KUDUS (Jatengdaily.com) – Persoalan tengkes atau stunting masih menjadi perhatian dari pemerintah. Publikasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) melalui Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024 menunjukkan bahwa prevalensi stunting Indonesia tahun 2024 adalah 19,8%.
Angka ini lebih rendah 0,3% poin dari target prevalensi stunting yang ditetapkan untuk tahun 2024 yaitu 20,1%.
Capaian tahun 2024 memberi angin segar bagi pencapaian target penurunan angka stunting nasional menjadi 14,2% pada tahun 2029 sesuai target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).
Dari angka 21,5% di tahun 2023, untuk dapat turun ke angka 14,2% di tahun 2029, artinya masih harus menurunkan sekitar 7,3% poin dalam lima tahun ke depan.
Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Tengah Ir. Rusman Efendi, MM mengatakan penurunan prevalensi stunting masih menjadi prioritas program Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN saat menghadiri Sosialisasi Program Bangga Kencana di Pendapa Kabupaten Kudus, Kamis (21/5/2026).
Kegiatan yang diinisiasi oleh Kemendukbangga/BKKBN Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Tengah tersebut berkolaborasi dengan mitra kerja, DinsosP3AP2KB dan TP PKK Kabupaten Kudus serta PT Kobe Boga Utama, serta diikuti oleh 200 tenaga lini lapangan (PPKBD) dan penggerak PKK dari sembilan kecamatan di Kabupaten Kudus.
“Salah satu program prioritas pemerintah untuk mengatasi stunting adalah Program Makanan Bergizi (MBG) khususnya bagi penerima manfaat 3B (Busui, Bumil dan Balita Non-Paud). Bahkan Program MBG 3B ini merupakan satu-satunya program yang ada di tingkat internasional,” papar Rusman.
Ia juga mengatakan bahwa saat ini sebanyak 61% SPPG di Kudus telah melayani sasaran 3B. “Artinya, masih ada sekitar 39 persen SPPG yang belum mengakomodir,” tambahnya.
Pihaknya berharap pemerintah, khususnya Kabupaten Kudus, bisa melakukan intervensi untuk mencapai sasaran 3B sebesar 100 persen.
Senada dengan hal tersebut, Ketua TP PKK Kudus Endah Endhayani Sam’ani Intakoris menegaskan bahwa upaya pengentasan stunting tak boleh dihentikan meskipun prevalensi stunting menunjukkan penurunan dari tahun ke tahun.
“Penurunan itu tak hanya dilakukan oleh pemerintah, tetapi harus diimbangi dengan kolaborasi lintas sektor dan kepedulian masyarakat. Kami targetkan zero stunting pada 2030 mendatang, tetapi tidak mudah. Harus pelan-pelan dan diupayakan berbagai pihak,” ujar Endah.
Ketua TP PKK Kabupaten Kudus turut mengamini pentingnya pengawasan dalam pelaksanaan program pemenuhan gizi. “Secara pentahelix pihaknya juga turut memastikan bahwa setiap dapur SPPG harus memenuhi standarisasi sesuai regulasi badan gizi nasional.
Dengan begitu, program tersebut bisa bermanfaat dan tidak menimbulkan gangguan atau potensi keracunan,” pungkas Endah.
Pada kesempatan tersebut, Rusman juga menekankan pentingnya gerakan cegah stunting sejak dini melalui lima program prioritas Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, yaitu Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING), Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA), Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), hingga program Lansia Berdaya (SIDAYA) yang seluruhnya bertujuan memperkuat kualitas keluarga.
“Diawali memperkuat dan memperbaiki kualitas keluarga, maka kualitas masyarakat dan bangsa akan menjadi kuat dan baik pula,” ujar Rusman.
Selain sosialisasi, kegiatan juga diisi dengan demo masak menu sehat bergizi dan lomba memasak sesuai program Dapur Sehat Atasi Stunting bersama PT Kobe Boga Utama sebagai edukasi pemenuhan nutrisi keluarga untuk mendukung pencegahan stunting sejak dini. St


