Perkuat Diplomasi Budaya, Unwahas dan Tiongkok Kolaborasi Teliti Jalur Laksamana Cheng Ho

Ye Su membagikan cendera mata berupa Buku “Xi Jinping: The Governance of China” yang ditulis dalam berbagai bahasa antara lain Inggris, Arab, Rusia dan India.  Foto: dok

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang dan beberapa Kampus perguruan tinggi di Tiongkok akan melakukan penelitian bersama tentang jalur pelayaran Laksamana Zheng Ho di Nusantara.

Gagasan tersebut disampaikan Ketua Umum Yayasan Wahid Hasyim Prof Dr KH Noor Achmad MA saat jamuan makan malam dengan Konsulat Jenderal Republik Rakyat Tiongkok di Surabaya Ye Su di Rumah Makan Kampung Laut Semarang, Rabu malam (2/9).

Gagasan tersebut disambut Ye Su dengan sangat baik sebagai bentuk kerja sama kedua negara. Ye Su dalam jamuan makan malam didampingi Kepala Bagian Konselor Konjen Tiongkok Luo Jingying dan Konsul Muda Guan Hanru.

Sedang Noor Achmad didampingi Rektor Unwahas Prof Dr Helmi Purwanto, Wakil Ketua Yayasan Prof Dr Abu Habsin, Para wakil Rektor dan Dekan FISIP Unwahas Dr Ali Martin dan para dosen alumni Tiongkok.

Kedatangan Konjen Tiongkok di Unwahas dalam rangka menjadi Pembicara kunci Seminar Nasional Politik dan Hubungan Internasional (Senaspolhi) Ke-8 yang digelar oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Unwahas Semarang.

‘’ Dari Semarang, Unwahas terus membuka ruang kolaborasi dan diplomasi yang konstruktif untuk memperkuat people-to-people relations dan menghadirkan kerja sama yang semakin bermakna.

Welcome to Unwahas, welcome to a friendship that grows through dialogue and culture,’’ kata Prof Helmi Purwanto, Rektor unwahas singkat.

Ye Su membagikan cendera mata berupa Buku “Xi Jinping: The Governance of China” yang ditulis dalam berbagai bahasa antara lain Inggris, Arab, Rusia dan India.

Dekan FISIP Ali Martin menjelaskan, Senaspolhi di Ruang Teater Fakultas Kedokteran, Kamis (3/9) menghadirkan tiga narasumber yaitu Purwadi Teguh AlRosyid dari Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Jawa Tengah, Direktur Sino Institut A Syaifuddin Zuhri dan Kaprodi Hubungan Internasional Unwahas Sugiarto Pramono.

Kerja Sama Internasional

Ketua Umum Yayasan Wahid Hasyim Prof Dr KH Noor Achmad Ketika membuka Senaspolhi8 mengatakan, kerja sama internasional Unwahas-Tiongkok sudah dibangun sangat lama.

‘’Tahun 2011 Unwahas dan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) sudah mengirim 10 orang belajar S2 di Nanchang University (NCU) Kota Nanchang, Jiangxi Privince. Tahun 2012 mereka mendeklarasikan PCINU Tiongkok,’’ kata Noor Achmad.

Tahun 2012 Unwahas melakukan penandatanganan kerja sama dengan Beijing Language Culture University (BLCU) di Kota Beijing. Kerja sama baik tersebut berlanjut sampai sekarang. Mahasiswa Tiongkok ada yang kuliah di Unwahas, mahasiswa dan dosen Unwahas ada yang kuliah di berbagai kampus perguruan tinggi di Tiongkok.

‘’Berbagai kerja sama dan penelitian sedang kita persiapkan untuk melanjutkan kerja sama tersebut,’’ kata Noor Achmad.

Konsulat Jenderal Republik Rakyat Tiongkok di Surabaya Ye Su dalam pidatonya mengatakan, Tiongkok terus mengembangkan kerja sama dalam dunia Pendidikan di seluruh negara. Hingga kini sudah lebih 180 negara yang melakukan kerja sama dengan Tiongkok termasuk Unwahas Semarang.

Purwadi Teguh AlRosyid dari Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Jawa Tengah mengatakan, daya saing Jawa Tengah dalam paparan tentang ‘’Membangun Jembatan Melalui Budaya: Memperkuat Persahabatan Indonesia-Tiongkok di Tengah Dinamika Global’’ pihaknya terus bekerja sama dengan berbagai negara untuk meningkatkan penanaman modal asing. Salah satu yang terus didorong adalah Kawasan Ekonomi Khusus KEK) dan Kawasan Industri (KI) seperti di Kabupaten Kendal dan Batang. Realisasi investasi asing di Jateng 10 top antara lain Hongkong, Singapura, Tiongkok, Korea, Jepang, dan Malaysia. ‘’Tiongkok ada di urutan satu dan tiga,’’ kata Purwadi.

Kaprodi Hubungan Internasional FISIP Unwahas Sugiarto Pramono. Menyampaikan materi tentang “Diplomasi Digital RI–Tiongkok: Dari Negara ke Masyarakat dan Algoritma”.

Menurut Pramono hubungan Indonesia–Tiongkok kini tidak lagi hanya dibangun melalui diplomasi antarpemerintah, tetapi semakin berkembang melalui ruang digital. ‘’Media sosial, platform digital, budaya populer, e-commerce, gim daring, hingga konten kreator telah menjadi saluran baru yang mempertemukan masyarakat kedua negara secara langsung.

Perubahan ini menunjukkan pergeseran pola diplomasi dari State-to-State menuju People-to-People, bahkan berkembang menjadi People–Algorithm–People, ketika algoritma turut menentukan informasi, budaya, dan persepsi yang dikonsumsi masyarakat,’’ kata Doktor lulusan Shandong University (SDU) Jinan, Shandong Tiongkok itu.

Menurut Pramono, fenomena tersebut menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi Indonesia. Diplomasi digital dapat memperkuat people-to-people relations, memperkenalkan budaya Indonesia, dan membangun citra positif Indonesia di tengah masyarakat Tiongkok.

Namun, dominasi platform dan algoritma juga berpotensi menciptakan ketimpangan pengaruh budaya dan informasi. Karena itu, Indonesia perlu tidak hanya menjadi pengguna ruang digital, tetapi juga aktif memproduksi narasi, konten, dan ekosistem digitalnya sendiri, agar hubungan RI–Tiongkok berkembang secara lebih seimbang, saling mengenal, dan tidak berubah menjadi ketergantungan digital maupun budaya.

Direktur Sino Institut A Syaifuddin Zuhri mengatakan, di awal dia belajar di Tiongkok 2011-an, apabila membuka Google atau Baidu di Tiongkok tentang Indonesia adalah peristiwa kelabu Kerusuhan 1998. Tetapi sejalan dengan perjalanan waktu, gambaran buruk tentang Indonesia di media digital Tiongkok mulai hilang. ‘’Diplomasi people-to-people (antarmasyarakat) merupakan salah satu pilar

utama dalam kerangka kerja bilateralIndonesia – Tiongkok,’’ kata Master alumni Nanchang University (NCU) Jiangxi, Tiongkok itu. Menurut Zuhrin pondasi penting yang menyingkirkan prasangka sejarah dan membangun rasa saling menghormati, menciptakan iklim yang kondusif bagi kolaborasi yang lebih dalam dan berkelanjutan.

Aktor Nonnegara Tiongkok menurutnya sangat penting peranannya yaitu pendirian Pusat Kajian Indonesia-China, organisasi persahabatan, kantor khusus untuk pertukaran persahabatan, kolaborasi kampus vs industri dan Confucius Institute di seluruh dunia. St

Share This Article
Exit mobile version