Ramadan Menyalakan Harapan Baru di Balik Tembok Lapas Bulu

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti dalam agenda Tarawih Keliling Pemerintah Kota Semarang pada Minggu (8/3) malam. Foto:dok

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Malam itu, suasana di Lapas Perempuan Kelas II-A Bulu Semarang terasa berbeda. Di balik tembok tinggi yang selama ini identik dengan keterbatasan, salat tarawih bergema hangat. Sejumlah warga binaan duduk bersaf rapi, sebagian memegang mukena, sebagian lagi saling berbisik pelan sebelum salat dimulai.

Ramadan menghadirkan suasana yang lebih hening, sekaligus penuh harap. Di tengah kebersamaan itu, hadir pula Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti. Ia datang dalam agenda Tarawih Keliling Pemerintah Kota Semarang pada Minggu (8/3) malam, bersilaturahmi dengan keluarga besar lapas—mulai dari warga binaan hingga para petugas yang sehari-hari menjaga dan mendampingi mereka.

Bagi sebagian warga binaan, kunjungan itu terasa seperti angin segar. Tidak sekadar tamu resmi yang datang memberi sambutan, tetapi seseorang yang membawa pesan bahwa hidup selalu memberi kesempatan kedua.

Dalam sambutannya, Agustina mengingatkan bahwa Ramadan selalu membawa pesan yang sama dari tahun ke tahun: kesempatan untuk memperbaiki diri.

“Ramadan selalu datang membawa pesan yang sama, bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk maju, memperbaiki diri, menata ulang langkah, dan membuka lembaran kehidupan yang lebih baik,” ujarnya di hadapan para warga binaan.

Beberapa perempuan yang duduk di barisan belakang terlihat mengangguk pelan. Ada yang menunduk, ada pula yang tersenyum tipis.

Di tempat seperti lapas, waktu memang berjalan dengan cara yang berbeda. Hari-hari diisi dengan rutinitas pembinaan, kegiatan keagamaan, hingga pelatihan keterampilan. Namun bagi banyak warga binaan, setiap kesempatan untuk belajar hal baru terasa seperti membuka pintu menuju masa depan.

Agustina mengaku terkesan dengan berbagai program pembinaan yang berjalan di lapas tersebut. Di sana, para warga binaan tidak hanya menjalani masa hukuman, tetapi juga belajar berbagai keterampilan—mulai dari urban farming, pelatihan membuat roti, hingga layanan salon kecantikan.

Baginya, kegiatan-kegiatan itu bukan sekadar aktivitas pengisi waktu. “Kalau sudah memiliki ilmu dan keterampilan, nanti di luar bisa menjadi entrepreneur,” katanya memberi semangat. Pesan itu sederhana, tetapi terasa kuat: masa depan tidak berhenti di balik tembok lapas.

Di sisi lain, Agustina juga menaruh perhatian pada para petugas yang bekerja di lapas. Menurutnya, tugas mereka tidak hanya menjaga keamanan atau menjalankan prosedur administratif.

Ada sisi kemanusiaan yang sering kali tidak terlihat. “Tantangan bagi para petugas seringkali adalah menjadi tempat berbagi cerita dan sandaran bagi mereka yang sedang rapuh. Ini bukan sekadar menjalankan tugas sebagai pegawai, tetapi juga menjalankan peran kemanusiaan yang sangat mulia,” ujarnya.

Di antara para petugas yang mendampingi malam itu, Kepala Lapas Perempuan Bulu, Ade Agustina, menyambut baik kehadiran pemerintah kota. Baginya, dukungan dari luar lapas sangat penting untuk memperkuat proses pembinaan yang lebih humanis.

Ia menuturkan bahwa suasana kebersamaan dan toleransi terus dijaga di dalam lapas, agar para warga binaan tetap memiliki ruang untuk berkembang.

“Perlindungan terhadap perempuan dan anak menjadi hal yang sangat penting. Karena itu kami, baik warga binaan maupun pegawai, sangat membutuhkan dukungan dari pemerintah daerah agar dapat terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia,” ujarnya.

Malam Ramadan itu pun berjalan sederhana. Tidak ada protokol berlebihan, tidak ada jarak yang terlalu kaku. Hanya pertemuan manusia dengan manusia—yang sama-sama membawa harapan. Di balik dinding tinggi lapas, Ramadan mengingatkan satu hal yang sederhana: setiap orang selalu punya kesempatan untuk memulai lagi. st

Share This Article
Exit mobile version