Salah Kaprah soal Bulan Sura

8 Min Read

Antara Tradisi, Iman, dan Seni Menghadapi Masalah

Oleh: KH Anis Maftukhin

ADA yang lucu—sekaligus bikin geleng-geleng kepala—dari cara kita memperlakukan bulan pertama tahun Hijriyah ini. Muharram, atau lidah Jawa menyebutnya Wulan Suro, adalah bulan yang secara resmi dicap Nabi Muhammad SAW sebagai Syahrullah.

Bulannya Allah. Bukan bulan setan. Bukan bulan sial. Apalagi bulan yang harus dihindari bak ketemu debt collector, atau mas-mas bank “plecit”. Tapi Bulan Allah—dengan segala kemuliaan full senyum di baliknya.

Kenyataannya? Di banyak sudut kampung dan desa, bulan ini justru disambut parno (paranoid, maksudnya) berjamaah. Nikah ditunda. Hajatan digeser bulannya. Pindah rumah pantang. Dan mitos paling epik yang viral—dari mulut ke mulut sampai ke grup WA keluarga—adalah Suro itu bawa apes, malapetaka, dan bencana.

Ini bukan kearifan lokal. Ini murni hoaks zaman baheula yang kita wariskan turun-temurun, lalu dibungkus kembang setaman biar kelihatan seperti dawuh sakti leluhur.

Ketika Sakral di salah baca
Biar adil, kita perlu melacak dari mana ‘klenik’ ini bermula.

Sejatinya, tradisi Jawa menyambut Suro itu sangat spiritual dan elegan. Tidak ada hura-hura. Apalagi bakar petasan. Masyarakat Jawa—khususnya keraton Solo—menyambutnya dengan Kirab Pusaka, Mubeng Beteng, dan Tapa Bisu. Jalan keliling benteng tanpa ngomong sepatah kata pun. Semacam diet bicara di hadapan Yang Maha Kuasa.

Ada juga Jamasan Pusaka—mencuci keris peninggalan. Ingat, mencuci benda, bukan mencuci uang negara. Ada Kungkum, berendam tengah malam di pertemuan dua sungai buat tirakat. Ada Macapatan. Lalu ditutup makan Bubur Suro dan tumpeng bareng-bareng.

Semuanya laku prihatin. Laku merapat ke Tuhan. Laku menggosok daki-daki dosa yang menumpuk setahun lalu.

Di sisi lain, tradisi keislaman—khususnya warga NU—punya ritus yang nyaris kembar. Sebelum Maghrib kumpul di langgar baca doa akhir tahun. Maghrib berlalu, lanjut doa awal tahun. Ada shalat tasbih.

Malamnya berlanjut shalat taubat. Kalau mbah kiai yang mimpin, energinya bisa tahan sampai subuh.

Bahkan kitab Kanzun Naja was Surur merinci 12 amalan: puasa Asyura, shalat sunnah, elus kepala anak yatim, sedekah, sampai baca Al-Ikhlas seribu kali. Ujungnya satu: caper ke Gusti Allah.

Inilah cantiknya titik temu tradisi Jawa dan Islam. Dua-duanya kompak menjadikan Suro sebagai bulan introspeksi. Bukan bulan pesta. Apalagi bulan uji nyali horor.

Masalahnya muncul saat makna sakral itu keserempet distorsi sejarah. “Bulan istimewa beribadah” diplintir jadi “bulan bahaya beraktivitas”. Kesakralan berubah jadi ketakutan ala film Suzanna. Maka lahirlah mitos: Suro bulan celaka.

Padahal nol besar. Tidak ada satu pun hadis sahih, tak ada sepotong ayat Quran, dan tak ada ulama betulan yang memfatwakan Suro bawa sial. Yang ada justru sebaliknya.

Laut yang Pernah Terbelah
Mari duduk sebentar. Kita baca sejarah pakai kacamata bening.
Tanggal 10 Muharram—alias Asyura—jadi panggung peristiwa paling epik sejagat: Nabi Musa jalan santai di dasar laut yang membelah, sementara Firaun dan seluruh pasukan tempurnya nyungsep tenggelam.

Ini bukan skrip Hollywood. Ini tercatat di Al-Quran. Konteks aslinya sungguh ngeri-ngeri sedap.

Bayangkan. Bani Israil itu bangsa budak turun-temurun di Mesir. Lalu Musa datang: “Ayo kabur!”. Mereka eksodus malam-malam, bawa lansia, bocah, dan kambing yang berisik.

Fajar tiba, alarm bahaya bunyi: Firaun ngegas mengejar! Bawa pasukan elite, kereta tempur keluaran terbaru zaman itu. Di depan Bani Israil? Laut Merah mentok. Enggak ada jembatan penyeberangan, apalagi pintu tol.

Mereka teriak panik berjamaah: “Wah, kelar hidup kita disusul Firaun!” Wajar. Secara matematis, kalkulasinya memang wassalam.
Tapi Musa kalem. Tingkat dewa. Dengan pedenya dia menangkis kepanikan itu: “Enggak mungkin. Ada Tuhanku. Dia pasti kasih GPS jalan keluar.”

Maka terjadilah keajaiban blockbuster itu. Laut minggir. Dua dinding air raksasa berdiri ngejreng. Bani Israil nyebrang di aspal kering. Firaun sok-sokan ikut ngejar—eh, airnya ditutup lagi. Tamatlah riwayat sang tuhan jadi-jadian.

Hari itu—10 Muharram—adalah hari si lemah menang lawan si sombong. Hari mukjizat cair bukan karena manusia punya bekingan kuat, tapi karena manusia punya iman.

Lha, dari angle mana ceritanya bulan kemenangan segokil ini kok malah dicap bulan apes?

Pola yang Berulang
Yang perlu kita catat dari Musa bukan cuma urusan teknis laut kebelah. Tapi polanya.
Al-Quran menyebut momen begini sebagai Ayyamullah—Hari-hari Allah. Yakni saat keajaiban turun justru ketika otak logis manusia sudah pasrah mentok.

Pola ini di-copypaste sejarah. Ratusan tahun setelah Musa, Nabi Muhammad SAW sembunyi di Gua Tsur. Di luar, algojo bayaran Quraisy siap nebas. Abu Bakar pucat pasi. Tapi Nabi rileks bilang: “Jangan panik, bestie. Allah bareng kita.”

Dua nabi. Dua kondisi yang kalau dihitung pakai kalkulator kasir sudah pasti game over. Tapi formulanya sama: iman yang tahan banting lawan data lapangan.

Kisah ini diwariskan bukan sekadar untuk jadi arsip museum. Ia adalah DNA rohani. Buat dipasang di mindset saat kita dikepung krisis.

Optimisme yang Berakar
Zaman kita sekarang juga bikin pusing. Harga terbang. Lowongan kerja tiarap. Kasus korupsi pejabat dikupas makin bikin mual. Kelas menengah diajak senam jantung tiap hari. Negara bukannya kasih kabar baik, eh malah rajin nyodorin slip iuran baru. Anda sudah tahu.

“Laut” mentok kita masing-masing memang beda wujudnya. Tapi rasa mules perasaannya persis sama: buntu.

Di sinilah Muharram hadir bawa obat. Ia menawarkan restart cara pandang.
Puasa Asyura di tanggal 9 dan 10 janjinya ngeri: hapus dosa setahun! Ini bukan sekadar ritual nahan lapar. Ini deklarasi bahwa database dosa masa lalu bisa di-reset. Masa depan masih open order. Tuhan selalu sedia jalan bagi yang mau bangun dan melangkah.
Optimisme Suro itu bukan pura-pura buta. Musa juga nggak merem—dia lihat laut mentok dan tentara musuh. Tapi dia menolak pasrah pada kenyataan pahit.

Itu iman produktif: nggak nyangkal masalah, nggak toxic positivity, tapi emoh menyerah pada narasi keputusasaan.

Malam 1 Muharram bukan sekadar ganti kalender. Ia undangan VIP dari Tuhan untuk comeback. Bersih-bersih. Mulai lembaran baru. Di titik ini, Jawa dan Islam nyata-nyata sefrekuensi: Suro itu bulan merapat, bukan bulan merinding ketakutan.

Maka, berhenti nanya “Suro aman nggak buat mantu?”. Ganti pertanyaannya: “Daki mana lagi yang harus saya sikat sebelum masuk tahun baru?”

Mari berdiri di tepi laut kita masing-masing. Percayalah, air yang rumusnya selalu turun ke bawah itu—kalau Bos Besar sudah ngasih komando—bisa disuruh berdiri tegak.

Selamat ber-Muharram-ria, Sampai bersua lagi dengan bulan Suro tahun depan dengan ekonomi yang membaik, pangkat yang sudah naik, dan kualitas ibadah yang lebih laik.
Tabik,

Penulis adalah Pengasuh Pondok Pesantren Wali, Tuntang Kab Semarang. Jatengdaily.com-St

Share This Article
Exit mobile version