Prof Abdul Djamil Kelakar dan Berbagi Ilmu di Al-Muhajirin: “Shalawat Itu Ibadah Paling Murah Tapi Luar Biasa”

Jamaah yang didominasi ibu-ibu Majelis Taklim Al Muhajirin tampak antusias mengikuti pengajian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Sabtu 22 Agustus 2026. Foto: dok

SEMARANG (Jatengdaily.com) — Suasana guyub dan penuh kehangatan menyelimuti serambi Masjid Al Muhajirin, RW 03 Tambakaji, Semarang, pada Sabtu (22/8/2026).

Ratusan jamaah yang didominasi ibu-ibu Majelis Taklim Al Muhajirin tampak antusias mengikuti pengajian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Acara berjalan interaktif dan ceria, diisi ceramah segar penuh pesan mendalam oleh Ketua Takmir Masjid Al Muhajirin yang juga akademisi senior, Prof. Dr. KH Abdul Djamil, MA.

​Kiai Abdul Djamil membuka tausiyah dengan kelakar hangat yang menyapa kesehatan para jamaah, lalu mengajak jamaah merenungkan makna mendasar dari peringatan kelahiran Rasulullah SAW.

Mantan Rektor UIN Walisongo ini menegaskan bahwa menghadiri pengajian dan merayakan Maulid Nabi merupakan bentuk manifestasi cinta (mahabbah) yang nyata kepada Sang Nabi.

​”Wong sing mencintai sesuatu, pasti akan selalu teringat dalam hatinya dan terbayang-bayang. Sederhana saja, kalau kita cinta Nabi, maka kita selalu ingat beliau dan memperbanyak shalawat—sebuah ibadah yang paling mudah, tidak butuh modal besar, tapi pahalanya luar biasa,” tutur Prof. Abdul Djamil

7 Golongan yang Mendapat Naungan di Hari Kiamat

​Memasuki inti bahasan, Prof. Abdul Djamil menguraikan ajaran Rasulullah SAW mengenai tujuh kelompok manusia yang kelak akan mendapatkan perlindungan dan naungan (syafaat) dari Allah SWT di yaumil mahsyar, saat semua orang kebingungan mencari tempat bernaung.

Pemimpin yang Adil (Imamun ‘Adil): Kepemimpinan tidak hanya berlaku bagi pejabat negara, melainkan setiap individu. Suami adil memimpin keluarga, istri adil menjaga amanah rumah tangga dan harta, serta imam salat yang bijak memahami kondisi jamaahnya.

Orang yang Rajin Beribadah:Seseorang yang konsisten memelihara ibadah wajib dan sunnah serta membiasakan diri membaca Al-Qur’an. Beliau mengingatkan bahwa membaca Al-Qur’an—meski hanya ayat-ayat pendek—akan dilipatgandakan pahalanya per satu huruf.

Hati yang Terikat dengan Masjid (Qalboolah Mu’allaq fil Masajid): Orang-orang yang hatinya selalu rindu dan terikat pada memakmurkan masjid, baik secara fisik datang berjamaah maupun mendukung operasional dan infak masjid.

Dua Orang yang Saling Mencintai Karena Allah: Persahabatan sejati yang terjalin tulus, saling mendukung dan menemani baik di kala senang maupun duka.

Sedekah yang Sembunyi-Sembunyi: Tangan kanan memberi tanpa perlu diketahui tangan kiri, menjauhkan diri dari sifat riya’ atau sekadar ingin dipublikasikan.

Berdzikir dalam Kesendirian: Mengingat Allah SWT di waktu-waktu sunyi, seperti pada sepertiga malam terakhir saat orang lain tertidur lelap.

Menjaga Diri dari Maksiat Karena Takut kepada Allah: Seseorang yang mampu membentengi hatinya dan menolak godaan perbuatan tercela semata-mata karena rasa takut kepada Allah SWT.

Pesan Kepedulian dan Keberkahan Infaq

​Di sela-sela ceramahnya, beliau juga mengajak para jamaah untuk selalu berempati dan mendoakan saudara-saudara sebangsa yang sedang tertimpa musibah bencana alam.

Peringatan Maulid Nabi ini menjadi momentum untuk memperkuat solidaritas, memperbanyak doa selamat, serta menyisihkan rezeki melalui infak masjid.

​Acara pengajian diakhiri dengan doa bersama untuk keselamatan bangsa, keberkahan keluarga, serta keistiqamahan jamaah dalam meneladani akhlak Rasulullah SAW.

Gelak tawa dan keakraban yang terjalin sepanjang acara menjadikan pengajian Maulid Nabi di Masjid Al Muhajirin ini tidak hanya sarat ilmu agama, tetapi juga mempererat tali silaturahmi antarwarga. St

 

Share This Article
Exit mobile version