar filosofis Ki Hajar Dewantara yang seringkali hanya kita kutip tanpa benar-benar kita resapi. Beliau menegaskan bahwa pendidikan harus selaras dengan “kodrat alam” dan “kodrat zaman”. Kodrat zaman hari ini menuntut manusia yang adaptif, kolaboratif, dan memiliki ketahanan mental yang kuat.
Lompatan jauh dimulai ketika kita memberikan kemerdekaan yang sesungguhnya kepada guru dan siswa. Merdeka bukan berarti bebas tanpa arah, melainkan otonomi untuk mengeksplorasi potensi sesuai dengan konteks lokal dan keunikan individu. Pendidikan yang melompat adalah pendidikan yang berani merayakan keragaman bakat.
Kita tidak bisa mengharapkan sebuah bangsa melompat jauh jika sistem pendidikannya masih menyeragamkan semua anak melalui standar ujian yang kaku, seolah-olah semua ikan harus dinilai dari kemampuannya memanjat pohon.
Guru harus diberikan ruang untuk menjadi “Maestro”. Seorang maestro tidak bekerja berdasarkan instruksi teknis yang kaku, melainkan berdasarkan visi dan rasa. Ketika guru mampu mengorkestrasi teknologi, kreativitas, dan empati dalam satu harmoni pembelajaran, saat itulah mesin pendidikan kita mulai bergerak maju meninggalkan tempatnya semula.
Syarat mutlak untuk melompat adalah kelenturan. Sebuah benda yang kaku akan patah saat dipaksa melompat tinggi. Sistem pendidikan kita perlu bertransformasi dari sistem yang kaku dan tersentralisasi menjadi sistem yang lentur dan organik. Budaya inovasi harus tumbuh dari bawah, bukan sekadar instruksi dari atas.
Sekolah harus menjadi laboratorium kehidupan, di mana kegagalan dalam bereksperimen dianggap sebagai bagian dari proses belajar, bukan aib yang menurunkan nilai akreditasi.
Kita juga perlu mendefinisikan ulang makna keberhasilan. Lompatan jauh pendidikan tidak diukur dari seberapa banyak siswa yang lulus dengan nilai sempurna, melainkan seberapa banyak lulusan yang mampu bertahan dan berkontribusi di tengah ketidakpastian dunia.
Kita membutuhkan generasi yang memiliki “Kedaulatan Rasa” dan “Kemerdekaan Berpikir”—generasi yang tidak mudah dipicu oleh provokasi karena memiliki nalar kritis, dan tidak mudah menyerah karena memiliki empati dan karakter yang kokoh.
Hardiknas tahun ini seharusnya menjadi garis start baru. Kita harus berhenti merasa puas dengan pergerakan yang hanya bersifat kosmetik. Berhenti merasa telah maju hanya karena kita telah mendigitalkan birokrasi, jika cara berpikir kita masih birokratis.
Lompatan itu tidak akan terjadi secara otomatis; ia membutuhkan keberanian politik, keberanian pedagogis, dan yang paling penting, keberanian moral untuk mengakui kekurangan kita sendiri.
Pendidikan kita memiliki aset yang luar biasa: jutaan anak muda yang haus akan ilmu dan ribuan guru di pelosok negeri yang tetap menyalakan pelita meski dalam keterbatasan. Energi ini tidak boleh habis hanya untuk berlari di atas treadmill kebijakan yang berputar-putar. Mari kita lepaskan beban-beban yang menghambat, arahkan pandangan jauh ke depan, dan lakukan lompatan besar itu.
Sebab, jika kita hanya terus berlari di tempat, suatu saat kita akan kehabisan napas tanpa pernah sampai ke tujuan. Namun, jika kita berani melompat, meskipun dengan risiko terjatuh, kita setidaknya telah mencoba untuk terbang dan menyambut masa depan dengan kepala tegak.
Pendidikan bukan tentang seberapa cepat kita bergerak, tapi tentang sejauh mana kita telah berpindah menuju peradaban yang lebih mulia.
Penulis adalah Dosen Manajemen Pendidikan S2 UPGRIS bidang Keahlian Perencanaan dan Pengembangan SDM Pendidikan. St


