“Sekolah Kehidupan” di Balik Jeruji: Cara Warga Binaan LPP Semarang Merajut Harapan Sebelum Bebas

Tim ini menggali kisah dari 10 warga binaan melalui wawancara mendalam. ​Hasilnya menunjukkan bahwa pembinaan di dalam lapas telah bergeser fungsi: dari sekadar tempat menjalani hukuman menjadi ruang tumbuh yang humanis.

SEMARANG (Jatengdaily.com) -​Mendekati masa pembebasan, dinding-dinding Lembaga Pemasyarakatan Perempuan (LPP) Kelas IIA Semarang tidak lagi dirasa sesak oleh penyesalan.

Bagi para perempuan warga binaan, hari-hari menuju kebebasan kini menjadi momen penting untuk merajut kembali harapan, mengukir identitas baru, dan menemukan tujuan hidup yang sempat hilang.

​Dinamika emosional dan proses penerimaan diri ini terungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Tim PKM-RSH Universitas Negeri Semarang (UNNES) sepanjang tahun 2026. Dipimpin oleh Shafa Azzahrah Waluyo bersama rekannya—Jenyes Intan Sururoh, Tri Lutfi Tasdiqu Zaman, Putri Noorfia Khairunnisaa, dan Muhammad Khansa Al Aflah—serta didampingi dosen Achmad Miftachul ‘Ilmi, M.Pd.

Tim ini menggali kisah dari 10 warga binaan melalui wawancara mendalam. ​Hasilnya menunjukkan bahwa pembinaan di dalam lapas telah bergeser fungsi: dari sekadar tempat menjalani hukuman menjadi ruang tumbuh yang humanis.

Ragam aktivitas produktif seperti membatik, menjahit, memasak, bertani, hingga mengajar terbukti membangkitkan rasa percaya diri mereka.

​“Setelah aku masuk, aku malah bisa batik, jadi petani, dan ikut dekor. Jadi dapat kemampuan yang sebelumnya enggak aku punya,” tutur salah seorang warga binaan.

​Bagi mereka, ikatan keluarga dan spiritualitas menjadi jangkar utama untuk bertahan. Dukungan dari anak, pasangan, serta orang tua—dipadukan dengan aktivitas keagamaan yang rutin—membuat mereka berani memaafkan masa lalu.

Saking dalamnya transformasi yang dirasakan, salah satu partisipan bahkan menyebut masa pembinaannya sebagai sebuah “sekolah kehidupan” yang mengajarkan kesabaran, rasa syukur, dan arti penting keluarga.

Menjelang hari pembebasan, ketidakpastian masa depan berganti menjadi rencana yang konkret.

Para warga binaan kini bersiap melangkah keluar dengan kepala tegak: ada yang ingin kembali mendampingi keluarga, bekerja, hingga membuka usaha berbekal keterampilan yang didapat di lapas.

​Penelitian ini turut mendukung pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDG 5 (Kesetaraan Gender), SDG 10 (Berkurangnya Kesenjangan), dan SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh).

Temuan ini menjadi bukti kuat bahwa sistem pemasyarakatan yang berhasil adalah yang memanusiakan manusia—tidak hanya membekali tangan dengan keterampilan, tetapi juga menguatkan jiwa untuk kembali bersinar di tengah masyarakat. Penulis Putri Noorfia Khairunnisaa dan tim

Share This Article
Exit mobile version