SEMARANG (Jatengdaily.com)– Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) menyelenggarakan Masa Ta’aruf (Masta) bagi mahasiswa baru Tahun Akademik 2026/2027, dalam agenda Rapat Terbuka Senat. Kegiatan yang menjadi bagian dari pengenalan kehidupan perguruan tinggi bagi mahasiswa baru tersebut dimulai Senin (7/9/2026) dan berlangsung selama sepekan.
Rektor Unimus Prof. Dr. Masrukhi, M.Pd. mengatakan, hingga saat ini jumlah mahasiswa baru yang diterima mencapai 4.757 orang. Jumlah tersebut merupakan mahasiswa program reguler dan belum termasuk peserta Pendidikan Profesi Guru (PPG).
Menurutnya, jumlah mahasiswa baru masih berpotensi bertambah karena proses pendaftaran masih dibuka hingga pertengahan September 2026.
“Alhamdulillah, kepercayaan masyarakat kepada Unimus semakin baik. Perolehan mahasiswa baru Tahun Akademik 2026/2027 ini telah melebihi target yang kami tetapkan,” kata Prof. Masrukhi.
Dari total 4.757 mahasiswa baru tersebut, sebanyak 25 mahasiswa merupakan mahasiswa asing yang berasal dari 12 negara. Mereka antara lain berasal dari Pakistan, Tanzania, Timor Leste, Thailand, dan sejumlah negara lainnya.

Selain itu, Unimus menerima empat mahasiswa penyandang disabilitas. Mereka turut mengikuti seluruh rangkaian Masa Ta’aruf dengan pendampingan dari para relawan.
Prof. Masrukhi mengatakan, mahasiswa baru Unimus tahun ini berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Persebarannya membentang dari Aceh hingga Papua.
Karena itu, Unimus berkomitmen menciptakan lingkungan kampus yang nyaman, aman, dan ramah bagi seluruh mahasiswa tanpa diskriminasi maupun kekerasan.
“Kami ingin menciptakan Universitas Muhammadiyah Semarang sebagai kampus yang menyenangkan untuk semua. Mahasiswa harus bisa belajar dengan nyaman, tanpa diskriminasi dan tanpa kekerasan,” ujarnya.
Melalui Masa Ta’aruf, mahasiswa baru diperkenalkan dengan kehidupan perguruan tinggi sekaligus berbagai nilai yang menjadi bagian dari proses pendidikan di Unimus.
Menurut Prof. Masrukhi, pendidikan tinggi tidak hanya diarahkan untuk mengembangkan kemampuan intelektual mahasiswa, tetapi juga seluruh potensi yang dimiliki, termasuk hati nurani, seni, dan kemampuan fisik.
“Pengembangan mahasiswa tidak hanya melalui olah pikir, tetapi juga olah rasa dan olahraga. Semua potensi mahasiswa harus dapat berkembang secara maksimal,” katanya.
Dalam rangkaian Masa Ta’aruf tahun ini, Unimus menghadirkan sejumlah tokoh nasional dan daerah untuk memberikan wawasan kepada mahasiswa baru. Kehadiran para tokoh tersebut diharapkan dapat membantu mahasiswa beradaptasi dari kehidupan sekolah menuju lingkungan perguruan tinggi.
Mahasiswa juga didorong untuk mulai berpikir secara global dan kritis serta memahami berbagai dinamika yang berkembang di masyarakat.
Sejumlah tokoh yang dijadwalkan hadir berasal dari berbagai unsur, mulai dari tokoh nasional, kementerian, pemerintah daerah, hingga aparat keamanan.
Pada Tahun Akademik 2026/2027, Unimus juga membuka 10 program studi baru yang mendapat respons positif dari masyarakat. Seluruh kuota mahasiswa baru pada program studi tersebut disebut telah terpenuhi.
Salah satu program studi yang paling diminati adalah Fisioterapi. Saat ini, jumlah mahasiswa baru yang diterima pada program studi tersebut mencapai sekitar 73 mahasiswa dalam satu kelas.
Secara keseluruhan, Unimus kini memiliki 48 program studi. Kampus tersebut masih membuka kesempatan pendaftaran mahasiswa baru hingga 15 September 2026 sebagai bagian dari upaya memberikan akses pendidikan tinggi kepada masyarakat.
Sementara itu, pelaksanaan Masa Ta’aruf tahun ini memadukan kegiatan luring dan daring. Selama sepekan, mahasiswa baru mengikuti berbagai kegiatan yang telah dibagi dalam sejumlah sesi.
Migran Center
Wakil Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia, Dzulfikar Ahmad Tawalla, S.Pd., M.I.Kom di sela memberi motivasi kepada mahasiswa baru mengatakan, Unimus dan Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) dalam waktu dekat akan menyepakati kerja sama pembentukan Migrant Center di lingkungan kampus.
Rencana tersebut pun mendapat sambutan positif dari Rektor Unimus yang menyatakan kesiapan kampus untuk mendukung dan merealisasikan kerja sama tersebut.
“Kami merencanakan berdirinya sebuah Migrant Center. Kami berharap Migrant Center ini menjadi bagian yang terintegrasi dari Career Development Center yang dimiliki Unimus,” ujar Dzulfikar.
Menurutnya, Migrant Center nantinya dapat menjadi salah satu alternatif bagi lulusan Unimus maupun masyarakat umum yang ingin melanjutkan karier dengan bekerja di luar negeri. Keberadaan pusat tersebut juga diharapkan mampu menjembatani kesenjangan antara kebutuhan dunia kerja dengan kompetensi yang dimiliki lulusan lembaga pendidikan.
“Salah satu kendala kita dalam dunia kerja adalah adanya gap antara yang dibutuhkan dunia kerja dengan yang kemudian mampu disediakan oleh lembaga-lembaga pendidikan,” katanya.
Melalui Migrant Center, kebutuhan tenaga kerja di luar negeri diharapkan dapat dipertemukan dengan sumber daya manusia yang dipersiapkan oleh perguruan tinggi. Pemerintah melalui KP2MI juga akan membantu memberikan informasi mengenai kebutuhan pasar kerja luar negeri sehingga kampus dapat menyesuaikan pengembangan kompetensi dan kurikulumnya.
“Dari pihak kampus kami berharap bisa menyiapkan tenaga kerja sesuai kebutuhan. Dari kementerian, tentu kami akan menyuplai market atau kebutuhan tenaga kerja yang tersedia di luar negeri. Secara organik juga bisa dilakukan oleh kampus dan kurikulumnya bisa kita dampingi,” jelasnya.
Dzulfikar juga mengapresiasi Unimus yang dinilainya konsisten menghadirkan berbagai inovasi. Menurutnya, inovasi tersebut tidak hanya terlihat dalam kegiatan penerimaan mahasiswa baru, tetapi juga dari fasilitas penunjang pembelajaran yang dinilai telah menjawab kebutuhan masa depan.
“Saya melihat salah satu yang konsisten dilakukan Unimus dalam setiap penerimaan mahasiswa baru selalu melahirkan sesuatu yang sangat inovatif. Kami berharap ini konsisten terus-menerus dilakukan ke depannya,” ujarnya.
Ia menilai peluang kerja bagi tenaga profesional Indonesia di luar negeri cukup besar. Salah satunya berasal dari sektor kesehatan, dengan kebutuhan tenaga kerja dari sejumlah negara di Eropa dan kawasan Timur Tengah yang diperkirakan mencapai sekitar 100 ribu orang.
Peluang tersebut, lanjut Dzulfikar, diharapkan dapat dimanfaatkan alumni Unimus maupun masyarakat sekitar melalui Migrant Center.
“Kita berharap nanti dari alumni atau dari masyarakat sekitar itu bisa mengisi peluang-peluang ini melalui Migrant Center yang ada di Unimus,” katanya.
Rencana pembentukan Migrant Center tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas akses informasi dan kesempatan kerja internasional bagi lulusan perguruan tinggi. Dengan adanya kolaborasi antara Unimus dan KP2MI, calon pekerja migran diharapkan dapat memperoleh pembekalan yang lebih terarah, mulai dari informasi kebutuhan pasar kerja, peningkatan kompetensi, hingga persiapan untuk bekerja di luar negeri. Kerja sama tersebut ditargetkan dapat segera disepakati dan direalisasikan dalam waktu dekat. she