Penghimpunan Lazismu Tembus Rp827 Miliar, Target Rp1 Triliun pada 2027

Lazismu menggelar Muhammadiyah Zakat Summit 2026 di Radjawali Semarang Cultural Center, Kota Semarang pada Jumat (6/11/2026). Foto: Siti KH

SEMARANG (Jatengdaily.com)- Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) menargetkan penghimpunan dana zakat nasional mencapai Rp1 triliun pada 2027. Target tersebut didasarkan pada tren peningkatan penghimpunan dana yang terus menunjukkan perkembangan positif dalam beberapa tahun terakhir.

Ketua Badan Pengurus (BP) Lazismu Pusat, Ahmad Imam Mujadid Rais, M.IR., mengatakan, hingga periode triwulan pertama 2026, penghimpunan dana Lazismu secara nasional telah mencapai Rp827,69 miliar. Sementara itu, dana yang telah disalurkan mencapai Rp635,02 miliar dengan jumlah penerima manfaat sebanyak 132.225 orang.

Hal tersebut disampaikan Ahmad Imam Mujadid Rais dalam kegiatan Muhammadiyah Zakat Summit 2026 di Radjawali Semarang Cultural Center, Kota Semarang  yang digelar pada Jumat (6/11/2026). Dalam kegiatan tersebut, Lazismu Jawa Tengah bertindak sebagai tuan rumah, dan peserta disambut oleh Ketua BP Lazismu Jawa Tengah Dwi Swasana Ramadhan, S.E., M.S.E.I., Ak., CTA, ACPA, CertDA. 

“Untuk mencapai target Rp1 triliun pada 2027, tentu sudah ada hitungan dan rumusnya. Kami melihat grafik penghimpunan selama beberapa tahun terakhir terus meningkat. Alhamdulillah, saat ini penghimpunan sudah mencapai Rp827,69 miliar,” ujarnya.

Menurut Mujadid, pencapaian target tersebut membutuhkan inovasi dan penguatan strategi penghimpunan. Salah satunya melalui integrasi berbagai metode penghimpunan, baik secara langsung maupun digital.

Lazismu juga berupaya memperluas kolaborasi dengan berbagai komunitas dan memperkuat infrastruktur penghimpunan melalui masjid. Dengan demikian, masjid tidak hanya menjadi pusat kegiatan ibadah, tetapi juga dapat berperan sebagai pusat pengelolaan dan penghimpunan dana sosial keagamaan.

Sembilan Program Unggulan 

Selain penguatan penghimpunan, Lazismu memiliki sembilan program strategis yang menjadi fokus penyaluran dana umat. Kesembilan program tersebut meliputi Back to Masjid, Kampung Berkemajuan, Save Our School, Layanan Akses Kesehatan, Ketahanan Pangan, Muhammadiyah Water Care, Pengelolaan Sampah dan Limbah, Kemanusiaan dan Advokasi, serta Indonesia Siaga.

Program-program tersebut diharapkan menjadi pilihan bagi para muzaki dalam menyalurkan zakat, infak, dan sedekah sesuai dengan kebutuhan serta persoalan sosial yang ingin mereka bantu.

Mujadid juga menyampaikan pentingnya memperkuat program pemberdayaan ekonomi produktif, termasuk pengembangan UMKM dan pengusaha muda. Menurutnya, pengelolaan zakat ke depan harus semakin diarahkan pada program yang memberikan dampak jangka panjang bagi masyarakat.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, meminta Baznas dan Lazismu memperkuat sinergi dalam upaya mengentaskan kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Tokoh yang akrab disapa Gus Yasin itu menegaskan bahwa kolaborasi antarlembaga pengelola zakat, baik pemerintah maupun swasta, sangat diperlukan agar dana umat dapat memberikan manfaat yang lebih luas dan berkelanjutan.

“Ini saya berharap ada kolaborasi, ada sinergi sehingga kesejahteraan itu benar-benar berdampak,” kata Taj Yasin.

Ia berpesan kepada para pimpinan dan pengurus Lazismu agar tidak hanya berorientasi pada laporan penghimpunan dan penyaluran dana. Lebih dari itu, setiap program harus diperhatikan secara detail agar benar-benar memberikan manfaat dan mampu berkembang bagi masyarakat penerima.

Gus Yasin juga mengapresiasi berbagai program Lazismu yang dinilai dapat menjawab persoalan sosial, salah satunya program Muhammadiyah Water Care yang berfokus pada penyediaan akses air bersih dan air siap minum.

Menurutnya, persoalan kekeringan dan keterbatasan akses air masih menjadi tantangan di sejumlah wilayah. Karena itu, program penyediaan air bersih perlu diperkuat melalui kerja sama antara lembaga zakat dan pemerintah daerah.

Ia mencontohkan program Sak Omah Sak Sumur Resapan (Sopan) yang dikembangkan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Baznas untuk meningkatkan ketahanan air melalui pembangunan sumur resapan.

Program tersebut telah diterapkan, salah satunya di Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang. Gus Yasin menyebut, wilayah yang sebelumnya rutin mengalami kekurangan air saat musim kemarau, kini mampu bertahan tanpa harus mendapatkan bantuan distribusi air.

“Biasanya dua tahun yang lalu di daerah tersebut drop air setiap musim kemarau. Tetapi pada musim kemarau kali ini enggak ada,” ungkapnya.

Ia berharap, program serupa dapat dikembangkan melalui kolaborasi Lazismu, Baznas, dan pemerintah daerah sehingga mampu membantu menyelesaikan persoalan kekeringan sekaligus berbagai persoalan sosial lainnya.

Selain itu, Gus Yasin juga mendorong pengembangan pengelolaan dana keagamaan, termasuk dana kafarat, agar dapat memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.

Sementara itu, Ketua BP Lazismu Jawa Tengah, Dwi Swasana Ramadhan, S.E., M.S.E.I., Ak., CTA, ACPA, CertDA, dalam sambutannya menyambut baik penyelenggaraan Muhammadiyah Zakat Summit 2026 dan Rakernas Lazismu di Jawa Tengah.

Ia menekankan pentingnya tanggung jawab bersama dalam mengelola dana umat, khususnya zakat, infak, dan sedekah, agar dapat dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Dalam pemaparannya, Ahmad Imam Mujadid Rais juga mengapresiasi kontribusi Lazismu Jawa Tengah yang telah menghimpun dana sebesar Rp378 miliar atau sekitar 45,67 persen dari total penghimpunan nasional.

Capaian tersebut menjadi salah satu kontribusi penting dalam mendorong pertumbuhan penghimpunan dana Lazismu secara nasional.

Melalui Muhammadiyah Zakat Summit 2026 dan Rakernas ini, Lazismu berharap konsolidasi organisasi, inovasi penghimpunan, serta penguatan program pemberdayaan dapat semakin optimal. Dengan demikian, target penghimpunan Rp1 triliun pada 2027 tidak hanya menjadi capaian angka, tetapi juga menjadi kekuatan untuk memperluas manfaat zakat bagi masyarakat. she 

Share This Article
Exit mobile version