Riset IPB Jadi Harapan Baru Petani Lawan Penyakit ‘Janda Pirang’

Tim IPB saat panen bawang merah hasil inovasi hayati 'Janda Pirang' di Desa Pasir Mijen Demak. Foto : sari jati

DEMAK (Jatengdaily.com)– Pemerintah Kabupaten Demak menaruh harapan besar terhadap riset yang dilakukan Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk mengatasi penyakit Janda Pirang yang selama beberapa tahun terakhir menghantui petani bawang merah. Penelitian yang dipusatkan di Desa Pasir, Kecamatan Mijen, itu diyakini mampu menjadi solusi ilmiah guna meningkatkan kembali produktivitas salah satu komoditas unggulan Kabupaten Demak.

Sekretaris Daerah Kabupaten Demak, H. Akhmad Sugiharto, menegaskan, Pemkab Demak menyambut baik keterlibatan IPB dalam melakukan penelitian terhadap berbagai penyakit yang menyerang tanaman bawang merah. Menurutnya, sinergi antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi menjadi langkah strategis untuk memperkuat sektor pertanian berbasis inovasi.

“Kami menyambut baik kehadiran IPB di Desa Pasir untuk meneliti berbagai penyakit pada tanaman bawang merah, khususnya penyakit Janda Pirang. Kami berharap semakin banyak perguruan tinggi yang ikut terlibat dalam penelitian demi kemajuan sektor pertanian di Kabupaten Demak,” ujar Akhmad Sugiharto usai menghadiri Program Inovasi Pertanian Bawang Merah dan Safari Klinik Tanaman IPB di Desa Pasir, Minggu (02/08/2026).

Sugiharto menjelaskan, kerja sama tersebut tidak diarahkan pada pengelolaan lahan dalam skala tertentu, melainkan fokus mencari penyebab munculnya penyakit sekaligus menemukan teknologi pengendalian yang efektif. Apabila hasil penelitian berhasil diterapkan secara luas, serangan penyakit dapat ditekan sehingga produktivitas bawang merah di Desa Pasir maupun wilayah sentra lainnya di Kabupaten Demak kembali meningkat.

Berdasarkan pemaparan tim peneliti IPB, lanjut Sugiharto, teknologi yang sedang dikembangkan memiliki potensi menekan kerusakan tanaman akibat penyakit Janda Pirang hingga 50–60 persen. Pemerintah daerah berharap inovasi tersebut dapat segera diadopsi para petani agar manfaatnya bisa dirasakan secara nyata di lapangan.

“Keberhasilan program ini membutuhkan kolaborasi semua pihak. Akademisi, pemerintah, pelaku usaha, masyarakat, hingga media harus berjalan bersama agar inovasi pertanian dapat diterapkan lebih cepat dan memberi manfaat bagi petani,” tambahnya.

Selain mendukung riset, Pemkab Demak juga terus memperkuat pembangunan infrastruktur pertanian melalui peningkatan jalan usaha tani dan jaringan irigasi. Upaya tersebut dilakukan agar biaya produksi petani dapat ditekan, distribusi hasil panen semakin lancar, dan daya saing sektor pertanian Demak terus meningkat.

Sementara itu, Dekan Fakultas Pertanian IPB sekaligus inovator program, Prof. Suryo Wiyono, menjelaskan bahwa pihaknya meresmikan Kampung Inovasi Bawang Merah di Desa Pasir sebagai pusat penerapan teknologi pengendalian penyakit Janda Pirang. Teknologi hayati berbasis mikroba yang dikembangkan menunjukkan hasil awal yang menjanjikan, yakni mampu menekan serangan penyakit sekitar 55 persen dan berpotensi meningkatkan produktivitas hingga 60 persen.

Di sisi lain, Ketua Gapoktan Karya Makmur Desa Pasir, Sukron, berharap hasil riset tersebut segera diterapkan secara luas mengingat penyakit Janda Pirang telah menyebabkan produktivitas bawang merah turun drastis dan menimbulkan kerugian besar bagi petani dengan biaya budidaya yang mencapai sekitar Rp120 juta per hektare. Versi ini lebih menempatkan peran dan pernyataan Sekda sebagai fokus utama, sementara keterangan IPB dan petani menjadi penguat berita.rie-she

Share This Article
Exit mobile version