Rekor MURI dan Hangatkan Sambut Ramadan di Demak

Wabup KH Muhammad Badruddin bersama istri Hj Mujiyatun Badruddin saat memukul beduk menandai dimulainya Festival Megengan dan Kirab Budaya Kota Wali 2026 gelaran Dinas Pariwisata Kabupaten Demak. Foto : sari jati

DEMAK (Jatengdaily.com)– Tradisi Megengan kembali menghangatkan suasana menjelang Ramadan 1447 Hijriah di Kota Wali. Ribuan warga memadati kawasan Pendopo Kabupaten Demak untuk mengikuti rangkaian acara yang sarat makna budaya dan spiritual. Tak hanya meriah, perhelatan tahun ini juga mencatatkan rekor 10.000 tusuk sate keong dari Museum Rekor Indonesia (MURI).

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Demak, Endah Cahya Rini, menyampaikan bahwa Megengan bukan sekadar agenda tahunan. “Megengan yang kita gelar hari ini adalah sebentuk sematan kearifan simbolik nenek moyang kita memaknai datangnya bulan Ramadan.

Bulan yang penuh makna, penuh berkah, karenanya kedatangannya disambut penuh sukacita sebagai sesanti bersiap diri menjalani ibadah puasa,” ujarnya.

Menurut Endah, tradisi ini juga menyimpan makna batin yang mendalam. “Dinas Pariwisata tidak pernah lelah untuk terus merawat khazanah luhur yang diwariskan nenek moyang kita. Ini bagian dari ikhtiar mikul dhuwur mendhem jero,” katanya.

Ia menambahkan, Megengan dikemas selaras dengan dinamika zaman tanpa meninggalkan nilai keluhurannya, terinspirasi semangat tembang ilir-ilir karya Sunan Kalijaga. Menurut Endah, kebanggaan semakin terasa ketika Megengan tahun ini mendapat apresiasi dari MURI.

Penghitungan 10.000 tusuk sate keong dilakukan pukul 11.00 WIB di Pendopo. “Semoga rekor ini tidak hanya tercatat di MURI, namun juga mendunia. Sate keong ini nantinya akan dibagikan kepada masyarakat agar bisa ikut menikmati,” ungkap Endah.

Rangkaian acara berlanjut dengan kirab budaya yang megah. Arak-arakan kembang manggar, pembawa sate keong, rebana Kota Wali, tongtek, parade artefak hingga barongan mengiringi rombongan Bupati, Wakil Bupati dan Forkopimda. Warga juga disuguhi fashion show muslim wear dari Naja The Labels yang diperagakan Paguyuban Mas dan Mbak Demak, serta tari kolosal “Suko-Suko Megengan” yang melibatkan sekitar 150 penari lintas usia.

Wakil Bupati Demak, KH Muhammad Badruddin, menegaskan bahwa Megengan bukan hanya seremoni budaya. “Kegiatan ini tidak hanya seremonial. Megengan menjadi momentum untuk Megeng hawa nafsu, membersihkan hati, mempererat silaturahmi, saling memaafkan serta menumbuhkan kepedulian sosial sebelum memasuki bulan suci Ramadan,” katanya.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan dan kondusivitas selama Ramadan.

“Kepada para pedagang dan masyarakat, mari jaga kebersihan arena Megengan. Satu sampah sejuta masalah. Letakkan sampah pada tempatnya. Kebersihan sebagian dari iman,” pesannya. Menutup sambutannya, ia mengajak masyarakat memakmurkan masjid dengan tarawih dan tadarus serta menjaga semangat persaudaraan agar keberkahan Ramadan benar-benar dapat diraih bersama.rie-she

Share This Article
Exit mobile version